HMI dan Pendidikan (part 2)

BAB II

SEJARAH DAN KIPRAH HMI

  1. Kiprah HMI Pasca Kemerdekaan RI

Himpunan Mahasiswa Islam Disingkat HMI, didirikan di Yogyakarta tanggal 5 Februari 1947, yang diprakarsai seorang pemuda benama Lafran Pane (1922-1991), dia adalah mahasiswa tingkat 1 Sekolah Tinggi Islam (STI), hingga saat ini HMI menjadi organisasi tertua dan terbesar di Indonesia.

Meski pembentukannya satu tahun setelah kemerdekaan, HMI sangat dekat dengan bung Karno, karena terdapat kecocokan antara pemikiran-pemikiran beliau dengan pendiri HMI seperti Dachlan, yaitu wawasan kebangsaan, dimana pada tahun 1925 diditikannya JIB (Jong Islamieten Bond), bung Karno sering memberikan ceramahnya diforum-forum JIB, sehingga ketika Dachlan menjadi ketua Umum PB HMI sangat didengar sarannya oleh bung Kaeno.[1]

Organisasi ini iktu serta berjuang ditengah-tengah masyarakat Indonesia sejak kelahirannya sampai sekarang. Hal ini tidak lepas dengan perannya sebagai organisasi perjuangan, yang ingin melakukan perubahan dan pembaharuan disegala bidang. Sejak saat itu HMI dikenal luas dikalangan pemuda, pelajar, pemerintah dan kaum cendikiawan.

Hususnya dikalangan perguruan tinggi, dunia kemahasiswaan dan kaum cendikiawan, nama  HMI sudah tidak asing lagi.

Nanang Tahqiq alumnus Mac gain Canada memaparkan, yang membuat HMI berkilau saat itu adalah terletak pada Latihan Kader, tradisi intelektual, dan independensi[2]

Selain basis HMI di Perguruan Tinggi, kegiatan dan aktivitas HMI dalam kehidupan kampus ini membawa citra HMI dan kader HMI semakin populer. Keikut sertaannya sebagai organisasi ekstra universiter dalam kehidupan kampus telah memberi warna dan corak bagi kehidupan intelektual Indonesia. Jadi tidak mengherankan jika alumnus HMI banyak. HMI telah ikut andil membentu mengantarkannya menjadi seorang sarjana yang berwawasan ke-Islaman, ke-Indonesiaan, dan kebangsaan.

Alumnus HMI sangat potensial, terbukti dari kdudukannya dalam lembaga pemerintahan dan lembaga Masyarakat. Seperti ditulis majalah TEMPO nomor 41 tanggal 9 Desember 1989, saat KAHMI di Hotel Sahid Jakarta pada tangal 2 Desember 1989, ditulis bahwa KAHMI pemasok pejabat[3], karena alumnus HMI yang dengan sungguh-sungguh mengikuti perkaderan HMI dinilai memenuhi syarat moral menjadi calon pemimpin seperti : al ’adalah (keseimbangan), mapan dalam hal pengetahuan, visioner, berani dan amanat.[4]

Begitu juga partisipasi HMI yang telah melalui 10 fase perjuangan 1), Fase konsolidasi spiritual dan proses berdirinya HMI, 2). Fase ersri dan pengukuhan, 3). Fase Perjuangan Bersenjata dan perang kemerdekaan serta menghadapi pemberontakan II PKI, 4). Fase Pembinaan dan pengembangan organisasi, 5). Fase tantangan I menghadapi Islam Fobhia, 6). Fase kebangkitan HMI sebagai pejuang Orde Baru dan pelopor angkatan ’66, 7). Fase HMI dalam pertisipasi pembangunan, 8). Fsae pergolakan dan pembaruan pemikiran, 9). Fase Reformasi, 10). Fase tantangan II masa kemunduran dan kebangkitan kembali HMI dan rekonstruksi Indonesia baru[5] ini ikut serta dalam perjuangan bangsa Indonesia mencapai tujuannya secara kongkret. Keikutsertaan HMI berpartisipasi menunjang pemnagunan nasional sejak dulu, meliputi 3 aspek :

  1. Paertisipasi pembentukan iklim dan pembinaan sumber daya manusia
  2. Partisipasi dalam bentuk pemberin konsep-konsep dalam berbagai bidang
  3. Partisipasi dalam bentuk pelaksanaan.

Dari sisi lain, sejak kelahirannya telah membawa gagasan dan pembaruan dalam 5 aspek :

  1. Pembaruan dibidang politik
  2. Pembaruan dibidang pendidikan
  3. Pembaruan dibidang ekonomi
  4. Pembaruan dibidang pemikiran dalam Islam
  5. Pembaruan dibidang kebudayaan Islam.[6]

Masih banyak peranan yang dimainkan anggota HMI. Semuanya telah direkam sejarah sebagai bagian dari kehidupannya yang panjang, hampir sama dengan usia bangsa Indonesia. Dari kehidupannya yang panjang dengan segala peranan dan perjalannya yang telah dilaksanakannya, ternyata penulisan sejarah dan historiografi belum dilakukan sejak awal kelahirannya sejak tahun 1954, akibatnya HMI hampir kehilangan pegangan. Hal ini massih tertolong karena waktu itu pendiri HMI Lafran Fane dan tokoh-tokoh lainnya masih hidup menjadi narasumber sejarah yang bersifat oral, yang sewaktu-waktu dapat dimintai menkonstruksikannya.

