ISLAM DAN SPIRIT BERBANGSA

A. Pendahuluan

Islam menempatkan manusia itu tidak saja dalam dimensi individu, akan tetapi juga dalam dimensi sosial sebagai anggota sebuah masyarakat. Oleh karena itu tugas dan kewajiban syar’i disampaikan kepadanya dalam bentuk jamaah, yakni “Yaa ayyuhalladziina aamanuu,” bukan dalam bentuk mufrad (sendirian) yaitu”Yaa ayyuhal mu’min …” Demikian itu karena kewajiban dalam Islam memerlukan sikap saling memikul dan saling menanggung dalam pelaksanaannya, di mana sama antara ibadah dan mu’amalah.

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dan perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (Al Hajj: 41)

Artinya diatas sudah jelas bahwa masyarakat Islam bukanlah masyarakat yang hanya menerapkan syari’at Islam pada bidang hukum syariat saja, Tetapi Islam mengajarkan pentingnya hidup secara kolektif, seperti perintah amar ma’ruf nahyi munkar, yang esensinya adalah saling menasehati dengan baik.

Menegaskan dari paparan diatas bahwa sejatinya proses pencarian jalan tuhan bagi setiap indivividu manusia adalah pola hidup dinamis, yang menuntut pola hidup kerjasama antar manusia dalam jiwa ketuhanan dan kebaikan serta dalam semangat saling membantu mencari yang benar, dan memikul bersama secara tabah beban perjalanan menuju kebenaran itu.[1]

1. Kilas Balik Fase-Fase Peradaban Islam Dalam Menata Masyarakat

Banyak dari kita yang sudah mengetahui tentang fase-fase peradaban islam yang diperkirakan Rasulullah. Dalam haditsnya yang terkenal, beliau menyebutkan tentang keadaan dan kondisi umat islam, yang dalam hal ini beliau cirikan dengan keadaan para penguasanya. Setidaknya beliau membagi fase peradaban islam setelah beliau wafat dalam empat fase.

Fase pertama adalah fase dimana kepemimpinan kaum muslimin dikelola oleh orang-orang yang mengacu pada cara (manhaj) kepemimpinan nabi (khilaafah ‘alaa minhaajin –nubuwwah), yang adil dan mengangkat kewibawaan Islam. Menurut para ulama pergerakan, fase ini disepakati sudah berlalu dengan para aktornya adalah khulafaa-ur-rasyidiin (Khalifah-khalifah yang diberikan petunjuk: Abu Bakr, Umar, Utsman dan Aliy.

Fase kedua merupakan masa dimana para penguasanya kebanyakan adalah penguasa yang sombong, angkuh dan tidak lagi menggunakan manhaj kepemimpinan nabi. Walaupun begitu, para penguasa di fase ini masih menggunakan hukum-hukum Islam sebagai dasar perundangan negara. Fase ini disepakati oleh para ulama pergerakan juga sudah terlewati. Diakhiri dengan runtuhnya kekhilafahan Islam internasional Turki Utsmani pada tahun 1923. Fase ini juga disebut masa tabiun (pengkiut)[2].

Selanjutnya kaum muslimin akan dihadapkan dengan masa dimana para penguasanya adalah penguasa yang zholim, kejam dan menindas kaumnya sendiri. Fase inilah yang kemudian ditengarai sedang terjadi di dunia Islam pada masa-masa sekarang. Faktanya adalah keadaaan yang melingkupi negeri-negeri Muslimin satu abad terakhir. Bahkan sisa-sisa penindasan itu masih terjadi di beberapa negeri muslim. Begitulah, nasib umat Islam dari zaman ke zaman, terus menurun dari generasi ke generasi, terutama dari segi kualitas internalnya. Akan tetapi, Rasulullah SAW juga tidak membiarkan umatnya berada dalam keputusasaan.

