Ronggowarsito, datang kembali

arjuna1” sekarang martabat negara, tampak sunyi sepi, sebab rusak pelaksanaan peraturannya, karena tanpa teladan, orang meninggalkan kesopanan, para cendikiawan dan para ahli terbawa, hanyut ikut arus dalam jaman bimbang, bagaikan kehilangan tanda-tanda kehidupannya, kesengsaraan dunia karena tergantung berbagai halangan ” (Ronggowarsito)

syair dari pujangga masa 1802-1874 itu saat sang Mangkunegara membuka rel kereta api untuk belanda kedaerah kejawen, hingga memaksa kelesatarian kearifan lokal baik budaya maupun harta harta leluhur itu terampas dengan dalih kerjasama dan sewa, tegasnya kapitalisme mengancaam keabsahan alam kejawen. Seiring waktu mulailah tahap demi tahap mulai tanah, perkebunan, dan ekonomi dikuasai hingga kerajaan itu kehilangan legitimasi sebagai exemplary centre dalam kehidupan sosial budaya.

Kemewahan yang ditawarkan belanda berhasil membungkam kaum cendikiawan, pujangga, kaum cerdik hingga mereka hilang kekritisannya tentang keabsahan hidup kejawen. Para pujangga yang tadinya menjadi pembesar kerajaan saat itu hanya bisa menjadi seorang pecundang dan hanya berada diposisi maya.

Modernisasi dan indutrialisasi yang mengonani kerukunan budaya itu tidak bisa ditolak, karena serangan itu bukan hanya bersifat materi, tapi hampir semua bisa dipaksa masuk pada relung budaya dan psikis penduduk yang berimplikasi pragmatisme masyarakat jelata. Mereka tidak sadar bahwa keringat dan darah yang selama itu dipertahankan utuk mempertahankan kemerdekaan kerajaan telah sirna begitu saja dengan janji dan kemewahan.

Agak ngiris kita membaca sejarah masa itu, seolah menyindir indonesia hari ini. Apakah indonesia ini adalah jilid lanjutan dari masa itu?, ataukah penjajahan sekarang adalah warisan masa itu!

Sehingga menjadi pertanyaan besar untuk kita, sebenarnya milik siapakah indonseia ini..?, apakah kita masih berhak membusungkan dada dengan percaya diri bahwa kita lah yang punya?, lantas kenapa bangsa kita dikuasai?, berpa juta hektar area perkebunan kita dirampas pihak asing?, berapa banyak kekayaan pertambangan minyak yang dikelola pihak asing atau kekayaan budaya yang dikalim malaysia yang dalam data ditemukan sekitar 53 kekayaan budaya yang dirampas malaysia, dari mulai batik, lagu-lagu budaya, peninggalan-peninggalan kuno dll.

hingga inilah indonesia yang sebenarnya, kehilangan legitimasi sebagai bangsa yang heterogen, sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan kegotongroyongannya. Kita harus dengan sadar merasakan ini setidaknya ada keinginan bangkit dan mandiri, dan mengembalikan indonesia sebagai kebanggaan.

Lalu kemana kita?, apakah kita belum mampu lantas kita lebih enjoy sebagai penikmat meski dengan bagian yang kecil saja?, lalu kemana kaum negarwan yang mengklaim dirinya teramanahi masa depan masyarakat!

dalam syairnya Ronggowarsito, ” Mengalami jaman gila, serba sulit dalam pemikiran, ikut gila tidak tahan, kalau tidak ikut gila, tidak mendapat bagian, akhirnya kelaparan, tetapi takdir kehendak allah, sebahagia-bahagianya orang lupa, masih lebih bahagia yang sadar dan waspada ” .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s