Refleksi Sejarah Pemuda Dalam Membangun Bangsa

  1. Kiprah Pemuda Dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa

Indonesia.

Keberadaan pemuda tidak bisa dilepaskan dalam konteks kebgangsaan, karena pemuda adalah kaum yang menjadi tumpuan bangsa dari semua kalangan. Terpelajar, terididik, tertanam mental, energik, berwawasan, penuh dengan gagasan, dan semangat akan perubahn kearah yang lebih maju. Fakta sejarahlah yang menjadi tolak ukur vitalnya mahasiswa dalam pergerakan dan perjuangan, saat-saat kritis bangsa kita ditengah pejajahan secara fisik, ternyata kaum terpelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikannya secara psikis.

Setiap perkembangan bangsa fase kemajuan peradaban itu pastilah ada ”gelora darah muda ” yang mempeloporimya. Dimulai Indonesia sebelum berbentuk negara,  yaitu dengan menganut kerajaan, sudah ada sosok pemuda yang mengisi ruang kepemimpinan pemabaharuan, seperti Hayam Wuruk, raja Maja Pahit yang baru berusia 16 tahun. Dibawah kepemimpinannya hampir semua kerajaan bersatu saat itu bangsa Indonesia dikenal dengan sebutan Nusantara atau sebutan jawanya Nuswantoro.

Fase berikutnya saat bangsa Indonesia mengalami penjajahan kolonialisme Belanda, pemuda yang merasa sakit, gelisah, dan terbakar semangatnya terhadap penjajahan Belanda pada rakyat Indonesia kembali tampil dalam ruang – ruang pembelaan bangsa. Pangeran Dipenogoro misalnya, ia menolak tawaran tahta mataram yang diberkan kepadanya, namun dia lebih memilih mengangkat senjata, berperang dengan segala yang dia miliki dengan pola gerilyanya. Meski perang tersebut yang brkecamuk pada tahun 1925 hingga tahun 1930 itu gagal mengusir kolonial Belanda namun perang tersebut sangat merepotkan barisan Belanda, bahkan dianggap perang yang paling menghabiskan energi bala tentaranya. Betapa tidak, selain banyak menghabiskan kas negara, pasukan Belanda yang berada di wilayah Indonesia timur, seperti Aceh, Maluku dsb harus di boyong untuk berperang dengan Dipenogoro. Pun kekalahan itu dipenogoro itu karena licik dan prustasinya Belanda dengan menculik Dipenogoro saat mereka sedang melakukan perundingan…!!. Maka kemerdekaan Indonesia yang hingga saat ini kita rasakan bukanlah pemberian dari pihak asing, terlebih lagi pemberian penjajah belanda. Namun itu merupakan usaha bersama penduduk Indonesia dengan segala semangat dan kemampuannya, mengorbankan segala yang dimilkinya sekalipun itu nyawa.

Dalam konteks peradaban, pemuda mempunyai posisi yang setrategis, karena pemuda lepas dengan segala kepentingan pribadi terlebih asing dan kritis, dalam memperjuangkan peradaban. Terlebih pemuda terdidik (mahasiswa), sehingga gerakan pembaharuan pemuda mahasiswa sering kali disebut gerakan moral (moral force).

Dalam polemik politik bangsa pemuda sering kali berhadapan dengan generasi sebelumnya, sehingga sering kali berbenturan dengan perbedaan kepentingan. Pemuda di sebut revolusioner, dan golongan tua biasa disebut dengan kelompok yang konservatif, kolot dan pro status quo. Meski gerakan pemuda tidak sepenuhnya berjalan linear.

Sosiolog jerman Max Waber pernah mengatakan ” generasi kita tak begitu beruntung untuk mengetahui apakah perjuangannya kelak akan mendatangkan hasil (seperti yang dicapai generasi sebelumnya) dan apakah keturunan kita akan mengakui kita sebagai nenek moyang mereka. Kita tak akan menghapuskan kutukan yang terlontar krpada kita yang terlontar kepada kita sebgai pengekor dari suatu era politik besar, kecuali jika kita berhasil untuk menjadi sesuatu yang lain pendahulu dari zaman yang besar. Apakah ini yang akan terjadi dari tempat kita sejarah? Saya tak tahu dan hanya bisa mengatakan: adalah jika kalian jujur kepada diri sendiri dan kepada cita-citanya ”.

