Mestikah Guru yang dikambing hitamkan!

”Pendidikan kebangsaan, karakter, atau nilai-nilai tersebut masih jadi perhatian di kurikulum pendidikan. Pertanyaannya, mengapa pendidikan kewarganegaraan itu sering kali tidak bisa melekat dan dijiwai siswa, ya… karena metodologi pembelajaran yang dilakukan guru umumnya tidak menarik,” kata Diah Harianti, Kepala Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, di Jakarta, Jumat (20/11).

Terlalu picik saya kira pernyataan diatas jika hanya guru yang jadi objek kesalahan.Kita berangkat dari definisi pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Masalah ini bukan diguru. Hendaknya kita jangan melupakan sejarah indah kita dimasa sekolah, masa-masa indah saat kita dikenalkan dengan nilai-nilai luhur nenek moyang, nilai-nilai etika keindonesiaan. Ditambah dengan nilai kekayaan kearifan lokal dinusantara yang mengikat secara tradisi, namun kaya akan kepancasilaan, keislaman dan keindonesiaan.

Namun pendidikan kewarganegaraan bukanlah tanggung jawab guru yang relatif bergajih rendah semata, tapi tanggung jawab semua terutama mereka yang berpangkat dan bergaji “gede” yang justru meleburkan impian dan keindahan yang diceritakan oleh guru dikelas.

Kata guru; Indonesia adalah berazas pancasila, kita bertuhan hendaknya menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang kita anut, kita adalah yang adil dan berada maka hendaknya junjunglah etika berkehidupan, kita adalah bersatu dengan segala kekayaan budaya warisan nenek moyang maka hendaknya jaga dan rawatlah dengan tingkah laku bermasyarakat, indonesia adalah yang menjunjung azas musyawarah maka hendaklah kebersamaan dan kogotong royongan yang dijaga, indonesia adalah menjunjung keadilan sosial maka adilah kalian sebagai pemimpin-pemimpin bangsa.

Mereka mengajarkan kesederahanaan dengan segala tingkahnya, mereka mengajarkan kerukunan dengan segala interaksinya, mereka mengajarkan kebersamaan dengan segala gotong royongnya, mereka mengajarkan kejujuran dengan segala transparansinya, berbeda dengan pejabat-pejabat hari ini yang hampir bertolak belakang dengan gaya hidup dan prilakunya, munafik!

Itulah pelajaran serupa diseluruh nusantara. Namun keindahan hikmah itu justru dihapus dengan realita para oknum-oknum yang mengaku negarawan, yang mengaku wakil rakyat, dan yang mengaku penegak hukum, yang tiap hari tampil berbagai dimedia baik TV maupn cetak dengan kausus-kasus yang tidak mendidik, dari korupsi, kriminalisasi, sampai seksualitas.

Maka dari itu, siapa sebenarnya yang harus disalahkan!, ini adalah tanggung jawab semua. Maka pendidikan diindonesia bukanlah sekedar tersedia dimeja sekolah, namun menghakimi oknum pejabat yang menghancurkan keutuhan pendidikan diindonesia adalah bagian dari penyelamatan pendidikan. Seperti halnya 50 guru besar di Universitas Makassar yang mengerahkan mahasiswanya untuk turun kejalan menyikapi penegak hukum dalam hal ini POLRI dan kejaksaan yang melakukan kriminalisasi.

One response to “Mestikah Guru yang dikambing hitamkan!

  1. Sabar, sabar, sabar, saudaraku. Sudah cukup lama Indonesia dilanda krisis guru. Beliau telah tewas dengan senjata lawan, “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Dan, hanya para Cantrik yang tersisa …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s