Beliau tetap memberitakan bahwa di akhir zaman nanti, setelah fase yang ketiga ini selesai, maka akan muncul masa dimana kepemimpinan umat Islam akan diusung kembali oleh penguasa yang adil. Yaitu orang-orang yang memimpin sesuai dengan manhaj kepemimpinan Rasulullah yang tidak bersifat inklusif. Seperti dikutif seorang mufasir india Abu kalam Azad, bahwa islam adalah agama yang  diyakini bersifat universal untuk sekalian umat manusia[3]. Dan kepemimpinan inilah yang akan membawa umat Islam kembali berwibawa dan menjadi soko guru bagi semesta dunia (ustaadziyyaatul ‘aalam), terlebih diabad modern seperti sekarang ini, yang berbeda dengan jaman salaf.

Pada zaman awal Islam disebarkan oleh Rasulullah misalnya, beliau sangat menekankan pada asas dasar dari segala kegiatan kehidupan dan peradaban, yaitu akidah (kepercayaan dan keyakinan kepada Allah ‘Azza wa Jalla). Inilah tonggak awal dan dasar dari peradaban Islam itu sendiri. Sekaligus mendasari perbedaan dengan peradaban lain yang pernah ada di dunia ini.

Beliau juga meletakkan dasar-dasar hukum interaksi kehidupan manusia dengan syariat yang dibawanya. Tidak sampai disitu, Rasul juga menyumbangkan dirinya selama berada di Madinah, untuk membangun sebuah negara ideal yang berlandaskan Islam sebagai cikal bakal peradaban Islam itu sendiri.

Pada zaman khulafaa-ur-raasyidiin, warisan yang sangat berpengaruh adalah upaya penguatan dari apa yang sudah diletakkan oleh Rasulullah. Abu Bakr, misalnya, melawan orang-orang yang tidak mau berbagi (berzakat), karena zakat itu sendiri merupakan salah satu pilar dalam Islam, dan jika ada yang tidak mau berzakat, maka digolongkan ke dalam orang yang murtad. Abu Bakr juga memerangi orang-orang yang selalu melakukan pembohongan publik (nabi palsu), sebagai upayanya dalam pembersihan dan penegakan keuniversalitasan islam. Selain itu, budaya pewarisan ilmu pengetahuan juga mulai di semarakkan pada zaman ini. Ditandai dengan dikumpulkannya nash-nash al-qur’an yang berserakan lalu kemudian dibukukan dan diperbanyak.

Di masa ini, hadits-hadits juga mulai dikumpulkan. Ekspansi da’wah dan pembebasan daerah-daerah sekitar juga mulai diintensifkan, bahkan salah satu ekspedisi pembebasan yang dikirim sudah mencapai negeri China di Timur dan daerah-daerah afrika utara di Barat. Pada fase peradaban Islam berikutnya, warisan yang paling mencolok adalah warisan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terutama pada dua dinasti awal, yaitu dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah. Pusat-pusat ilmu pengetahuan, perpustakaan dan taman baca, universitas, serta riset-riset modern berkembang pesat dan maju.

Dari studi akidah, sampai kedokteran, astronomi dan bahkan ilmu kimia menjadi primadona. Ulama-ulama sains Islam mengukir sejarah mereka dan bahkan sampai sekarang catatan-catatan mereka masih dijadikan referensi. Pusat-pusat peradaban berpindah dari Yunani dan Roma, ke Baghdad (Irak, dinasti Abbasiyyah), Cordova(Spanyol, dinasti Umayyah).

Tidak mengherankan kemudian peradaban Islam saat itu dijuluki dengan penyambung nyawa dari ilmu pengetahuan yang ada di Yunani dan Roma, yang sudah menua dan menyimpang dari hakikat ilmu itu sendiri. Islam menjadi soko guru dunia, dengan total daerah yang dilingkupi oleh pemerintahan Islam mencapai dua pertiga daratan di bumi (Utara: Eropa Selatan, Barat: Afrika Barat, Timur: China, Selatan: India). Bangunan-bangunan megah, indah dan mewah di semarakkan, dengan arsitektur dan teknologi modern, dan jauh melampaui peradaban Yunani dan Romawi. Sampai sekarang, bangunan-bangunan tersebut masih kokoh berdiri, kecuali yang dihancurkan dan dibakar pada zaman ekpansi Mongol dan pada perang Salib. Taj Mahal, Perpustakaan Internasional di Cordova, Universitas Al-Azhar Mesir, adalah salah satu peninggalan dari banyak lainnya yang sampai sekarang menjadi bukti, bahwa Islam dengan landasan akidahnya, pernah menjadi pusat peradaban dunia. Akan tetapi sayang, pada akhirnya kehancuran itu berawal dari kekeroposan internal umat Islam itu sendiri.

