Menggali Pemimpin Transformatif 2014

KEPEMIPINAN transformatif didefinisikan sebagai kepemimpinan di mana para pemimpin menggunakan karisma mereka untuk melakukan transformasi dan merevitalisasi orga-nisasinya (Gerald Greenberg dan Robert A Baron, Behavior in Organization, Ohio State University, 2003).

Akan tetapi, kepemimpinan transformatif berbeda dengan kepemimpinan karismatik. Soekarno dan Soeharto boleh jadi memiliki karisma yang luar biasa sehingga dapat memengaruhi pengikut-pengikutnya untuk melakukan s e g a l a sesuatu yang mereka inginkan.

Di pihak lain, para pemimpin yang transformatif lebih mementingkan revitalisasi para pengikut dan organisasinya secara menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-instruksi yang bersifat top down. Pemimpin yang transformatif lebih memosisikan diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para bawahannya.

Pemimpin yang transformatif lebih menekankan pada bagaimana merevitalisasi institusinya, baik dalam level organisasi maupun negara. Secara lebih detail, para pemimpin yang transformatif memiliki ciri-ciri berikut.

Pertama,seperti yang disebutkan di atas, mereka memiliki karisma yang dapat menghadirkan sebuah visi yang kuat dan memiliki kepekaan terhadap misi kelembagaannya.Ini berarti setiap gerak dan aktivitasnya senantiasa disesuaikan dengan visi dan misi organisasinya. Inilah yang dijadikan sebagai acuan untuk tetap konsisten dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakannya.

Kedua, mereka senantiasa menghadirkan stimulasi intelektual. Artinya, mereka selalu membantu dan mendorong para pengikutnya untuk mengenali ragam persoalan dan cara-cara untuk memecahkannya.

Ini berarti para pengikutnya diberi kesempatan untuk berpartisipasi mengidentifikasi persoalan dan secara bersama- sama mencari cara penyelesaian yang terbaik. Dalam karakteristik ini, pemimpin transformatif lebih banyak mendengar ketimbang memberikan instruksi.

Ketiga, pemimpin yang transformatif memiliki perhatian dan kepedulian terhadap setiap individu pengikutnya. Mereka memberikan dorongan, perhatian, dukungan kepada pengikutnya untuk melakukan hal yang terbaik bagi dirinya sendiri dan komunitasnya. Keempat, pemimpin transformatif senantiasa memberikan motivasi yang memberikan inspirasi bagi pengikutnya dengan cara melakukan komunikasi secara efektif dengan menggunakan simbol-simbol, tidak hanya menggunakan bahasa verbal.

Kelima, mereka berupaya meningkatkan kapasitas para pengikutnya agar bisa mandiri, tidak selamanya tergantung pada sang pemimpin. Ini berarti pemimpin transformatif menyadari pentingnya proses kaderisasi dalam transformasi kepemimpinan berikutnya. Ini berbeda dengan model kepemimpinan karismatik yang memosisikan para pengikutnya tetap lemah dan tergantung pada dirinya tanpa memikirkan peningkatan kapasitas dari para pengikutnya.

Keenam, para pemimpin transformatif lebih banyak memberikan contoh ketimbang banyak berbicara. Artinya, ada sisi keteladanan yang dihadirkan kepada para pengikutnya dengan lebih banyak bekerja ketimbang banyak berpidato yang berapi-api tanpa disertai tindakan yang konkret.

Dalam perspektif kepemimpinan transformatif tadi, sekat yang membatasi antara peran kaum muda dan golongan tua sejatinya justru menjadi jembatan dalam melakukan proses transformasi kepemimpinan. Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada kutub perbedaan cara pandang antara kaum muda versus kaum tua,antara prokemapanan versus properubahan.

Persoalan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana membangun mekanisme dan sistem transformasi kepemimpinan. Hal itu hanya bisa berjalan jika ada visi dan konsistensi yang kuat dalam jiwa seorang pemimpin. Dan, itu bukan monopoli kaum tua atau kaum muda saja.

Sejarah tidaklah berhenti pada satu noktah generasi. Sejarah akan terus menghadirkan tokoh dan pemimpinnya. Sejarah pula yang akan membuktikan apakah seorang pemimpin akan tercatat dengan tinta emas atau tinta hitam penuh bercak. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berhasil melahirkan pemimpin yang melebihi kemampuannya.(*)

Problematika seleksi kepemimpinan

Dari paparan kelima ciri pemipin transformatif adalah didasari dengan spirit perubahan, saya meringkas dari ciri diatas, ada esensi yang paling mendasar, yaitu pemipin yang memounyai konsistensi mewujudkan keadilan sisoal bagi masyarakatnya. Keadilan sosial itu akan terwujud bila mana pemimpian secara institusi mampu menghasilkan kebijakan sosial yang merepresentasikan segala isu-isu bersama, dengan perundang-undangan. Dan kebijakan sosial akan terlahir bila mana pemimpin mampu menyerap segala keluh masyarakat.

Lahirnya kebijakan pemerintah sekarang yang sering kali dirasa tidak berpihak pada masyarakat, dan banyaknya oposisi politik yang tidak jarang mengganggu kesetabilan roda pemerintahan, sudah menjadi bukti betapa sulitnya kita menemukan pemimpin yang transformatif tentunya yang juga mempunyai harisma. Terlepas dengan konsep demokrasi, karena demokrasi bukanlah konsep untuk meluluhkan harisma pemimpin.

Munculnya Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto yang kesemuanya berusia 60 tahun keatas, salah satu indikasi bahwa inilah pentas drama politik nasional kaum kemapanan aka berahir, dengan kata lain akan munculnya ring selanjutnya. Tentu harapan kita muncul pemimpin yang mempunyai spririt perubahan, energik, inovatif, mandiri dan berharisma (mampu menggiring masa dengan gagasannya). Dan karakter seperti itu sejatinya ada dikalangan muda.

Bisa jadi pemilu 2014 akan diisi kaum muda, telah muncul intelektual dan politisi muda dinegeri kita, seperti politisi muda parta golkar Yudy Crisnandi, Budiman Sudjatmiko (PDIP), Annas Urbaningrum (PD), Pamono Anum (PDIP), Muhaimin Iskandar (ketua umum DPP PKB), Tifatul Sembiring (Presiden PKS), bahkan ada juga tokoh independent yang fenomenal seperti Fajrur Rahman.

Namun, mampukah itu terwujud dengan liberlnya demokrasi sekarang…?, karena masih banyak tokoh tua yang akan membeli demokrasi ini, tokoh “karbit” yang selalu membawa kebesaran keluarganya, tokoh Agama yang selalu menjual umatnya, dan tokoh-tokoh lain yang tentu akan gerah jika bangsa ini dibawa kearah yang jelas. Belum cukup disitu, mereka akan berhadapan dengan warisan kaum tua yang menjadikan masyarakat kita pragmatis.

Sebenarnya masih banyak cara lain untuk mewujudkan pemimpin transformatif di 2014, terutama kaum pegiat bangsa yang masih mempunyai semangat idealisme. Yaitu gerakan yang tersusun dengan apik. Saya memfokuskan pada kalangan intelektual. Komunitas ini tidak akan bergerak sendiri, mereka pada umumnya mempunyai komunitas, seperti Perguruan Tinggi, OKP, LSM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s