Dari 10 November ’45 hingga 10 November ’09

bung-tomo-10-november10 November 1945

Saat itu pada tanggal 15 agustus 1945 Jepang terpaksa menyerah kepada sekutu setelah kedua kota mereka (Hiroshima dan Nagasaki) di hadiahi bom atom hingga menjadikan kiamat bagi negara matahari itu. Namun dibalik itu, ditengah kesengsaraan atas penjajahan jepang semangat kemerdekaan kaum muda Indonesia terus berlanjut, dan dua hari kemudian tercetuslah proklamasi pada tanggal 17 agustus 1945. Kesempatan yang menjadi bulan-bulanan ini adalah ruang leluasa buat menunjukan keberanian bangsa Indonesia untuk membebasakan belenggu jepang, dengan melucuti senjata tentara jepang.

Namun ada pihak ke tiga yaitu inggris dengan atas nama sekutu yang menjadikan kesempatan atas lemahnya jepang, mereka turun kembali ke indonesia lewat pulau jawa. Mereka menyebar diwilayah jawa, hingga jawa timur. mendaratnya tentara inggris ke indonesia ini ditumpangi rencana mengembalikan indonesia menjadi jajahan mereka. Inilah yang menyulut kemarahan bangsa Indonesia hingga terjadi pertempuran hebat di surabaya. Pertempuran itu tak disangka berhasil membunub Jenderal Mallaby yang menjadi komando di wilayah jawa timur (surabaya).

Ini merupakan penghinaan besar bagi tentarta inggris, hingga pasca itu pada tanggal 10 november tentara inggris menyerang balik dengan kekuatan penuh, dengan menurunkan 30.000 serdadu, 50 pesawat, dan peralatan canggih lainnya, hingga kota surabya dihujani BOM. Pihak inggris telah optimis menang melawan pertempuran dengan bambu runcing dan tentara yang kurang terlatih ini, namun pada pagi hari Bung Tomo berorasi membakar semangat dan mengajak jihad mengusir tentara inggris di RRI, berikut petikannya:

” Saudara-saudara rakyat Surabaya, Bersiaplah! Keadaan genting, Tetapi saya peringatkan sekali lagi, Jangan mulai menembak, Baru kalau kita ditembak, Maka kita akan ganti menyerang mereka itu, Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka, Dan untuk kita saudara-saudara, Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka, Semboyan kita tetap, Merdeka atau mati, Dan kita yakin, Saudara-saudara, Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar, Percayalah Saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian, Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka! “.

Inilah yang menjadi modal utama selain semangat pemudan dan masyarakat surabaya, modal kepemimpinan yang berani mati bukan berani membunuh, berani bertempur bersama rakyatnya, bukan berani menyuruh, berani menegakan yang benar, bukanlah berani menegakan yang batil seperti sekarang.

10 November 2009

Kita merinding dengan kisah itu, peristiwa hebat yang mirip dengan perang badar jaman Rosulullah itu  menjadi tolak ukur rasa patriotisme dan nasionalisme kita. Spontan kita menjawab, belum bisa menandingi mereka. Betapa hebatnya perjuangan masa lalu, penuh dengan tinta emas sejarah, padahal mereka hanya kuli yang kelaparan, hanya tentara tanpa gajih, hanya pemuda tanpa pendidikan.

Namun sekarang!, jenderal dengan pulahan juta gajihnya, Presiden dengan ratusan juta gajihnya, wakil rakyat dengan segala kemewahannya, pemuda dengan segala kemampuannya, tidak mampu mempertaankan bangsa indonesia.

Kalau dulu penjajah diusir, tapi sekarang penjajah diundang. Dengan dalih kesejahteraan masyarakat, hutang luar negeri makin meningkat, apakah IMF, word bank, ADB yang akirnya mengkungkung bangsa!.

Hari ini, adalah saksi atas hebatnya jelata kita dibawah panji merah putih, namun bisa sebaliknya, jika 10 November 2009 ini hukum masih diatur dengan uang, parlemen masih berada diketiak penguasa, presiden masih tunduk kepada kebatilan, tegasnya jika kepicikan-kepicikan ini berlaku pada pemimpin-pemimpin kita, maka hari ini adalah saksi hancurnya Bangsa Indonesia, na’udzubillah!.

Tidak terlalu berlebihan, tahukah esensinya mengapa saat itu arek-arek suroboyo mampu menguasai kehebatan tentara inggris?, itu karena tampilnya pemimpin yang mengajak jiwa raganya mati untuk hidupnya kesejahteraan. Dan berbeda dengan sekarang pemimpin kita mengajak hidup untuk matinya kesejahteraan.

Dengan kata lain, bangsa Indonesia telah kufur nikmat, kekayaan alam dan kekeuatan yang diberikan sang pencipta ini justru bukan menjadi modal untuk kepentingan meneruskan cita-cita luhur bapak kita, namun justru semakin takut akan penjajah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s