Dari beberapa kilas balik fase peradaban islam, tidak lepas dengan andil pemerintahan yang adil dan bijak sana. Karena jika akan terjadinya kemajuan peradaban umat adalah berarti pula terjadinya tata masyarakat yang efektif, dan sesuai porsi.

Selain itu, dalam perwujudan, yang dihantarkan oleh pemimpin yang adil, maka kemakmuran masyarakat yang akan tercipta. Karena kemakmuranlah sebenarnya tujuan akhir dari suatu peradaban. Adalah umat yang selalu tercukupi segala kebutuhannya, baik secara jasmani maupun rohani.

2. Potret Peradaban umat islam Indonesia saat ini

A. Krisis kepercayaan pemimpin politik islam

Sebelum mengurai jauh tentang kondisi pemimpin politik ummat isalam diindonesia, kita uraikan definisi politik dan pemimpin politik.

Politik ialah cara dan upaya menangani masalah-masalah rakyat dengan seperangkat undang-undang untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah hal-hal yang merugikan bagi kepentingan manusia.[4]

Jika pengertian politik diatas kita korelasika dengan islam, dengan maka terjadi penambahan makna yang secara spersifik pada waliayah keislaman. Politik Islam ialah aktivitas politik sebagian umat Islam yang menjadikan Islam sebagai acuan nilai dan basis solidaritas berkelompok, yang menggunakan simbolisme keagamaan berpolitik, semisal menggunakan perlambang keislaman, dan istilah-istilah keislaman dalam wacana perpolitikannya. Dengan kata lain, cak nur mendefinisikannya, usaha yang tidak pernah henti untuk mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan.[5]

Dari dasar definisi politik kita korelasikan dengan pemimpin politik, yang terdapat bebetapa aspek, (1) Pemimpin sebagai pola prilaku (2)  kepemimpinan sebagai kualitas personal (3) kepemimpinan sebagai nilai politik.[6].

Politik Islam secara substansial merupakan penghadapan Islam dengan kekuasaan dan negara yang melahirkan sikap dan perilaku (political behavior) serta budaya politik (political culture) yang berorientasi pada nilai-nilai Islam. Sikap perilaku serta budaya politik yang memakai kata sifat Islam, menurut Dr. Taufik Abdullah, bermula dari suatu keprihatinan moral dan doktrinal terhadap keutuhan komunitas spiritual Islam.

Namun diindonesia sendiri secara factual, pemimpin politik islam mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat islam sendiri. Terbukti deri hasil pemilu legislative dan pemilu presiden daitahun 2009, partai-partai islam hanya ada diurutan menengah, bahkan beberapa partai islam yang masuk parlemen 2004-2009, seperti Partai Bulan Bintang harus terbuang dari parlementary treshold tersingkir dengan kehadiran  dua partai nasionalis, Hanura dan GERINDRA.

Bukan hanya itu, bahkan partai-partai islam yang masuk parlementary threshold seperti PKS, PKB, PAN, dan PPP tidak menggalang kekuatan sendiri namun lebih memilih menyelamatkan diri dengan berkoalisi untuk memenangkan Partai Demokrat yang notabenen partai nasionalis.

Artinya kepercayaan itu bukan hanya dikalngan masyarakat, tetapi juga dikalangan pemimpin politik islam itu sendiri.

Ada beberapa 2 sebab mengapa parta-partai islam mengalami krisi kepercayaan dari masyarakat;

Pertama, Sikap pragmatis masyarakat. Sikap ini menjadi masalah yang sulit untuk dibenahi, karena berbicara politik, sudah tentu ini masalah kepercayaan dan dalih demokrasi. Ini bisa dibuktikan dengan sebagian besar caleg yang masuk ke parlemen adalah yang mempunyai kemampuan financial yang kuat. Hingga untuk nyaleg di DPR RI setidaknya mengeluarkan pelican masyarakat sebesar 3-4 miliar rupiah, untuk dibagikan gress root.

