HMI dan Pendidikan Islam (part 1)

BAB I

A. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Saat diproklamirkannya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh dua tokoh muda Ir. Soekarno dan Moch. Hatta, secara integral rakyat  Indonesia masih berada dalam posisi transisi mental yang sangat alot. Betapa tidak, bagsa Indonesia dengan berbagai kelemahan sumber daya manusia harus menjadi objek jajahan secara bergilir selama 350 tahun. Sebenarnya daya tarik Indonesia yang mengundang perhatian kaum penjajah itu bukan hanya karena di abad ke- 19 itu adalah masa perluasan wilayah terutama negara-negara yang peradabannya sudah maju, namun juga Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, yang dipengaruhi oleh suhunya yang tropis.

Namun apapun dalih penjajahan yang diterima oleh bangsa Indonesia, bangsa Indonesia harus menelan pahit berbagai penjajahan morak dan material terutama masalah pendidikan. Apalagi Indonesia dijajah bagnsa Belanda yang dalam strateginya mengenyahkan norma kesusilaan dan pendidikan sehingga dapat dipastikan bahwa Pendidikan di Indonesia saat itu memerlukan proses yang amat panjang untuk diwariskan pada nenek moyangnya termasuk kita.

Pasca merdekanya Indonesia pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 Pendidikan di Indonesia mengalami ancaman yang luar biasa, namun kali ini bukan dari penjajah kaum barat, namun masuknya idiologi komunis yang bukan hanya mengancam ketidak stabilan politik, namun juga pendidikan.

Namun rupanya Allah SWT kembali memberikan pertolongannya kepada bangsa Indonesia, pada tahun 1947 ketika tengah gencarnya paham komunis menyebarkan idiolagi secara psikis dan fisik, Lafran Pane menghimpun komunitas mahasiswa muslim dengan diwadahinya dalam organisasi kajian keislama denan pendekatan secara metafisika filosofis[1] yang dinamai Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)[2], dengan misi[3] menghimpun kekuatan mahasiswa yang beragama Islam.

Lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tanggal 5 Februari tahun 1947 yang bertepatan pada tanggal 14 Rabiul awwal 1366 M sangat mewarnai masa-masa transisi pendidikan masyarakat dan kekuatan sosial[4] di Indonesia, dengan azas Islam HMI konsisten gerakan intelektualnya ditengah ancaman idiologi[5] komunis sekitar tahun 1964-1965[6], ancaman individualis[7].  Gagasan tersebut berawal dari kampusya Lafran Pane di STI dan merembet ke STTI  Yogyakarta (UGM), HMI mampu bersaing secara keilmuan dan dengan gerakan intelektualnya bersama Persatuan Mahasiswa Komunis Indonesia (PMKRI). Sehingga Presiden Soeharto pada tanggal 20 Maret 1997 mengatakan :

” Dimasa perang kemerdekaan warga HMI ikut terjun dalam kancah perjuangan bersenjata bersama TNI melawan penjajah, tanpa melupakan tugas pokoknya sebagai mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di masa jayanya PKI dulu, HMI telah berjuang habis-habisan untuk membendung dan melawan idiologi kominis yang bertentangan dengan idiologi Pancasila ”[8]

Meski berawal dengan konsep sederhana yaitu menghimpun mahasiswa Islam untuk memperdalam konsep-konsep agama Islam, namun Lafran Pane menggagas tujuan HMI yaiut Terbinanya Insan Akademis pencipta pengabdiyang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridoi Allah SWT ”[9].

Berdarasarkan tujuan HMI diatas, HMI mempunyai substansi prioritas untuk serius menjadi kawah candra dimuka pendidikan kaum terpelajar yang notabenenya adalah Mahasiswa. Karena itu merupakan salah satu yang melandasi berdirinya HMI yaitu, adanya kesenjanagn dan Kejumudan Ummat Islam dalam pengetahuan , pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran Islam[10], serta cenderung fundamentalis[11]

Tujuan HMI yang disebut Kualitas Lima Insan Cita Seperti yang dijabarkan sejarawan HMI Prof. DR. Agussalim Sitompul :

” Pertama, Kulitas Insan Akademis artinya Insan terpelajar, insan yang berilmu pengetahuan, yang berpendidikan, artinya insan yang mengimplementasikan kewajiban persfektif Islam tentang menuntut Ilmu.