Keadaan objektiv seperti itu menimbulkan kesadaran dikalangan kader HMI dan alumnusnya. Kegunaannya bukan hanya dibutuhkan untuk generasi sekarang, terlebih lebih untuk generasi mandatang. Sekaligus membuktikan HMI itu hidup dengan berbagai karya dan peranannya yang telah dimainkannya dalam panggung kepemudaan kemahasiswaan di Indonesia. Dikalangan calon sarjana dan cendikiawan, bermunculan pemikiran serta keinginan menjadikan HMI sebagai objek studi. Pada tenggang waktu yang tidak terlalu jauh, di Perguruan Tinggi, baik yang dilakukan anggota HMI maupun bukan anggota HMI, bernunculan karya ilmiah tentang HMI seperti Risalah Untuk Sarjana Muda, Skripsi, Tesis, Disertasi, maupun bentuk buku atau karangan biasa.

Tulisan dan karya tulis tentang HMI jumlahnya sangat banyak, sehingga lebih memudahkan setiap pembaca, dan ikut memperkaya khazanah ilmu pengetahuan di Indonesia.

B. Azas, Peran dan Fungsi HMI

B.1. Azas HMI

Sebelum berbicara jauh tentang hal ini, sebelumnya telah dibicarkan, bahwa HMI didirikan dengan rintangan kolonialisme, pemberontakan dan krisis sosial budaya.

Semenjak berdirinya HMI tahun 1947, berbagai komunitas bermunculan, namun belum ada komunitas atau wadah yang mengikat mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang beragama Islam, terlebih saat itu masa ancaman bahaya  laten komunis yang menyerang kaum proleta. Maka relavansi dari itu semua, Drs. Lafran Pane, Dawam Raharjo, Ahmad Wahib dan kawan-kawan mendeklaratorkan HMI dengan Azas Islam.

Dimensi Islam menjadi Insfirasi nomor wahid di HMI, karena Islam bersifat generalis sebagai  bahan perkaderan anggota HMI yang selalu gelisah dengan relita, dan agen pembaru. Islam sebagai ajaran yang haq, dan sempurna hadir diperuntukan untuk mengatur pola hidup manusia agar sesuai fitrah kemanusiaanya yakni sebagai kholifah dimuka bumi dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata kehadirat-Nya[7].

Dan mereka yang berjuang dijalan-Ku (kebenaran),maka pasti aku tunjukan jalannya (mencapai tujuan) sesungguhnya Tuhan itu cinta kepada orang-orang yang berbuat (progresif).” (QS. Al ankabut: 69).

Secara normatif Islam tidak sekedar agama ritual yang cenderung individual, akan tetapi meupakan tata nilai yang mempuyai komunitas dengan kesadaran kolektif yang memuat pemahaman dan kesadaran, kepentingan, struktur, dan pola aksi bersama demi tujuan-tujuan politik.

Pun dalam dimensi kemasyarakatan, Islam memberikan spirit pada pemebntukan moral dan etika. Islam yang menetapkanTuhan dari segala tujuan menyiratkan perluny meniru etika ke-Tuhanan yang meliputi sikap rahmat (Pengasih), barr (pemula), ghafur (pemaaf), rahim (penyayang), dan Ihsan (berbuat baik). Totalitas dari etika tersebut menjadi kerangka pembentukan manusia yang kaffah, antara aspek ritual dengan aspek kemasyarakatan (politik,ekonomi,dan sosial budaya).

Adanya kecenderungan bahwa peran kebangsaan Islam mengalami marginalisasi dan tidak mempunyai peran yang signifikan dalam mendisain bangsa merupakan proses yang ambiguitas dan distorsif. Fenomena ini ditandai dengan terjadinya mutual understanding antara islam sebagai agama dan pancasila sebagai idiologi. Penempatan posisi yang antagonis sering terjadi karena berbagai kepentingan politik, penguasa dan politisi-politisi yang mengalami spilit personality

Kelahiran HMI dari rahim pergolakan revolusi fisik bangsa pada tanggal 5 februari 1947 didasari pada semangat implementasi nilai-nilai keislaman dalam berbagai aspek ke-Islaman dalam berbagai aspek ke-Indonesiaan.

Semangat nilai menjadi embrio lahirnya komunitas Islam sebagai kelompok kepentingan (interst group) dan kelompok penekan (pressure group). Dari sisi kepentingan sasaran yang hendak diwujudkan adalah tertuangnya nilai-nilai tersebut csecara normatif pada setiap level kemasyarakatan, sedangkan pada posisi penekan keinginan sebagai pejuang tuham (sabilillah) dan pembelaan mustadh’afh.

Proses internalisasi dalam HMI yang sangat beragam dan suasana interaksi yang sangat plural menyebabkan timbulnya berbagai dinamika k-Islaman dan ke-Indonesiaan dengan dengan rasionalisasi menurut subyek dan waktunya.

