Menjadi Pemimpin Sejati

Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan, dan juga pimpinan itu dalam menciptakan motivasi dalam diri setiap orang bawahan, kolega, maupun atasan pimpinan itu sendiri.

Empat unsur dalam kepemimpinan, (1). Komunitas (2). Manajemen (3). Kultur dan (4). Tujuan. keempat unsur ini bersifat prinsip. Kepemimpinan akan terjadi secara alami dalam sebuah komunitas, tanpa mesti dipakssakan harus ada. Dari komunitas terkecil (keluarga) samapi masyarakat luas. Dari komunitas inilah yang nantinya akan ada seleksi bersama siapa yang berhak memimpin/memegang kendali sebuah misi kehidupan bersama dengan tradisi-tradisinya.

Munculnya seorang pemimpin secara alamiah dalam sebuah komunitas adalah hal yang mendasar, karena hakekatnya manusia adalah pemimpin, namun simbolisasi dari pemimpin adalah naluri dari semua warga komunitas, tegasnya kita memerlukan sosok yang bisa mengatur, membawa, memberi, mengarahkan, itulah perwujudan pemimpin.

Hati nurani mengatakan bahwa pemimpin adalah yang bisa menjaga dan membawa kepada semua yang mereka butuhkan, tentu mereka mempercayakan posisi pemimpin mereka adalah orang yang jelas track record nya dan berjasa kepada mereka. Pola seperti ini berlaku dari tataran masyarakat bawah/kuno. Seperti seorang “kiyai” yang hampir semua ucapannya digugu, karena mempuyai wawasan keagamaan dan prilaku yang diatas rata-rata. Atau aktivis sosial yang dijadikan pemimpin buruh, karena dianggap mampu membawa aspirasi mereka yang perlu diperjuangkan.

Pola alamiah seperti inilah yang dibutuhkan karakter kepemimpinan diindonesia, sejarah yang menjadi fakta, pemimpin yang dibentuk dengan potret-potret kehidupan masyarakat. Muncul secara alamiah, bukan seseorang yang menjadi pemimpin, sehingga dipaksakan dirinya sendiri.

Dalam dunia perkaderan di HMI, pola alamiah seperti ini justru dienyahkan. Ada kesalahan definisi kepemimpinan, seakan pemimpin itu adalah ketua umum cabang/badko atau Pengurus Besar. Padahal tidak, posisi struktural hanyalah legalitas formal, tegasnya terjadi kesalahan orientasi, dari perkaderan ke struktural. Sekedar mengingatkan, pemimpin adalah seserang yang mampu memengaruhi dan mengatur masa untuk mencapai tujuan. Tegasnya semua kader HMI bisa menjadi pemimpin jika memaksimalkan peran dan fungsi sebagai kader.

Kembali ke orientasi seperti ini saya kira mampu manjawab krisis kepemimpinan dilingkungan HMI bahkan negara, betapa tidak, karena kita adalah yang menjadi penerus mereka yang selalu berambisi mendapatkan kekuasaan. Meski akhirnya mereka mampu mengalahkan kaum idealis, namun setelah mendapatkan kekauasaan mereka bingung apa yang mereka kerjakan, sehingga berjalan stagnan karena hanya berada dilingkaran masalah, akhirnya banyak pemimpin yang mengeluh!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s