Kedua, adanya pergeseran orientasi pengabdian pada kekuasaan. Sesuai dengan definisi pemimpin politik islam diatas, sesuai dengan pendapat DR. taufik Abdullah bahwa politik islam merupakan manivesati dari keprihatinan dari moralitas bangsa yang mesti dibenahi. Namun pada kenyataannya dilapangan para pemimpin islam diindonesia justru keluar dari nilai-nilai keprihatinan tersebut. Padahal, pandangan atau cita-cita manusia tentang sebuah masyarakat atau negara sangat terkait dengan konsep jati diri manusia itu sendiri.[7]

Ketiga, hilangnya manivestai ruh perjuangan politik islam. Banhwa keesaan (tauhid) dan kedaulatan Allah oleh para rosul.[8]

Kelima, kurangnya kaderisasi politik. Ini bisa jadi hal yang sangat urgent dalam kekuatan politik islam diindonesia. Regenerasi merupakan fitrah dari kepemimpinan. Karena estafet kepemimpinan bagian dari kaderisasi manivestasi gerakan internal partai. Namun sayangnya kaderisasi politik dikalngan umat islam justru mandeg, seiring demokrasi yang dianggap liberal. Karena berbeda dengan politik islam Indonesia dahulu, yang menjadi tokoh politik islam adalah mereka yang sudah menjelajahi tahap demi tahap perjuangan dengan segala kemampuannya, namun tidak untuk jaman sekarang, lagi-lagi dengan dalih demokrasi seseorang bisa secara praktis menjadi pemimpin jika mempunyai kost politik (uang). Padahal dari regenerasi yang notabene pemuda adalah gagah berani yang hidupnya senantiasa didedikasikan untuk kejayaan agama.[9]

Keempat, adanya overestimasi. Banyak pimpinan partai Islam tentang kekuatan yang dimilikinya atau aflikasi politik dari apa yang disebut dengan mitos kemayoritasan. Bak “gadis” yang akan selalu diperebutkan, bagaimana seharusnya Islam bersikap di tengah polarisasi politik yang tajam ini? Jelas, ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Seandainya tersedia jawaban pun ia bukan suatu yang dapat diperebutkan. Artinya, akan tersedia banyak jawaban. Dan semua itu akan sangat dipengaruhi dan dibentuk oleh preferensi politik yang bersangkutan.

Fenomena kemunduran perjuagan petai-partai islam diindonesia terjadi seperti masa orde baru yang membeku pengaruh kekuasaan, namun kebekuan partai islam hari ini, karena pengaruh ketidakpercayaan.

3. Sosial Budaya

A. Fitrah keberagaman

Ikhtilaf di tengah ummat tidak hanya terjadi saat ini. Jauh sebelum ini, bahkan masih pada masa Nabi Salallaahu ‘alaihi wa salam perbedaan pendapat itu sudah terjadi. Kadang-kadang Nabi membenarkan salah satu di antara sahabat yang sedang berselisih. Dalam hal-hal tertentu perbedaan itu dibiarkan saja.

Mengapa keberagaman itu hakiki?, jawabannya sederhana. Bahwa manusia itu berada dengan segala ragam budaya, wawasan, dan potensi. Inilah yang melahirkan keragaman itu. Keragaman itu ada karena sebuah komunitas. Itulah kenapa islam bukan hanya mengatur hubungan dengan allah saja, tetapi yang paling utama adalah hubungan sesame manusia dengan megatur segala tingkahnya, itulah cirri islam yang universal.[10]

Islam dan kebebasan bergotong royong

Anggota masyarakat tidak dapat dianggap bebas dari ketergantungan diantaranya. Namun manusia mempunyai konsekuensi untuk saling berkerja sama dan memberikan pelayanan sosial dengan seadil-adilnya. Keterikatan ini yang menurut islam adalah tali persaudaraan.[11]

Dalam al quran dikatakan “ orang-orang mu’min satu dengan yang lainnya bersaudara” (QS: 49:10). Daan sabda nabi Muhammad SAW “ muslim yang satu dengan muslim yang lainnya bagikan satu bangunan yang saling menguatkan”.

Gotong royong adalah bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Gotong royong merupakan makna yang luas, karena didalamnya ada aspek musyawarah  dengan azas kekluargaan, bahkan gotong royong menjadi sumber dasar filsafat Indonesia.