Pada tahun 1955 pola interaksi politik didominasi pertarungan idiologis antara nasioalis, komunis dan agama (Islam). Keperluan sejarah (history necessity) memnberikan spirit proses idiologisasi organisasi. Eksternalisasi yang muncul adalah kepercayaan yang muncul dari orgaisasi untuk bertarung dengan organisasi lain yang mencapai titik kulminasinya pada tahun 1965.

Seiring dengan kualitas intelektual pada kader HMI yang menjadi ujung tombak pembaharuan pemikiran dan pendidik Islam dan proses transformasi politik bangsa yang membutuhkan suatu perekat serta ditopang akan kesadaran sebuah tanggung jawab kebangsaan, maka pada kongres X HMI di Palembang, tanggal 10 oktober 1971 terjadilah proses justifikasi Pancasila dalam mukadimah AD HMI.

Orientasi  aktivitas HMI yang merupakan penjabaran dari tujuan organisasi menganjurkan terjadinya proses adaptasi pada zamannya. Keyakinan pancasila sebagai keyakinan idiologi negara pada kenyataannya terjadi stagnasi. Hal itu memberikan tuntutan strategi baru bagi lahirnya metodologi aplikasi Pancasila. Normalisasi Pancasila pada setiap kerangka dasar organisasi menjadi suatu keharusan agar mampu mensuport bagi setiap institusi kemasyarakatan dalam mengimplementasikan tata nilai Pancasila.

Konsekuensi yang dilakukan HMI adalah ditetapkannya Islam sebagai identitas yang mensubordinasi Pancasila.

Islam yang senantiasa memberikan energi pada perubahan mengharuskan para penganutnya untuk melakukan inovasi, internalisasi, eksternalisasi maupun obyefisikasi.

Seperti yang dilakukan oleh pendatang baru (saat itu) Amin Rais dengan Muhamdiyahnya dengan giat melakukan saresehan keilmuan ditahun 1982.[8]

Dan yang paling fundamental adalah peningkatan gradasi ummat diukur dengan keimanan yang datang dari kesadaran paling dalam bukan dari masalah eksternal. Perubahan bagi HMI merupakan keharusan, dengan semakin meningkatnya keimanan akan Islam sebagai landasan teologis dalam berinteraksi secara vertikan maupun horizontal, maka pemilihan Islam sebagai azas merupakan pilihan dasar dan bukan implikasi dari sebuah dinamika kebangsaan.

Demi terciptanya idealisme ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, maka HMI bertekad Islam dijadikan sebagai doktrin yang mengarahkan apada peradaban secara integralistik, transendental, humanis dan inklusif. Dengan demikian kader-kader HMI harus berani menegakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta prinsip-prinsip demokrasi tanpa melihat perbedaan keyakinan dan mendorong terciptanya penghargaan Islam sebagai sumber kebenaran hakiki dan menyerahkan semuanya demi ridlo-Nya.

B.2. Peran HMI

Dalam anggaran dasar HMI pasal 9 disebutkan bahwa peran HMI adalah sebagai  organisasi perjuangan[9]. Peran HMI merupakan relevansi sosio kultur kebangsaan dari mulai masa pemberontakan sampai sekarang, gejolak-gejolak keagsaan terutama masalah politik. Carut marutnya masalah kebangsaan di Indonesia amatlalah panjang, di era penjajahan HMI mengikuti aus perjuangan militer, namun setelahnya usai masalah pendidikan jadi tertinggal, hingga Lafran Pane dan Dahlan Rahardjo kembali berbenah dunia perjuangan akademis.

Peran HMI sebagai oerganisasi perjuangan juga merupakan konsekuensi logis sebagai komunitas mahasiswa yang bersifat indevendent dan terlepas dengan muatan pragmatis tegasnya HMI sebagai organisasi pembaru (agen perubahan)  merupakan landasan dari peran HMI.

Hal itu sesuai dengan normatif dari pengertian inteltual. Kata intelektual berasal dari bahasa inggris, berasak dari  kata ”intelectual” yang menurut idiomatic dan syntactic english dictionory berarti ” having or showing good mental powers and understanding (memiliki atau meninjukan kekuatan-kekuatan mental dan pemahaman yang baik). Sedangkan kata intellect diartikan ” the powers of  the mind by whych we know reasons and think ” yang artinya kekuatan fikiran yang dengannya kita mengetahui kita menalar dan berfikir. Disampng itu juga diartikan sebagai sesorang yang memiliki dari potensi tersebut secara aktua. Sedangkan secara bahasa indonesia diartikan sebagai ”pemikir-pemikir yang memiliki kemampuan penganalisaan terhadap masalah-masalah tertentu”.[10]

B.3. Fungsi HMI

Dalam Anggaran Dasar HMI pasal 8 disebutkan bahwa Fungsi HMI adalah sebagai organisasi perkaderan. Secara harfiah kader artinya benteng. Benteng yang dipersiapkan untuk menghadang segala marabahaya dari dalam dan luar. Hal ini juga mempertegas, bahwa anggota HMI bukanlah sekedar pelengkap kuantitas personil organisasi, namun ada penekanan kualitas untuk menjadi sebagai kader. Berangkat dari itu, komitmen HMI sebagai organisasi perkaderan dibuktikan dengan adanya jenjang pendidikan kader HMI, mulai dari Latihan Kader I (bassic training), latihan kader II (intermedite training) dan Latihan Kder III (advent training). Tak cukup itu, perkaderan HMI ditunjang dengan berbagai perkaderan skunder seperti senior course (SC), up grad NDP, dan pelatihan menjadi instruktur. Untuk menjaga konsistensi perkaderan tersebut, maka menjadi kewajiban yang dituangkan dalam amanat AD-ART HMI dari generasi ke generasi.