Dalam sejarah bangsa Indonesia pemuda mempunyai andil yang amat penting, yang dapat di bagi kedalam beberapa periode, setiap periode pemuda mempunyai ciri husus dibanding dengan kelompok di bawah dan diatas usianya yang mempunyai daya kreatif dan adaftif,serte memposisikan diri sebagai agents of change.

A. Pemuda Era Kebangkitan Nasional

Dalam fase perjuangan beriutnya, dunia kembali digehgerkan dengan gerakan pemuda Indonesia yang tidak henti-hentinya melawan penjajahan Belanda. Tentunya dalam fase ini sekelompok pemuda berusaha membaca peta lawan, dan gerakan pemuda sebelumnya. mereka mengubah pola gerakan yang sebelumnya cenderung sentralistik, karena pengaruh sistem kerajaan. Sekelompok pemuda Indonesia itu adalah mahasiswa STOVIA. Pejuangan yang sebelumnya selalu mengalami kegagalan itu rupanya membuat kesungguhan mereka mengadopsi semangat kaum muda yang berjuang pada fase perjuangan sebelumnya. Yaitu mereka mencoba membuka cakrawala pemikiran yang lebih terbuka, elegan, berstrategi pemikiran, dengan membentuk organisasi yang dinamakan Budi Utomo. Pada mulanya Budi Utomo terfokus pada organisasi yang berorientasi pendidikan, penanaman leadership dikalangan pemuda, namun seiring dengan nuansa zaman, organisasi itu berperan pada polemik politik antara kolonial dengan bangsanya. Organissasi itu dibentuk pada bulan mei 1908 yang hingga sekarang dijadikan hari yang paling monumental dalam konteks kebangkitan dan kepemudaan. Yang diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.

Kebesaran Budi Utomo bukan karena hanya belum adanya lembaga formal atau lembaga kepemudaan lainnya, namun Budi Utomo lahir sejak bangsa Indonesia tengah mengalami penderitaan besar-besaran dari penjajah, bukan hanya secara fisik, kolonial Belanda merauk secara besar-besaran hasil kekayaan. Dalam penjajahn psikis, belanda mengirimkan para sarjana dan tokoh agamanya untuk mengajarkan sikap kerendah dirian, lebih parah lagi mereka mengajarkan sikap semangat menyerah dikalangan rakyat. Penjajahn itu semakin memperparah keadaan SDM rakyat ditengah yang waktu itu hanya 7 persen saja rakyat yang bisa membaca dan menulis.

Pada masa itu pemuda mempunyai karakter yang berbeda dengan masa-masa berikutnya, seperti  di gambarkn Edwards Shils yang dikutip J.D Ladge menggambarkan kaum muda asia, termasuk didalamnya intelektual muda Indonesia, dalam konteks kebangsaan mereka mengambil gerakan nasionalisme dan revivalisme navistik (gerakan kebagkitan kembali kaum pribumi), serta rasa benci menghadapi kebudayaan metripolitan (negara penjajah), terdapat diseluruh Asia.  Hal serupa ditambahkan Muhamad Hata, kaum muda yang hidup di zaman pra kemerdekaan berbeda dengan pemuda yang hidup pada masa selanjtnya, bahkan berbeda dengan pemuda yang tinggal di negara-negara maju. Pemuda yang hidp dibawah penjajahan sering kali cepat dewasa dan sadar dengan posisi kritisnya.  Betapa tidak sejak usia mereka kanak-kanak, yang seharusnya mereka pergunakan untuk bermain, mereka sudah meliaht pemandangan penjajahan yang dialami pada keluarga mereka. Ditambah penjajahanpun masuk pada sekolah-sekolah, mereka mengajarkan pada siswa untuk mengagungkan tokoh-tokoh barat, seperti Mazzini, Garribaldi, Wilem Van Oranje, koan,  dan mereka harus melupakan totkoh pejuang Indonesia, seperti pangeran Dipenogoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar mereka di cap sebagai pemberontak, pengecut dan sebaginya. Sebab itulah pribadi pemuda dibentuk sendirinya.

B. Perintisan Integrasi Era Sumpah Pemuda

Setelah didirikannya organisasi Budi Utamo yang dengan era kebangkitannya itu, para pemuda yang dipelopori Muhamad Yamin dan Sunaryo Sastro Widoyo mengubah pola perjuangan bangsa Indonesia dari perlawanan fisik ke arah terbuka, sistematisir, diplomatif, dan dari pola kedaerahan kepola integrasi dengan mempersatukan pemuda dari berbagai wilayah Indinesia untuk hidup senasib sepenanggunga.

