Asmaul Husna & Kehidupan

“Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (QS Al-Araf ayat 180)

Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ayat al quran dan Hadits shahih tersebut menegaskan betapa istimewanya asmaul husna. Terutama ummat islam yang sudah terbiasa membaca dan berwirid asmaul husna yang rata-rata dibaca setelah shalat.

Keindahan asmaul husna makin syahdu bila dilantunkan dengan nada-nada yang bisa menggugah hati, seperti yang dinyanyikan group nasyid seperti snada, tak cukup itu lafadz asmaul husna banyak kita dipajang dengan hiasan kaligrafi yang indah di masjid-masjid di berbagai daerah bahkan diseluruh dunia.

Surat al araf ayat 180 “…maka bermohonlah kepada-Nya ( Allah ) dengan menyebut asmaul husna itu…”, rupanya ayat ini yang menjadi salah satu dalil ummat islam yang selalu mendawamkan lafadz asmaul husna secara rutin, namun persoalannya adalah apakah cukup asmaul husna itu hanya sebatas di hafal, atau dibaca, atau bahkan hanya di tulis secara kaligrafi. Itu tidak salah, karena menjaga keindahan itu adalah bagian dari syiar.

Namun jika ayat itu hanya dipahami sebatas itu, hemat saya kuranglah tepat. Makna ” menyebut asmaul husna” dalam surat al araf tersebut adalah dengan menggali maknanya, untuk dijewantahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya kita bukanlah memandang asmaul husna itu dari luar, karena yang nampak hanyalah nama-nama allah, dan huruf arab. Sehingga akhirnya hanya di baca dan dinyanyikan, bahkan banyak yang mengatas namakan ahli hikmah asmaul husna justru dijadikan lafadz untuk syar pengobatan atau hal-hal yang berhasiat.

Kita harus memandang asmaul husna itu dari dalam, sehingga yang nampak adalah nasihat-nasihat dan keagungan allah SWT untuk diterapkan oleh segenap jiwa raga kita. Seperti misal sifat ” Ar-Rahman”. Jika dipahami secara teks belaka maka yang kita pahami hanyalah sebatas Allah yang maha Pengasih, atau misalnya lafadz “Al-Khaliq” yang artinya pencipta. Jika kata itu dikejewantahkan dalam kehidupan kita, maka manusia akan mempunyai nalar karya yang kuat, sejatinya manusia yang berjiwa entreuphernership. Di Indonesia sendiri krisis warga yang berjiwa seperti itu, malah sifat allah ini kita temukan dinegara-negara sekuler, seperti eropa dan jepang.

seharusnya Indonesia yang mayoritas pendudukanya sudah membaca dan menghafal asmaul husna bisa lebih maju dinegara-negara lain, namun inilah fakta yang ada, karena ada paradigma yang kurang tepat dalam memahami asmaul husna.
Namun jika sifat Ar-Rahman itu kita kaji secara substantif, maka Ar-Rahman ini adalah salah satu nasihat agar kita menjadi manusia yang pengasih. Bukan kita mengambil alih haq allah, namun kita sepakati bahwa iman kepada Allah adalah salah satunya menerapka segala ajaran-Nya, dan salah satunya mengejewantahkan Ar rahman dalam kehidupan kita sesama manusia dan alam secara umum.

Itulah mengapa asmaul husna yang didalam al quran hanya 99 saja, padahal Allah maha segalanya, jadi mustahil jika tuhan yang maha besar hanya mempunyai 99 saja, bisa jadi sifat allah itu adalah ribuan bahkan jutaan, artinya sifat asmaul husna adalah salah satu hadiah Allah untuk ummat manusia, bukan untuk allah.

Wallahu’alam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s