Yaitu,  berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas,mempunyai kemampuan teoritis, berfikir rasional, objektive, dan kritis, sehingga mampu berdiri sendiri dengan segala persaingan zaman”.[12]

Dalam hal ini penjabaran Kualitas Insan Pencipta berdasarkan Kongres HMI XXV di Makasar pada tanggal 20-27 Februari 2006 :

”kedua, Kualitas Insan Pencipta adalah : Insan akademis Pencipta. Adalah kader HMI yang berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, objektif dan kritis. Memiliki kmampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan, sanggup berdiri sendiri dengan lapangan Ilmu pilihannya, baik secara teoritis dan tehnis, dan sanggup bekerja secara ilmiah, yaitu secara bertahap dan teratur, mengarah pada tujuan sesuai pada prinsip-prinsip perkembangan ” [13]

Diatas adalah penjelasan Prof. DR Agusslaim Sitompul tentang kata Akademis dalam tujuan HMI. Bila dikaji dari sisi idealisme mahasiswa, penejelasan tersebut mewakili semua ruang lingkup mahasiswa dalam arena pendidikan. Bila dikaji secara komfrehensif tujuan Himpunan Mahasiswa Islam ada tuntutan lain kader HMI bukan hanya diam di arena kampus melainkan menjadi pelopor dalam kancah sosial bangsa, sehingga dengan tegas Lafran Pane melanjutkan redaksi setelah kata Akademis, yaitu…pencipta pengabdi dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridloi Allah SWT.

Artikulasi kata Pencipta adalah pelopor berkarya, artinya kader HMI bukan hanya komunitas mahasiswa yang terpaku pada formalitas kampus yang akhirnya berharap kebesaran Ijazah, namun harus mampu mengisi arena karya unik yang menjadi implementasi nyata kaum intelektual untuk merubah nasib dan paradigma peradaban bangsa Indonesia. Sesuai firman Allah SWT : ” Tidaklah aku rubah suatu kaum, melainkan kaum itu mau merubahnya ” (Qs. Al hujarat). Sehingga secara tidak langsung HMI adalah pelopor pendidikan yang mengutamakan menunjukan keseriusannya pada pendidikan motorik kader HMI (pelajar dalam lembaga pendidikan formal) seperti sekolah-sekolah kejuruan dan dan tingkat akademik. Karena dalam HMI ada bidang-bidang yang menjurus pada potensi kekaryaan seperti Lembaga Kekaryaan dan Lembaga Profesi yang mewadahi kader-kader HMI yang mempunyai potensi wiraswasta, Lembaga Dakwah Mhasiswa Islam HMI , yaitu lembaga ex officio yang mewadahi kader-kader HMI yang mempunyai potensi dakwah keagamaan. [14]

Tidak cukup disitu, HMI mendidik kader-kadernya lewat falsafah Kualitas  Lima Insan cita yaitu Kualitas Insan Pengabdi sebagai implementasi dari segala kaidah yang ada di HMI. Sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW  yang artinya ” Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain ” (HR. Bukhori). Selain itu, Kualitas Insan Pengabdi adalah bentuk dukungan pada program formal Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat. Kualitas Insan Pengabdi ini. Seperti yang dijabarkan oleh Prof. DR. Agussali Sitompul :

” Ketiga, Kualitas Insan Pengabdi adalah Insan Akademis, Pencipta dan Pengabdi yang ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau sesama umat, sadar membawa tugas Insan pengabdi, bukan hanya membuat dirinya baik namun juga membuat lingkungannya lebih baik, dan bersunguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan Ilmunyauntuk kepentingan sesama ”[15]

Yang keempat adalah kualitas Insan yang bernafaskan Islam, hal ini menjadi konssekuensi logis dari HMI sebagai organisasi yang berazaskan Islam. Seperti penjelasannya :

” Keempat, Kualitas Insan Yang bernafaskan Islam adalah kader HMI harus menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menjadi pedomanberkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai unversal Islam. Ajaran Islam telah membentuk unity personality dalam dirinya, nafas Islam telah membentuk pribadi dirinya yang utuh dan tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai warga muslim. Kualitas Islam ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan  umat Islam Indonesia dan sebaliknya. ” [16]

Lengkap sudah perkaderan HMI dari segala sisi, usaha HMI mendidik kader-kdernya lewat kualitas lima insan cita, namun betapa naif jika seorang intelektual Islam hanya berfikir diri sendirinya, dalam arti kader HMI yang notabene intelektual Islam, harus mampu menjadi Fitrah sbagai kholifah Allah yang mengejewantahkan semua nilai-nilai ketuhanan dala muka bumi ini. Yang kelima adalah Kualitas Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. Sesuai penjabaran  :

” Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam mengerjakan persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis. Rasa tanggung jawab, bertaqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk berperan aktf dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmu. Percaya pada diri sendiri dan sadar akan keberadaanya sebagai kholifah fil ard, yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan”. [17]

Pada pokonya kualitas lima insan cita HMI merupakan ”man of future”[18] yaitu insan pelopor tentunya yang berfikiran luas dan visioner.