Gerakan pemuda mulai terangkat dipermukaan, sehingga pemerintah kolonoal Belanda membuat strategi dengan politik Devde Et Impera, yang bertujuan untuk memecah belah kekuatan politik pribumi, dan ini menjadi tantangan yang berarti bagi kekuatan politik pemuda saat itu. Namun rupanya usaha itu tidak berhasil, karena elit politik prbumi sadar, bahwa selama itu mereka dibodohi, dari itulah akhirnya terbentuk ide untuk membentukorganisasi berazas, untuk mempersatuka pemuda Indoesia.

Lalu munculah usaha-usaha mempersatuukan pemuda, dengan mengundang element-element pemuda di nusantara. Dibawah ini tahapan mencapai smpah pemuda :

a.            Pertemuan yang digelar pada tanggal 15 Agustus 1926 di Jakarta yang di hadiri :

1.            Yong Java

2.            Yong Sumatra

3.            Sekar Rukun

4.            Yong Batang

5.            Yong Minahasa

6.            Vereniging voor ambonsche studeerenden

7.            komite kongres I pemuda

8.            Yong islamieten bong cabang jakarta

Hasil pertemuan tesebut belum menemukan keputusan.

b.            pertemuan pada tanggal 20 februari 1927 di jakarta yang dihadiri oleh :

1.            Yong java

2.            Yong Sumatera

3.            Sekar Rukun

4.            Yong Batakse Bond

5.            Yong Islameten Bond

6.            Yong Minahasa

7.            Yong Ambon

Hasil pertemuan ini juga belum menemukan hasil yang signifikan

c.             pertemuan pada tangal 23 april 1927 yang dihadiri oleh :

1.            Yong Sumatera Bond

2.            Yong Java

3.            Sekar Batak

4.            Yong ambon

5.            Yong Minahasa

6.            Yong Indonesia

7.            Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia

Pertemuan itu belum juga menemukan titik temu yang bulat, namun mengalami kemajuan di banding dengan pertemuan sebelumnya, dengan adanya rekomendasi :

•             Indonesia Merdeka harus menjadi idea segala anak ndonesia

•             Segala perserikata pemuda harus berdaya upaya menuju mempersatukan diri dalam satu perkumpulan.

d.            barulah tanggal 26-28 oktober 1928 atas inisiatif perhimpunan pelajar indonesia, pemuda indonesia mengatakan kongresnya lagi yang ke-2 di jakarta. Peserta yang hadir seperti di bawah ini :

1.            Pemuda Sumatera

2.            Pemuda Indonesia

3.            Yong Batakse Bon

4.            Sekar Rukun

5.            Pemuda Kaum Betawi

6.            Yong Islamieten bond

7.            Yong Java

8.            Yong Ambon

9.            Yong Celebes dll.

Selain element pemuda, dihadiri juga pemipin-pemimpin pemuda dari pelosok tanah air yang sekaligus sebagai pelopor kongres itu, antara lain: Rusmali, Yusupadi, Mokoginta, Moha. Yamin, A.K. Gani, Kaca Sungkono, dan Sugandi. Secara umum yang menjadi ide pembicaraan kongres itu adalah 1). Mencari Indonesia merdeka, 2). Mengusir kolonialisme Belanda. Perjuangan kali ini rupanya berhasil, dengan semangat kesungguha dan integrasi, konres pemuda ke II itu menghasilkan :

1.            kita putra dan putri Indnsia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.

2.            Kita putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia.

3.            Kita putra dan putri Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Yaitu dengan diseklaraskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 oktober 1928, dengan tiga pengakuan; Satu tanah ar, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia  yang dikenal denagn Sumpah Pemuda. Perjuangan inilah yang kemudian beberapa dasawarsa Indonesia meraih kemerdekaannya pada tahun 1945.