Sehingga berawal dari devinisi kader, yaitu sebagai benteng organisasi dan masyarakat dan terbawa fungsi HMI sebagai organisasi perkaderan, maka harus menjalankan perkaderan secara terus-menerus, sistematis, terencana yang diatusr dalam pedoman perkaderan, setrta harus kreatif dalam membuat kaerifan program perkaderan.[11]

B.4. Tujuan HMI

Tujuan organisasi didasari dasar otivasi pembentukan, status dan fungsinya dalam totalitas dimana ia berada. Dalam totalitas kehidupan bangsa Imdonesia maka HMI adalah organisasi yang menjadikan Islam sebagai sumber nilai. Motivasi dan inspirasi bahwa HMI bersetatus organissi kemahasiswaan, berfungsi sebagai oranisasi perkaderan dan bersifat independent.

Pemantapan fungsi perkaderan HMI ditambah dengan kenyataan bangsa Indonesia sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup yang terpadu antara pemenuha tugas ukhrowi dan duniawi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum intelektual yang semakin besar dimasa mendatang merupaka kebutuhan yang paling mendasar.

Tahun 1947 masa berdirinya HMI, HMI bertujuan : (1). Mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat Indonesia. (2). Menegakan dan mengembangkan ajaran islam[12]. Tujuan yang pertama kalinya itu mengandung 3 aspek :

Pertama, aspek politik. Ajaran agama Islam tidak mungkin dikembangkan dan disiarkan dengan baik jika NKRI dijajah Belanda. Karena itu proklamasi tanggal 17 Agustus tahun 1945 harus dipertahankan.agar NKRI terlepas dari cengkraman pejajah, yang berdaulat penuh dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Kedua, aspek ekonomi. Bangsa indonesia harus dimajukan dalam bidang material, sesuai dengan hadits Nabi SAW ” kefakiran itu mengakibatkan kekafiran”.

Ketiga, aspek pendidikan. Agama islam tidak bisa maju dan berkembang dengan baik dan sempurna jika rakyat dan Indonesia masih bodoh. Sesuai dengan hadits Nabi SAW ” tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal ”. Karena itu rakyat Indonesia harus dididik dengan cerdas, dengan mendapatkan pendidikan yang nerata. Memiliki pengetahuan yang kuas sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah.

Ke empat, aspek agama. Lafran Pane menginginkan agama islam itu bukan hanya milik mahasiswa STI , tetapi harus juga dimilki oleh mahasiswa diluar STI. Islam di Indonesia lebih cenderung pada masalah hukum, baik atau rida, haram atau halal, sehingga agama islam cenderung sebagai gudang laranagn.

Kelima, aspek kebudayaan. Karena islam kaya akan kebudayaan dan ras yang bisa disinergiskan dengan Islam[13].

Atas faktor tersebut, maka HMI menetapkan tujuannya sebagaimana dirumuskannya dalam pasal 4 AD HMI[14] yaitu : ” terbinanya imsan akademis, pecipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridoi Allah subhanahu wata’ala”

Dengan rumusan tersebut, maka pada hakekatnya HMI ukanlah organisasi masa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara kualitatif merupalan organisasi pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memipin dan membimbing anggota-anggotanya umtuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektiv.

Salah satu yang memberi motivasi tujuan HMI adalah bahwa Allah SWT telah mewahyukan Islam sebagai agama yang haq dan sempurna untuk mengatur umat manusia agar berkehidupan sesuai dengan fitrhnya sebagai kholifatullah fil ardl dengan kewajibannya mengabdi semata-mata karena-Nya.

C.  Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan HMI

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang pluralistik[15] karena ia menyimpan akar-akar keberagaman dalam hal agama, etnis, seni budaya dan cara hidup. Latar belakang yang indah ini, dengan latar belakang mosail-mosaik yang memilki nuansa-nuansa has masing-masing, tidak mengurangi makna kesatuan bangsa, moto nasional ”Bineka Tunggal Ika” yang dipakei oleh bangsa Indonesia jelas mempertegas adanya pengakuan ”Kesatuan dalam keberagaman, atau keberagaman dalam kesatuan” [16]dalam seluruh spekturm kehidupan bangsa kita.

