Pemuda, Politik, Moral Force dan Globalisasi

Ada perbedaan zaman. Khusus untuk era sekarang, pemuda mesti berdampingan dengan tembok demikrasi, demokrasi liberal. Pemuda, yang saya maksud yang terlibat dalam organisasi sosial politik atau omawa, atau organisasi yang yang menjadi langganan menyuplai kader-kader idiologisnya sebagai generasi pemimpin politik, seperti kelompok cipayung (HMI, GMNI, PMKARI. GMKI, IMM, PMII) atau yang lahir dimasa pasca reformasi seperti KAMI.

Masa dulu hidup berdampingan dengan masa-masa himpitan idiologi, himpitan penguasa dalam berekspresi. Logika perkembangan manusia, dia akan menjadi dewasa, dan berkepribadian matang jika dibesarkan dengan keadaan prihatin. Sudah barang tentu dia akan selalu berusaha untuk bangkit mencari kebebasan.

Hal itu terjadi dari era 1828 masa rintisan sumpah pemuda sampai dengan masalah primodialismenya yang kenatl hingga tahun 1998 era reformasi dengan musuh kediktatoran penguasa.

Berbeda dengan sekarang, pemuda/wadah pemuda yang berdampingan kenyamanan hidup, yang saya maksud adalah demikrasi liberal, dan “mewah”. Meski demokrasi kita “mewah” naumn bukan kekayaan bangsa indonesia.

Tentu berpengaruh pada tatanan idiologi pemuda, kemewahan demokrasi ini membuat kemanjaan rulling elite pemuda, membuat kemandulan gerakan idealisme, dan membuat rapuhnya perkaderan dan regenarasi organisasi sosial politik.

Ditambah dengan zaman yang menuntut untuk mandiri secara individualis, sebutlah globalisasi. Era yang menuntut untuk hidup dengan kompetisi dunia, IT, ekonomi, sosial, pendidikan dll. Sehingga tren idealisme muali rapuh.

Saya melihat, benteng Demokrasi liberal dan Globalissasi ini yang membuat zamamn telah berubah, sehingga sudah pasti mesti ada perubahan paradigma berfikir dan bertindak untuk para pemuda.

Bagaimana dengan Moral force…?

Bagi saya istilah itu kurang relevan dengan era sekarang, moral force/gerakan moral ini hanya obat penenang dari kaum elite untuk kaum idealis…

Lalu..?

bukan ditinggalkan, namun ada perubahan wilayah berfikir, kalau dulu moral force yang diruhi oleh idealisme melahirkan pemuda yang komitment menjadi kelompok yang rajin mengkritisi kebijakan. Idealisme swkarang adalah memenuhi kualifikasi dalam arena persaingan ini.

maksudnya…?

Sudah jelas, kita saksikan bagaimana rulling elite ini dikuasai orang-orang non gerakan atau yang mempunyai masa lalu idealis. Namun orang yang sama sekali kita tidak kenal.

Dengan apa mereka bisa tampil.

Sesuai dengan arenanya. Dalam politik mereka yang bisa tampil adalah para pengusaha, orang-orang yang bisa membuat iklan dirinya dengan harga ratusan miliar. Dalam pendidikan mereka yang selalu membuka dan menutup buku, meski lemah secara empiris.

Solusinya…?

Yang menjadi jantung perkaderan adalah kemandirian, bagaimana seharusnya organisasi kemahasiswaan mampu malahirkan barbagai kadernya dalam beragam keahlian, tegasnya semua organisasi harus berorientasi pada bassic, namun tetap idiologisasi harus ditanamkan, sehingga organisasi akan melahirkan kader soiap pakai tapi memiliki idiologi kebangsaan yang mumpuni. Kalau ini tidak dilakukan, niscaya setahap demi setahap akan musnah akan luruh.

3 responses to “Pemuda, Politik, Moral Force dan Globalisasi

  1. dunia politik adalah konsep politik, dimana cara adalah bagian dari pemuda dalam menuangkan kreatifitasnya tentang politik. Dari tokoh agama kemudian ke tokoh nasional dan akhirnya aktivitis politik bergerak. Pemuda dalam politik lebih menekankan pasa realitas dan moral, walaupun terkadang urusan etika urusan belakangan. Pemuda adalah konsep plural, dimana politik yang real ada di kancah politik pemuda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s