C. Kesungguhan Era Proklamasi/Kemerdekaan

Penjajahan oleh kolonial Belanda terus berlanjut, namun sama sekali tidak  menyurutkan semangat pemuda untuk terus berjuang. Suasana tersebut  semakin memprtgetol pemuda untuk memenuhi amunisi intelektual mereka, dengan menggelar beberapa diskusi mencari gagsan-gagasan kenegaraan, jati diri Indonesia serta mencari konse ideal negara Indosesia sebagai cikal bakal sejarah. Tercatat nama upomo, dialah satu tokoh muda yang getol bedebat dan membuat konsepsi dasar pembangunan bangsa Indonesia. Disaat bersamaan, mereka para pemuda disetiap daerah terus mengumandangkan pembebasan, bahkan tidak jarang terjadi peperangan-peperangan, sehingga semakin memperganas penjajahan arteri Belanda terhadap akyat pribumi.

Tahun ’45 rupanya bisa disebut gerakan pemuda diatas gerakan pemuda generasi sekarang. Betapa tidak, mereka dengan terang-terangan menyatakan perang, dengan berbekal seadanya. Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau Onghokam menyebut mereka sebagai pejuang.

Informasi kekalahan Belanda terhadap arteri Jepang terdengar oleh pemuda di Indonesia, sehingga saat itu terjadi kekosongan kekuasaan (kevakuman kekuasaan). Kondisi seperti itu dengan sigap ditanggapi pemuda Indonesia dengan keinginan bulatnya agar Indonesia memploklamirkan kemerdekaan. Sesaat rupanya terjadi perbedaan pandangan kaum muda yang dipelopori Sukarni dengan kaum tua dalam hal ini Sukarno. Dengan dalih sukarno tidak mau bertindak gegabah, dan akan mencari informasi valid tentang kekalahan belanda tersebut. Rupanya tanggapan Sukarno itu tidak digubris oleh pemuda, namun sukarni dan kawan-kawan menganggap momen ini adalah salah satu lubang jarum yang akan membersar jika disambut dengan keberanian.

Perbedaan pandangan itu ditambah dengan informasi bahwa jepang telah menyerah pada sekutu, ternyata menjadi faktor utama peristiwa Rengasdengklok. Sukarno dan Hatta yang cenderung masih mempertimbangkan keinginan pemuda dengan didesak pemuda akhirnya mereka memproklamirkan kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 agustus 1945.

Sungguh itulah anugrah terhebat dar apa yang diberikan pemuda pada bangsanya, dengan proklamsi itu menandai berakhirnya penjajahan demi penjajahan terhadap rakyat Indonesia yang kurang lebih sampai memakan waktu 350 tahun, dengan kehebatan tekad pemuda masa itu sejarawan Benedict Anderson menyebut pemuda sebagai Pemuda Revolusi.

D. Era Orde Baru Awal Pragmatisme Pemuda

Sebelum melangkah pada era orde baru, sekilas kita akan kilas balik pada pemerintahan orde lama yang dipimpin sukarno. Permerintahan orde lama rupanya tidakbertahan lama, terutama penyebabnya adalah intervensi pihak asing, dengan kekacauan hampir di semua aspek, terutama aspek politik  dan ekonomi.

Pada aspek ekonomi Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berkelanjuan sampai mencapai 650 persen, ditambah dengan menurunnya pertahanan bangsa  dengan terjadinya pembeeontakan PKI yang dikenal dengan sebutan G-30-S/PKI, yang mengakibatkan terbunuhnya beberapa perwira tinggi dan menengah TNI, saat itu  Indonesia tidak lagi mendapat kepercayaan dari dunia internasional.

Kondisi ini memancing pemuda mahasiswa melakukan perlawanan dengan turun ke jalan. Gerakan itu semakin memanas dengan tewasnya demonstran asal Universitas Indonesia Andi Haim Nasution oleh aparat peredam aksi. Aksi itulah yang kemudian dikenal dengan TRITURA (tiga tuntutan rakyat) yang isinya; 1). Turunkan harga sembako, 2). Bubarkan konsttuante, 3). Bubarkan PKI.

Tuntutan itu meruntuhkan kekuasaan sukarno. Dengan surat perintah 11 maret (super semar), saat itu Suharto diuntungkan sebagai pemegang tahata kekuasaan, setelahnya dia berhasil meredam gejolak bangsa yang parah saat itu.

Namun disisi lain saat pemuda berhasil tampil kembali menjadi revolusioner, terjadi keperihatinan yang amat mendasar terhadap pemuda. Saat itu waktu sang pemuda yang idealis, kritis, yang selalu meneriakan perubahan ternyata semangat itu leleh dengan kekuasaan. Namun mesti sedikit, ada pula pemuda angkatan 66 yang masih konsisten dengan idealismenya. Ada cerita yang menggelitik saat itu, antara pemuda yang masih konsisten dengan pemuda yang sudah larut dengan kekuasan. Yaitu Soe Hok Gie, golongan pemuda yang masih idealis, dia dengan berani mengirimkan bedak dan alat kosmetik ke kawannya yang ada di birokrasi, terkandung maksu dia adalah untuk pemuda yang duduk di kursi pemerintahan agar lebih cantik berdandan di depan penguasa.