Pluralitas bangsa Indonesia sudah sejak lama menkadi bahan kajian para ahli antripologi, sosiologi dan pakar lainnya. Hildred Geetz menggambarkan keberagaman kehidupan bangsa Indonesia sebagai berikut :

Terdapat lebih dari tiga ratus kelompok etnis yang berbeda-beda di Indonesia, masing-masing kelompok mempunyai identitas budayanya, dan terlebih dari dua ratus lima puluh bahasa lebih yang dipakainya, hampir semua agama besar yang ada di dunia diwakili, selain dari agama-agama asli yang banyak jumlahnya”[17]

Saat HMI berada dalam fase konsolidasi spiritual, muncul anggota sekaligus penggagas HMI seperti Dahlan Ranuwihardjo dan Ahmad Wahib. Kedua pemuda tersebut adalah kelompok yang selalu gelisah menelusuri konsepsi dan pemikiran Islam sebagai kerangka masyarakat Indonesia kedepan. Kajian-kajian yang dilakukanya didominasoi dengan metode filsafat, sehingga Ahmad Wahib mencetuskan Konsep Pluralisme.

Seperti ditemukan dalam salah satu buku harian beliau ” Aku bukan seorang

kistian, aku Bukan seorang budha, aku bukan seorang hindu, aku bukan seorang komunis tapi aku bagian dari Semuanya”. Konsep itu tidak lain adalah sebgai konsep misi Islam sebagai Rahmatan li ’alamin, tentunya dalam kacamata humanis. Dahlan Ranuwihardjo tidak tanggung-tanggung menyebut Ahmad Wahib sebagai orang jenius dijamnnya. Bertapa tidak, saat itu ketika persatuan sangat diperlukan, justru umat Islam di Indonesia masih disibukan dengan adu argumentasi masalah kota-kotakan pemahaman, sehingga pola pemahaman seperti itu tidak menjamnin masyarakat maslim di Indonesia bisa menunjukan konsep rahmatan lil’alamin, bahkan Soedowo mengatakan ”agar dapat membangkitkan kebangsaan maka belajarlah pada Islam”.[18] Hal itu dinamakan konsep universalisme Islam atau keberlakuan ajaran Islam untuk semua orang dan untuk semua orangdan unruk seluruh dunia, merupakan suatu ajaran yang diterima oleh seluruh manusia Islam sebagai akidah. Argumentasi-argumentasi keagamaan tentang hak itu sangat banyak dan saling berkait-kait, dan boleh jadi juga berbeda-beda, namun pada akhirnya akan bertemu pada natujah yang disebutkan diatas.[19]

Tahun 1953, saat negara Indonesia diuji dengan persaingan partai Islam (Masyumi), partai nasionalis (PNI) dan komunis (PKI), Dahlan Ranuwihardjo sebagai ketua umum PB HMI mengirimkan surat kepada bung Karno pada tanggal 13 April 1953 surat tersebut menjelaskan Pancasila sesuai dengan kultur bangsa Indonesia, namun Pancasila sebagai landasan Idiologis tidak bisa dialternatifkan dengan Islam sebagai landasan teologi.

Berbicara Islam dan bangsa Indonesia sudah amat lekat, bahkan berkaitan[20], karena mayoritas masyarakat Islam adalah menganut agama Islam. Nurkholis Majid menyebutnya Islam Indonesia. Islam Indonesia harus berwawasan mayoritas, artinya bahwa komunitas yang mendominasi komunitas minoritas ini harus mempunyai tanggung jawab kebangsaan, keselamatan dan rasa tentram pada yang minoritas. Islam Indonsia belum menemukan kedudukannya, selama masih ada selalu mengeluh tentang kedudukannya. Ia harus secara nyata merasa bertanggung jawab menciptakan suatu iklim dimana minaritas dapat merasakan ketentraman. Sekedar catatan, bahwa Islam kuat dimasa itu adalah karena mempuyai tradisi itu, para penguasa Islam dijaman klasik, tetapi juga, para penguasa Moghul di India, mempuyai kesadara itu, meraka juga merasa wajib menciptakan perlindungan bagi mereka yang bukan muslim. Karena tuga maoritas untuk menciptakan perlindungan yang minorotas.

Rasa tanggung jawab mayoritas dalam hal ini muslim Indonesia terhadap minoritas adalah dasar landasan teologis Islam dan Pancasila sebagai idiologis, erta kaitannya, bahwa dalam misi Islam adalah memberi rahmar pada seluruh alam. Artinya adalah buka untuk kepentingan kelompok Islam, namun sebagai hakkat ajaran humanis yang terkandung dalam Islam. Serta Pancasila menyebutkan ” keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ”, tegasnya bahwa kedilan itu bukan sekedar tugas pemimpin formal pemerintahan, namun juga individu terutama komunitas mayoritas.