Alasan saya membahas gotonh royong adalah untuk meerefresh kembali budaya itu. Karena gotong royong merupakan bentuk sederhana dari organisasi dan kepemimpinan. Jika budaya gotong broyong ini hilang dari bumi nusantara maka hilanglah sudah jatidiri bangsa Indonesia. tidak terlalu berlebihan, karena islampun mengajrkan seperti itu, gotong royong adalah nama lain dari persaudaraan. Karena gotong royonglah Indonesia ini bisa merdeka. Bahkan fakta yang menjadi bukti, meski sebagian besar bangsa Indonesia adalah ummat islam, namun justru umat islam banyak ketertinggalan oleh non islam, terutama bangsa pendatang, seperti china. Karena terjadi sikap individualistic dikalangan umat islam sendiri.

Gotong royong adalah gerakan masyarakat secara bersama untuk menyelesaikan seseuatu tujuan sosial, dalam islam dikenal muamalah, “ watawanu ala birri wat-taqwa, walaa ta’awanu alal itsmin wal udwan”.

Lalu bagaimanakah gotongroyong dengan agama lain?, tidak menjadi masalah, selama gotong royong ini hanya berada diwilayah kemasyarakatan. Karena hubungan sosial itu hakekatnya adalah perwujudan dari kecintaan kita akan ilahi. Apalagi tidak adil kiranya jika diindonesia

2. Pendidikan Diindonesia

Indonesia adalah sebuah negara besar yang memiliki penduduk ratusan juta jiwa. Indonesia juga adalah negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut sebuah perhitungan manusia Muslim Indonesia adalah jumlah pemeluk agam Islam terbesar di dunia. Jika dibanding dengan negara-negara Muslim lainnya, maka penduduk Muslim Indonesia dari segi jumlah tidak ada yang menandingi. Jumlah yang besar tersebut sebenarnya merupakan sumber daya manusia dan kekuatan yang sangat besar, bila mampu dioptimalkan peran dan kualitasnya. Jumah yang sangat besar tersebut juga mampu menjadi kekuatan sumber ekonomi yang luar biasa. Jumlah yang besar di atas juga akan menjadi kekuatan politik yang cukup signifikan dalam percaturan nasional.

Namun realitas membuktikan lain. Jumlah manusia Muslim yang besar tersebut ternyata tidak mamiliki kekuatan sebagaimana seharusnya yang dimiliki. Jumlah yang sangat besar di atas belum didukung oleh kualitas dan kekompakan serta loyalitas manusia Muslim terhadap sesama, agama, dan para fakir miskin yang sebagian besar (untuk tidak mengatakan semuanya) adalah kaum Muslimin juga.

Kualitas manusia Muslim belum teroptimalkan secara individual apalagi secara massal. Kualitas manusia Muslim Indonesia masih berada di tingkat menengah ke bawah. Memang ada satu atau dua orang yang menonjol, hanya saja kemenonjolan tersebut tidak mampu menjadi lokomotif bagi rangkaian gerbong manusia Muslim lainnya. Apalagi bila berbicara tentang kekompakan dan loyalitas terhadap agama, sesama, dan kaum fakir miskin papa. Sebagian besar dari manusia Muslim yang ada masih berkutat untuk memperkaya diri, kelompok, dan pengurus partainya sendiri. Masih sangat sedikit manusia Muslim Indonesia yang berani secara praktis—bukan hanya orasi belaka—memberikan bantuan dan pemberdayaan secara tulus ikhlas kepada sesama umat Islam, khususnya para kaum fakir miskin papa.

Paradoksal fenomena di atas, yakni jumlah manusia Muslim Indonesia yang sangat besar akan tetapi tidak memiliki kekuatan ideologi, kekuatan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya, dan kekuatan gerakan adalah secara tidak langsung merupakan dari hasil pola pendidikan Islam selama ini. Pola dan model pendidikan Islam yang dikembangkan selama ini masih berkutat pada pemberian materi yang tidak aplikatif dan praktis. Bahkan sebagian besar model dan proses pendidikannya terkesan “asal-asalan” atau tidak professional. Selain itu, pendidikan Islam di Indonesia negara tercinta mulai tereduksi oleh nilai-nilai negatif gerakan dan proyek modernisasi yang kadang-kadang atau secara nyata bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Ada kalanya kita kilas balik perihal pola pendidikan hususnya pendidikan islam yag ada di Indonesia dengan pola pendidikan nabi Muhammad SAW.