Dengan fakta sejarah seperti itu, sejarawan Onghokham mengatakan bahwa pemuda angkatan 66 itu mempunyai karakterstik yang individualis.

Pemerintahan orde baru tidaklah selalu berjalan mulus, terutama terjadinya penguasaan pihak-pihak asing terhadap aset-aset negara, yang memancing kecemburuan pribumi. Melihat kenyataan tersebut pemuda/mahasiawa kembali turun kejalan dengan jumlah yang sangat besar, dengan bebuntut peristiwa tragis, yang mengakibatkan banyaknya korban yang dikenal dengan peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari 1974 (peristiwa malari).

Suharto tidak diam begitu saja, dengan kekuatan militernya, mahasiawa ditekan disegala arah aktivitasnya, ABRI disebar dimana-mana, Intel tersebar di semua Peguruan Tinggi. Tidak cukup disitu Suharto lewat menteri Pendidikannya Daoed Joesoef memberlakukan Normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK).

Menteri peneranganpun berperan dengan melumpuhkan nalar kritis mahasiswa yang biasa dituangkan dalam majalah-majalah, buletin. Aktivitas seperti itu dikoordinir, sehingga berhasilah gerakan orde baru dalam membekukan gerakan mahasiawa itu.

E. Era Reformasi Warisan Pragmatisme Era Orde Baru

Dari sekian sejarah gerakan moral pemuda/mahasiswa yang refresentatif, atau gerakan pemuda/mahasiawa yang paling meuncul kepermukaan dalam rangka memposisikan diri sebagai agets sosial of control adalah gerakan pemuda/mahasiswa reformasi tahun 1997.  Alhasil, Suharto yang memipin Indonesia selama kurun waktu 32 tahun turun dari singgasananya hanya dengan sekejap, kembali pemuda/mahasiswa menunjukan kepada masyarakat Indonesia dan dunia sebagai generasi yang melek, peka terhadap tindakan pemerintah yang tidak mengakomodir kepentingan rakyat.

Selesai gerakan tersebut pemuda/mahasiswa  kembali pada khithahnya sebagai insan akademis dikampus, namun ada pula mahasiswa yang tadinya mempelopori aksi justru masuk dan mendaftarkan diri menjadi wakil rakyat di partai-partai produk orde baru. Rupanya peristiwa pasca Gerakan Malari ini terulang kembali diperiode reformasi.

Tuntutan mahasiswa pada pemerintah untuk membuka keran demokrasi, kebebasan, terbuka rupanya terwujud, sehingga pemuda/mahasiswa menemukan banyak pintu terbuka lebar untuk menyampiakan aspirasinya, dengan tema yang sama demokrasi yang dinilai mesti terus dibenahi dan di perlebar.

Kebebasan menyampaikan pendapat itu dimanfaatkan oleh mahasiswa dengan aspirasinya kepada pemerintah untuk mempercepat agenda Pemilu yang digelar tahun 1999. Namun aksi saat itu tidak sehebat saat aksi menurunkan Suharto, mulai dari perbedaan pandangan terhadap kepemimpinan BJ. Habibi dan adanya pendapat bahwa gerakan saat itu tidak adanya comon enemy, seperti Suharto. Aksi besar-besaran itu oleh Forum Kota (FORKOT), Forum Aksi Mahasiswa Pro Rakyat dan Demokrasi (FAMRED), komite mahasiswa dan rakyat untuk demokrasi (KOMRAD), Forum Bersama (FORBES), Forum komunikasi senat mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ), KB-UI (keluarga besar UI), komite buruh untuk aksi reformasi (KOBAR) dan Gerakan rakyat Pro Reformasi (DRPR). Dan yang tidak masuk pada element itu adalah kelompok cipayung dan KAMMI. Namun rupanya nuansa seperti itu enjadi warisan sekarang, gerakan mahasiswa yang cenderung nafsi-nafsi seolah tidak menemukan musuh bersama, atau mungkin syarat kepentingan masing-masing…!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s