Tidak ada satupun konsep Islam yang tidak berkaitan dengan aspek sosial, dalam pandangan Islam seorang individu tidak ada artinya tanpa masyarakat. Bahlan sebaliknya kita temukan dalam nilai-nilai individual manusia adanya sosok kemasyarakatan yang yang disana Islam menjadikan individu sebagian masyarakat yangt terikat dengan kegiatan memberi dan menerima.[21]

D. Idiologi Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan HMI Dalam Membangun Intelektual Mahasiswa Indonesia Dimasa Transisi

Salah satu faktor yang melatarbelakangi terbentuknya idiologi ke-Islaman dan ke-Indonesiaan HMI adalah sosio kultur bangsa Indonesia pada masa berdirinya HMI, yang secara beriringan masa transisi bangsa dari penjajahan.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa Islam di Indonesia adalah kamunitas mayoritas, meski saat itu masih ada fase-fase tentang kaum muslim di Indonesia. Namun berangkat dari itu terbentuknya nuansa gerakan HMI. Tidak lain adalah idiologi ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang biasa disebut idiologi kebangsaan. Menurut Dahlan Ranuwiharjo bahwa Islam tidak bisa dialternatifkan dengan Pancasila, namun pancasila merupakan dasar hukum positif di Indonesia. Terlebih bahwa Islam bukanlah azas suatu namun diturunkan untuk rahmat seluruh alam, sehingga dengan beragamnya tradisi sosial, budaya, ekonomi dan semua aspek yang terdapat di berbagai negara dianggap penting didakanya hukum positif yang mengatur masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan semua tradisi.

Pembentukan idiologi ke-Islaman dan ke-Indonesiaan HMI sampai sekarang tidak lepas dari kejeniusan dari pemikiran kader-kader HMI yang beragam, seperti Dahlan Ranuwiharjdo yang selalu mengaku menganut paham Islam nasionalis, Ahmad Wahib yang menganut Islam pluralis yang kemudian dikembangkan caak nur, dan lainnya  di tingkatan pendiri HMI. Tidak cukup dari itu, pemikiran-pemikiran tersebut sampai sekarang bagaikan ruh yang menjadi cikal pemikiran kader HMI era modern.

Yang paling esensial adalah berkat kejeniusan cak nur ketika merangkum pemikiran-pemikiran para pendiri menjadi idiologi HMI yang dibakukan dengan sebutan Nilai Dasar Perjuangan (NDP).

Dalam NDP ada enam materi yang kini menjadi ruh perjuangan para kader HMI. Pertama, Dasar-dasar kepercayaan, hal ini merupakan pondasi utama dalam mengkader anggota HMI sebagai agent pembaru yang tidak akan terlepas komunikasinya dengan semua pemeluk agama dan kepercayaan di Indonesia dan dunia. Namun bukan artinya anggota HMI di didik sebagai kaum yang akan mencampurbaurkan kepercayaannya atau dengan kata lain tidak mempunyai kepercayaan husus kepada sebuah agama, hal ini merupakan strstegi anggota HMI untuk seiring seirama dengan semua pemeluk agama dan kepercayaan guna mencapai keniscayaan hakiki.

Kedua, Kemanusiaan. Manuasia adalah pucak ciptaan, merupakan makhluk denagan derajat tertinggi dan wakil Allah di muka bumi. Sesuatu manusia yang membuat manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada pada dirinya melainkan suatu integrasi susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang husus dimilki manusia saja yaitu fitrah. Fitrah membuat manusia suci dan dan secara kodrati cenderung pada kebenaran (hanief).  Dalam konsep humanisme, bahwa  tujuan humanisasi adalah memanusialan manusia.[22] Seiring dengan Al quran, bahwa manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang ala manusia berbeda dengan hewan bukan pula ala malaikat, dengan demikian terkadi keserasian sehingga manusia bisa memposisikan dirinya bukan sebagai hewan dan bukan pula sebagai malaikat.[23]

Ketiga, Kemerdekaan Manusia (Ihtiar) dan (Taqdir). Merdeka merupakan doktrin utama untuk kader HMI sebagai kader yang akan dipersiapkan sebagai generasi pemikir dan pembangun. Kemerdekaan dimaksud adalah keikhlasan kader HMI untuk menegakan kebenaran dan berjung demi kedamaian masyarakat. Sehingga kader HMI akan dilatih sebagai manusia yang merdeka yang akan bebas memilih jalan hidupnya dengan segala kekreatifan yang dimiliki sewaktu menjadi kader HMI. Sedangkan taqdir dalam hidup manusia adalah manusia yang hidup berawal secara individualis yang berada ditengah masyarakat secara bermasyarakat dan akan berakhir secara individu lagi ketika mempertanggung jawabkan semua amalnya dihadapan sang pencipta.

Dalam konsep Islam disebutkan manusia disebutkan sebagai makhluk yang merdeka, dan karena hakikat kemerdekaannya itulah manusia menempati tempat yang terhormat. Dalam ayat al quran banyak sekali disebutkan agar manusia mendapatkan esensi dirinya, memikirkan dirinya dalam struktur dalam realitas, dan demikian mampu menempatkan sesuai dengan keberadaan kemanusiaannya.[24]

Ke empat, Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan. Telah jelas bahwa hubungan individu dengan dunia sekitarnya bukan hubungan penyerahan. Sebab penyerahan meniadakan kemerdekaan dan keihlasan, tetapi jelas pula bahwa tujuan hidup manusia adalah hidup merdeka dengan segala perbuatannya  menuju kebenaran ilahiah. Namun sekalipun vitalnya konsep letuhanan bukanlah konsep ditengah berbagai konsep, namun itu adalah satu prinsip lengkap menembus semua dimensi yang mengatur seluruh khazanah findamental keimanan dan aksi manusia untuk bermasyarakat.[25] Oleh karena itu sekalipun kader HMI tidak tunduk pada dunia sekitarnya, namun anggota HMI selalu tunduk kepada kebenaran hakiki yang tidak lain itu adalah pengabdian kepada-Nya. Kemanusiaan, dilihat aspek basyariah (fisiologis) adalah manusia yang tidak bisa dikatakan unik, karena sulut seklai mengukur dengan aspek itu, namun kemanusiaan merupakan hal yang mesti dipahami oleh kader HMI, karena dengan berbagai kehebatannya manusia adalah mahluk multi fungsi dan potensi yang harus disinergiskan demi perbaikan bangsa dn negara.

