Saat Tirani Berjuang Untuk Taat

Athi’ulloha wa athi’urrol wal ulil amri minkum. ” Taatlah kalian semua kepada allah, taatlah kalian semua kepada pemimpin, dan kepada ulil amri diantara kamu “. Ayat itu memerintahkan kepada kita dengan tegas akan ketaatan kepada tiga unsur seperti yang disebutkan, namum mari kita perhatikan dalam perintah ketaatan ketiga unsur itu, hanya ada dua kata taat, yaitu “athi’ullaha” dan ” athiurrosul”, tetapi tidak terdapat kata “athiu” dalam ulil amri.

Allah maha segalanya, dan Rosul (Muhammad) berisfat sidiq, sehingga allah tidak tanggung tanggung untuk memerintahkan manusia agar taat. Namun Ulil amri itu adalah golongan setelah Allah dan Rosul yang tidak luput dari salah dan lupa, artinya ulil amri taat kepada ulilamri haruslah dikaji dan dipahami terlebih dahulu, apakah bertentangan dengan azas agama, azas kemanusiaan, azas kemaslahatan, azas keumatan, dan jika terdapat kehendak pemerintah yang justru bertentangan dengan semua itu maka Rosul menjawab ” laa Thoata fii maqshiyatil kholiq “artinya ” tiada ketaatan dalam kemaksiayatan”.

Dalam ilmu sosial terdapat kelompok kecil yang harus bisa menjadi penyeimbang, atau kelompok kritis yang bertujuan merubah akan hal yang bersifat ketidak adilan atau kemonotonan, sehingga disebut ” agents of social change “ atau dalam politik disebut “oposisi”. Kedua istilah tersebut sesuai dengan penafsiran ayat diatas, karena keduanya itu adalah element yang muncul dari masyarakat biasa, atau masyarakat umum selain ulil amri.

Alllah sudah mengingatkan jauh-jauh hari, betapa kebenaran akan ulil amri itu bersifat tidak absolut, perlu kiranya dikaji secara dalail dan azas kemanusiaan, tegasnya ada perintah mengkontrol sebelum taat. Kontrol masyarakat itulah yang diperlukan untuk memberi sanksi moral saat pemerintah dzalim.

Terlebih dengan era sekarang, dimana trendnya pemerintah itu bersifat dominan, otoriter dan sewenang-wenang, hampir semua ruang birokrasi dikuasai konco-konco politiknya, dengan dalih demokrasi dan sistem. Ini semakin memperlebar ruang ketidak adilan, kesewenang-wenangan, dan keserakahan.

Ada dua faktor yang menyebabkan trend seperti itu, pertama faktor sifat manusiawi yang selalu ingin berkuasa (psikologi), dan kedua faktor katakutan pengausa akan kontrol masyarakat yang terkadang anarkis (sosiologis).

Terutama jika fator kedua ini lebih dominan dibanding dengan faktor pertama, maka inilah kesempatan bagi tirani yang selalu giat menerjemahkan kebenaran. Namun selalu kita menemukan kejanggalan gerakan kaum tirani ini, terkadang mereka terpeleset dengan idealismenya. Mereka terjebak dengan pilihan hidup sendiri, karena kaum minoritas inilah yang disebut dengan kaum idealisme, yang selau berjuang menegakan kebenaran, berbeda dengan pemguasa yang tiap harinya diberikan fasilitas kemewahah yang memadai.

Harus ada orientasi yang tegas, bahwa menjadi kaum kritis adalah kaum yang selalu meluruskan penguasa disaat salah, kaum yang peduli dengan masyarakay disaat dianiaya. Bukan untuk dilihat lantas mengharapkan imbalan. Karena mau tidak mau kaum kritis adalah mereka yang berada diluar sistem pemerintah.

Itu bukan profesi, melainkan perjuangan. Maka kaum kritis intelektualis harus bersifat kridibelitas dan proposional. sehingga bisa membedakan mana lahan pencaharian, mana lahan perjuangan.

Terlebih dengan era global, era yang memaksa negara berkembang untuk bisa bersaing dengan negara maju bahkan negara adikuasa. Setidakanya inilah yang menjadi lahan lebar untuk bisa berkarya dalam mengautkan pondasi infrastruktur hidup.

Seperti halnya Muhammad SAW, beliau dan khodijah adalah seorang saudagar, sehingga mampu bersikap idealis secara kaffah, atau bukan gerakan perubahan yang setengah-setengah. Atau seperti ketujuh pemuda kahfi, yang sampai jiwa raganya ditolong allah. Atau seperti pahlawan-pahlawan muda indonesia yang kokoh melawan orde lama dan orde baru dan tewas akibat diculik?, namun kebesaran nama mereka selalu terkenang dengan bersih sampai anak cucunya.

4 responses to “Saat Tirani Berjuang Untuk Taat

  1. Ping-balik: Saat Tirani Berjuang Taat « Faridi – Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s