Pendidikan [Islam] pada periode awal [masa Nabi saw] misalnya, tampak bahwa usaha pewarisan nilai-nilai diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia agar terbebas dari belenggu aqidah sesat yang dianut oleh sekolompok masyarakat elite Qureisy yang banyak dimaksudkan sebagai sarana pertahanan mental untuk mencapai status quo, yang melestarikan kekuasaan dan menindas orang-orang dari kelompok lain yang dipandang rendah derajatnya atau menentang kemauan kekuasaan mereka.

Gagasan-gagasan baru yang kemudian dibawa dalam proses pendidikan Nabi, yaitu dengan menginternalisasi nilai-nilai keimanan baik secara individual maupun kolektif, bermaksud menghapus segala keperyaan jahiliyah yang telah ada pada saat itu. Dalam batas yang sangat meyakinkan, pendidikan Nabi dinilai sangat berhasil dan dengan pengorbanan yang besar, jahiliyahisme masa itu secara berangsur-angsur dapat dibersihkan dari jiwa mereka, dan kemudian menjadikan tauhid sebagai landasan moral dalam kehidupan manusia.

Proses pendidikan yang dilakukan Nabi, yang aksentuasinya sangat tertuju pada penanaman nilai aqidah [ketauhidan], keberhasilan yang dicapainya memang sangat ditunjang oleh metode yang digunakannya. Pada proses pendidikan awal itu, Nabi lebih banyak menggunakan metode pendekatan personal-individual. Dalam meraih perluasan dan kemajuaannya, baru kemudian diarahkan pada metode pendekatan keluarga, yang pada gilirannya meluas ke arah pendekatan masyarakat [kolektif].

Pengembangan pendidikan Islam yang telah ada itu, yang pada awalnya lebih tertuju pada pemberdayaan aqidah, diupayakan Nabi dengan menempatkan pendidikan sebagai aspek yang sangat penting, yang tercermin dalam usaha Nabi dengan menggalakkan umat melalui wahyu agar mencari ilmu sebanyak-banyaknya, dan setinggi-tingginya. Masjid-masjid, pada periode awal itu, bahkan menjadi pusat pengembangan ilmu dan pendidikan, sekalipun masih mengkhususkan pada menghafal al-Qur’an, belajar hadis, dan sirah Nabi. Disiplin-disiplin lain seperti filsafat, ilmu kimia, matematika, dan astrologi kemudian juga berkembang, namun tidak dimasukkan dalam kurikulum formal. Semua disiplin ini diajarkan atas dasar kesadaran orang tua untuk mencarikan guru demi kemajuan anaknya [Aziz Talbani, terjemahan A. Syafii Maarif, 1996:2].

Pada era abad ke-20 ini, pendekatan pendidikan Islam berlangsung melalui proses operasional menuju pada tujuan yang diinginkan, memerlukan model yang konsisten yang dapat mendukung nilai-nilai moral-spritual dan intelektual yang melendasinya, sebagaimana yang pertama kali dibangun Nabi. Nilai-nilai tersebut dapat diaktualisasikan berdasarkan kebutuhan dan perkembangan manusia yang dipadukan dengan pengaruh lingkungan cultural yang ada, sehingga dapat mencapai cita-cita dan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia disegala aspek kehidupannya.

Tetapi apa yang terjadi, kondisi pendidikan Islam pada era abad ke-20, mendapat sorotan yang tajam yang kurang menggembirakan dan dinilai menyandang “keterbelakangan” dan julukan-julukan yang lain, yang semuanya bermuara pada kelemahan yang dialaminya. Kelemahan pendidikan Islam dilihat justru terjadi pada sector utama, yaitu pada konsep, sistem, dan kurikulum, yang dianggap mulai kurang relevan dengan kemajuan peradaban umat manusia dewasa ini atau tidak mampu menyertakan disiplin-disiplin ilmu lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kenyataannya yang ada ini, memasukkan pendidikan Islam dalam klasifikasi yang belum dapat dikatakan telah berjalan dan memberikan hasil secara memuaskan. Hal ini mempunyai pengertian belum mampu menjawab arus perkembangan zaman yang sangat deras, seperti timbulnya aspirasi dan idealitas yang serba multi interes dan berdemensi nilai ganda dengan tuntutan hidup yang amat beragam, serta perkembangan teknologi yang amat pesat [Hifni Muchtar, 1992:52].