Kelima, Individu dan Masyarakat. Salah satu sifat has manusia sebgai makhluk dan karenanya ia berbeda dengan binatang bahwa manusia diciptakan selain berjiwa individual, bermasyarakat merupakan kecenderungan alamiah. Kedua aspek ini mesti dipahami dan diletakan pada porsinya masing-masing secara terkait. Sebab yang pertama melahirkan perbedaan yang kedua melahirkan kesatuan. Artunya bila mencabut salah satu dari aspek maka sama dengan membunuh kemanusiaannya. Dengan demikian perbedaan-perbedan yang terjadi adalah merupakan prinsip kemestian dan terbentuknya masyarakat dengan dinamikanya,[26] sehingga terbentuk intra hubungan.[27] Contoh kecil adalah bahwa prinsip perbedaan yang akan menyatu adalah fitrah manusia yang saling menyayangi selain jenis yang secara tegas bahwa itu disatukan dengan prinsip perbedaan.

Konsep itu selatas dengan yang diucapkan oleh Sidi Gazalba ”Islam sebagai dien bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, namun juga mengatur hubungan manusia dengan manusia. Tata hubungan yang pertama membentuk membentuk religi atau agama atau ibadat khas, yang kedua melahirkan sosial atau muamalah, yang membentuk masyarakat. Masyarakat ialah penjelmaan kebudayaan. Dengan demikian islam meliputi seluruh segi kehidupan manusia yang tersimpul dalam masalah agama dan kebudayaan.[28]

Ke enam, Kemajuan dan Ilmu Pengetauan. Dari seluruh isi NDP diatas dapat dikumpulkan bahwa inti kemanusiaan adalah iman dan perbuatan manusia. Iman dalam pengertian kepercayaan akan adanya kebenaran mutlak, yaitu Tuhan yang maha esa, serta menjadikan-Nya sebagi tujuan ahir hidup manusia. Dan perbuatan adalah merupakan pengejewantahan dari nilai-nilai ketuhanan lewat potensi manusia untuk mengelola bumi terutama potensi aqliah yang secara bertahap menemukan kecanggihan tekhnologi yang disesuiaikan dengan naturalissi sebagai pembuktian bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Sehingga bukanlah hal yang wajar jika alumni dan para pemikir HMI melakukan islamisasi sains terhadap sains-sains modern (sains positivisme).

Kemajuan dan keilmuan ini alan selaras dengan eksistensi kader HMI, karena korelasinya adalah sebagai intelektual. Kombinasi itu akan relevan, sebagai sumber untuk memenuhi segala aspek kehidupan yang terus berkembang dan meningkat bila dirangkaikan dengan segi-segi praktis (teknologi).[29]

Sebagai bukti dari implementasi ini, tahun 1980-an adanya perkembangan pemikiran Islam kontemporer sebagai sebuah pergumulan dan kreativisme untuk meciptakan tradisi Islam intelektual[30] setelah umat Islam mengalami kekalahan dalam perjuangan politik. Tradisi baru itu dikatakan lahan yang justru lebih strategis, mendasar dan lebih berotientasi kedepan.[31] Dalam itu adanya pergeseran dari idiologi kepada tradisi keilmuan.[32] Seperti contoh penerbitan buku-buku leagamaan mengalami kemjuan yang luat biasa.

Selain itu  inilah yang menjadi penunjang penguatan keinteletualan Islam kader menjadi ciri has kader HMI, seperti :

  • Tenaga penggerak organisasi
  • Sebagai calon pemimpin
  • Sebagai bentemg organisasi
  • Generasi yang bermutu dan siap berkorban.[33]

E. Kualitas Lima Insan Cita HMI Lahir Dari Segala Gejolak Bangsa.

Telah dijelaskan secara gamblang mengenai lahirnya falsafah kualitas lima Insan Cita yang kini menjadi tujuan HMI, secara empirik terlahir dari segala gejolak bangsa Indonesia baik dibidang agama, sosial, budaya, ekonomi, politik, tradisi positif bangsa, dan aspek lainnya yang terdapat di bangsa Indonesia.

Pada fase kemerdekaan indonesia HMI terlahir, sehingga terdapat nuansa perjuangan secara fisik melawan penjajah, dan beriringan dengan organisasi-organisasi baik organisasi politik maupun sosial.

Sehingga kualitas lima insan cita juga refresentativ dengan semua aspek sosial yang terdapat di Indonesia dan juga menjadi gejolak bangsa berkepanjangan. Tujuan HMI yang mencakup lima unsur itu adalah :

  • Akademis ( pendidikan)

Pendidikan di Indonesia sangat mengalami ruang yang amat sempit, selain kualitasnya belum merata, juga terjadinya dilematis antara birokrasi dengan SDM yang ada.

  • Pencipta (kretif/dinamis)

Masyarakat Indonesia mengalami krisis individu dan kelompok yang kreatif di segala aspek terutama ekonomi. Maka HMI sebagai organisasi pelopor selalu berusaha menjadikan kadernya menjadi masyarakat yang kretif dan mampu menciptakan lapangan sendiri.

  • Pengabdi (jiwa nasionalis)

Hal ini merupakan reflaksi bangsa terutama kaum muda dalam pergerakannya mempertahankan bangsa Indonesia dari kaum kapitalis.

  • Yang bernafaskan Islam (religi)

Sikap religiutas adalah sikap poko yang mesti tertanam di anggota HMI, karena merupakan pondasi diri sebagai penggerak masyarakat atau calon pemimpin dan pemuka-pemuka  Islam, apalagi komunitas Islam dari dulu dudah terkontaminasi oleh istilah moralitas baru (new morakty)[34] yang berasal dari barat, yang juga mengancam pendidikan Islam di Indonesia. Agama yang menjadi faktor kemenangan perjuangan melawan kedzoliman pekjajah.[35]

  • Dan bertanggung jawab atas terwujudnya adil dan makmur yang diridloi Allha SWT

Sikap pertahanan dari segala marabahaya yang mengancam


[1] Ridwan Saidi. Islam dan Nasionalisme Indonesia. Hal : 83

 

[2] Nanang Tahqiq. Bye-bye HMI. Hal 33

[3] Agussalim Sitompul. Histiografi HMI, Hal 1

[4] Imam Al Mawardi. Hukum tata Negara dan Kepemimpinan Dalam Takaran Islam. Hal 18

[5] Agussalim Sitompul, Menemukan Kembali HMI. Hal 6

[6] DR. Agussalim Sitompul. Histiografi HMI hal 39.

[7] Memori penjelasan Azas HMI. Hasil kongres makasar XXV. Hal 100

[8] Amin Rais. Pendidikan Muhamadiyah dan Perubahan Sosial, PLP2M, yogyakarta. 1984

[9] AD/ART hasil Kongres HMI ke XXVI Palembang. Hal 20

[10] DR. Quraisyi Shihab. Membumikan Al Quran. Hal 389

[11] AM. Santo Tulimin., Moehdi Zainal. Administrasi & organisasi perjuangan. Sinta hal : 18

[12] Dr. Agussalim Sitompul. Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam. 1947-1993 hal 20

[13] Prof. DR. Agussalim Sitompul HMI dalam Pandangan Seorang Pendeta. Hal 42

[14] Hasil-hasil kongres HMI ke XXVI Palembang. (PB HMI) hal 20

[15] DR. faisal Ismail. Islam Idealitas Ikahiyah dan Realitas Insaniyah 196

[16] Ibid. Hal 196

[17] Heldred Geertz “ Indonesia Cultures and Comunitys” dalam Ruth T. Mc Vey (Yale University, 1963. hal 24

[18] Ridwan Saidi. Islam dan Nasionalisme Indonesia. Hal 7

[19] DR. M Quraisyi Shihab. Membumikan al quran. Hal 213

[20] Op.cit. Hal 6

[21] Syekh Muhammad Fadkukkah. Islam dan kekuatan logika. Hal 73

[22] DR. Kuntiwijoyo. Paradigma Islam, interpretasi untuk Aksi. Hal 289

[23] DR. M. Quraisyi Shihab. Membumikan Al quran. Hal : 299

[24] Ibid hal 162

[25] Muhammad Fauzi Arahman Anshari, DR. the quranic Fundation and struktur of muslim society. Deterjemaahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Ir. Juniarso dkk. Dengan judul Konsep Masyarakat Islam modern. RISALAH. Hal 141

[26] Memory penjelas NDP. Hasil kongres Pelembang. Hal 102

[27] Herbert marcuse. Manusia Saru Dimensi.. hal 201

[28] Sidi Gazakba. Pandangan. Hal 84

[29] DR. M. quraisyi Shihab. Membumikan Al Quran. Hal 390

[30] DR. kuntowijoyo. Paradigma Islam, Interpretasi untuk aksi. Hal 311

[31] Hmad Syafii maarif. Pengaruh gerakan Islam terhadap perkembangan pemikiran di Indonsia dewasa ini, dalam percakapan Cendikiawan tentang pembaharu pemikiran Islam di Indonesia . mizan bandung. Hal 49-50

[32] DR. kuntowijoyo. Dinamika sejarah umat islam. Salahudin pers. Yogyakarta 1985.

[33] Prof. Agusalim Sitompul. 44 Indikator Kemunduran HMI. Sebagai kritik dan saran. Hal 9

[34] M. Natsir. New Morality. Hal 12

[35] Lihat kompas, 24 April 1990

One response to “HMI dan Pendidikan (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s