Melihat kenyataan ini, maka tak ayal lagi bahwa pendidikan Islam perlu mendapat perhatian yang serius dalam menuntut pemberdayaan yang harus disumbangkannya, dengan usaha menata kembali keadaannya, terutama di Indonesia. Keharusan ini, tentu dengan melihat keterkaitan dan peranannya di dalam usaha pendidikan bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, sehingga perlu ada terobosan seperti perubahan model dan strategi pelaksanaannya dalam menghadapi perubahan zaman.

Usaha penataan kembali akan memperoleh keuntungan majemuk, karena: Pertama, pendidikan Islam subsistem pendidikan nasional di Indonesia, akan dapat memperoleh dukungan dan pengalaman posetif. Kedua, pendidikan Islam dapat memberikan sumbangan dan alternatif bagi pembenahan sistem pendidikan di Indonesia dengan ragam kekurangan, masalah, dan kelemahannya. Ketiga, sistem pendidikan Islam yang dapat dirumuskan akan memiliki akar yang lebih kokoh dalam realitas kehidupan kemasyarakatan [Suyata, 1992: 23].

Pendidikan Islam yang bermakna usaha untuk mentransfer nilai-nilai budaya Islam kepada generasi mudaya, masih dihadapkan pada persoalan dikotomis dalam sistem pendidikannya. Pendidikan Islam bahkan diamati dan disimpulkan terkukung dalam kemunduran, kekalahan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, perpecahan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. Bahkan, pendidikan yang apabila diberi embel-embel Islam, juga dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan [Suroyo, 1991: 77].

Pandangan ini sangat berpengaruh terhadap sistem pendidikan Islam, yang akhirnya dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua dalam konstelasi sistem pendidikan di Indonesia, walaupun dalam undang-undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam mesupakan sub-sistem pendidikan nasional. Tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya, bahkan pendidikan Islam sering “dinobat” hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin.

Dalam hal ini, maka pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini memberi kesan yang tidak menggembirakan. Meskipun, kata Muchtar Buchori, tidak dapat dipandang sebagai evidensi yang kongklusif dalam penglihatannya ialah kenyataan, bahwa setiap kali ada murid-murid dari suatu lembaga pendidikan Islam yang turut serta dalam lembaga cerdas tangkas atau lomba cepat-tepat di TVRI, maka biasanya kelompok ini mendapatkan nilai terenda. Evidensi kedua ialah bahwa partisipasi siswa-siswi dari dunia pendidikan Islam dalam kegiatan nasional seperti lomba Karya Ilmiah Remaja menurut kesan saya sangat rendah, dan sepanjang pengetahuan saya belum pernah ada juara lomba ini yang berasal dari lembaga pendidikan Islam [Suroyo, 1991:77]. Hal ini, merupakan suatu kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

Dalam konfigurasi sistem pendidikan nasional, pendidikan Islam di Indonesia merupakan salah satu variasi dari konfigurasi sistem pendidikan nasional, tetapi kenyataannya pendidikan Islam tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini. Apabila dirasakan, memang terasa janggal, bahwa dalam suatu komunitas masyarakat Muslim, pendidikan Islam tidak mendapat kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini.

Apalagi perhatian pemerintah yang dicurahkan pada pendidikan Islam sangatlah kecil porsinya, padahal masyarakat Indonesia selalu diharapkan agar tetap berada dalam lingkaran masyarakat yang sosialistis religius [Muslih Usa, 1991:11]. Maka, dari sinilah timbul pertanyaan, bagaimanakah kemampuan pengelola pendidikan Islam mengatasi dan menyelesaikan problem-problem yang demikian?

Realitas pendidikan Islam pada umumnya memang diakui mengalami kemunduran dan keterbelakangan, walaupun akhir-akhir ini secara berangsur-angsur mulai terasa kemajuaannya. Ini terbukti dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan beberapa model pendidikan yang ditaarkan. Tetapi tantangan yang dihadapi tetap sangat kompleks, sehingga menuntut inovasi pendidikan Islam itu sendiri dan ini tentu merupakan pekerjaan yang besar dan sulit. A. Mukti Ali, memproyeksikan bahwa kelemahan-kelemahan pendidikan Islam dewasa ini disebabkan oleh factor-faktor seperti, kelemahan dalam penguasaan sistem dan metode, bahasa sebagai alat untuk memperkaya persepsi, dan ketajaman interpretasi [insight], dan kelemahan dalam hal kelembagaan [organisasi], ilmu dan teknologi. Maka dari itu, pendidikan Islam didesak untuk melakukan inovasi tidak hanya yang bersangkutan dengan kurikulum dan perangkat manajemen, tetapi juga strategi dan taktik operasionalnya. Strategi dan taktik itu, bahkan sampai menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya sehingga lebih efektif dan efisien, dalam arti paedagogis, sosiologis dan cultural dalam menunjukkan perannya [H.M.Arifin, 1991:3].

Krisis pendidikan di Indonesia, oleh H.A. Tilaar [1991] secara umum, diidentifikasi dalam empat krisis pokok, yaitu menyangkut masalah kualitas, relevansi, elitisme dan manajemen. Berbagai indicator kuantitatif dikemukakan berkenaan dengan keempat masalah di atas, antara lain analisis komparatif yang membandingkan situasi pendidikan antara negara di kawasan Asia. Memang disadari bahwa keempat masalah tersebut merupakan masalah besar, mendasar, dan multidimensional, sehingga sulit dicari ujung pangkal pemecahannya [Sukamto, 1992].

Krisis ini terjadi pada pendidikan secara umum, termasuk pendidikan Islam yang dinilai justru lebih besar problematikanya. Karena itu, menurut A.Syafii Maarif, bahwa

situasi pendidikan Islam di Indonesia sampai awal abad ini tidak banyak berbeda dengan perhitungan kasar di atas. Sistem pesantren yang berkembang di nusantra dengan segala kelebihannya, juga tidak disiapkan untuk membangun peradaban [A. Syafii Maarif, 1996:5]. Melihat kondisi yang dihadapi, maka penataan model pendidikan Islam di Indonesia adalah suatu yang tidak terelakkan. Strategi pengembangan pendidikan Islam hendaknya dipilih dari kegiatan pendidikan yang paling mendesak, berposisi senteral yang akan menjadi modal dasar untuk usaha pengembangan selanjutnya. Seperti kita ketahui, bahwa lembaga-lembaga pendidikan seperti keluarga, sekolah, dan madrasah, masjid, pondok pesantren, dan pendidikan luar sekolah lainnya tetap dipertahankan keberadaannya.

 


[1] Nurkholis majid. Islam Doktrin dan peradaban. Paramadina. Jakarta hal: 118

[2] Nurkholis majid. Islam Doktrin dan peradaban. Paramadina. Jakarta

[3] Budhy Munawar Rachman. Islam Pluralis. Hal: 14

[4] Salim Ali Al Bahnasawi. Wawasan Sistem Politik Islam. Jakarta: Pustaka Al-kautsar.

[5] Munawar Sadjali, Islam dan Tata Negara; ajaran islam dan pemikiran. Jakarta; UI pers. 1993 Hal: 278

[6] M Alfan alfian.  Menjadi Pemimpin Politik, Jakarta: Gramedia 2009. Hal: 191

[7] Komarudin hidayat, Islam Negara dan Civil Society. Jakarta: Paramadina. Hal: 70

[8] Jhon. J Donohue, Islam dan Pembaharuan. Jakarta: PT. Raja Gafindo Persada 1995. Hal: 465

[9] Ismail Yusanto, Islam Ideologi; refleksi cendikiawan muda.  Jatim; Al Izzah. Hal: 31

[10] Jhon J Donohue, Islam dan Peradaban. Jakarta: PT. Raja Gafindo Persada. Hal: 167

[11] Ibid. hal 168

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s