Melihat keistimewaan perkaderan HMI pada tahun 1948 tepatnya dalam acara dies natalies HMI pertama Almarhum Jenderal Sudirman mengatakan :

” HMI yang disingkat secara konstitusional adalah Himpunan Mahasiswa Islam, ternyata bisa dirtikan selain itu, yaitu H= Harapan M= Masyarakat I= Indonesia, karena terbukti kader-kader HMI bukan hanya mampu berperang secara konsep, tetapi juga ragawi dengan bergabung pelatihan militer bersama TNI ”[19].

Bila dikaji dari zaman kezaman falsafah pendidikan HMI yang tercantum pada tujuan HMI memiliki perkembangan yang sesuai peradaban bangsa Indonesia dari segala aspek yang berlaku, artinya Himpunan Mahasiswa Islam bersifat adaftif tetapi inovatif tanpa menghilangkan esensi tujuan HMI. Perkaderan HMI yang konsisten dari zaman ke zaman lewat Bassic Training (Latihan kader I), Intermadite Training (Latihan Kader II) dan advenc Training (Latiahan Kader III), Training Of Trainer (TOT), Senior Cours (SC) mampu menjawab segala tantangan zaman, terutama paradigma kaum intelketual sekarang lebih terjebak pada proyek  komodifikasi (gaya hidup)[20], sehingga relevan sekali dengan paradigma pemikiran HMI yang substantif, pro aktif, inklusif, integratif, modernis dan ilmiah[21]

Itulah hasil dari kejelian para tokoh HMI yang menjaga keutuhan HMI degnan mengadakan metode historis dokumenter[22], seperti 11 naskah perjuangan tafsir azas (tahun 1957)[23], Kepribadian HMI (1962)[24], Garis-grais pokok perjuangan HMI (tahun 1966)[25], Nilai-nilai Dasar Perjuanagn (NDP) (tahun 1969)[26], Gambaran Insan Cita HMI (tahun 1969)[27], yang kemudian disempurnakan menjadi tafsir tujuan (1971)[28], Tafsir Indefendensi (tahun 1971)[29], Nilai Identitas Kader (NIK) yang kemudian disempurnakan menjadi NDP (tahun 1986)[30], Memori Penjelasan Tentang  Pancasila sebagai dasar organisasi HMI (tahun 1986)[31]

Mahasiswa sekarang lebih cenderung hanya mengutamakan style dan ferformence, tetapi lemah akan kajian keilmuan, karena paradigma kampus sekarag hampir tidak bisa dibedakan dengan paradigma di tingkat SLTA, hal ini disebut lebih rendah dari rata-rata kekayaan sosial dan tekhnologi[32], terjadinya moralitas baru[33]

  1. Perumusan Masalah

Seperti yang  telah dijelaskan sesuai latar belakang masalah diatas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana sejarah dan kiprah HMI dalam lintas sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan ?
  2. Bagamana konsep dan penjabaran tentang pola-pola pengkaderan di HMI?
  3. Bagaimana sinergitas antara pola pengkaderan HMI dengan dunia pendidikan Islam ?
  1. Tujuan Penelitian

Secara komfrehensif tujuan penelitian ini adalah untuk menjabarkan klarifikasi berdasarkan rumusan masalah diatas, mengaktualkan nilai-nilai yang terkandung dalam konsep kualitas lima Insan cita  HMI sebagai organisasi ekstra universiter terbesar dan tertua di Indonesia dalam dunia pendidikan. Dan menganalisa pola-pola perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari segi pendidikan yang sudah mengakar rumput di Nusantara, terutama tentang eksistensinya dalam dunia pendidikan Islam.

Sehingga secara krusial tujuan penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui dan mengaktualkan sejarah dan kiprah HMI dalam lintas sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, secara gamblang didalamnya memuat tentang sebuah peristiwa-peristiwa penting HMI dalam kancah perjuangan, peran, fungsi HMI.
  2. Untuk mengetahui dan memahami konsep dan penjabaran tentang pola-pola pengkaderan di HMI, yaitu upaya mengevaluasi pola-pola pengkaderan di HMI  dalam rangka mempertegas peran dan fungsi HMI sebagai organisasi perkaderan.
  3. Untuk mengetahi dan mengukur sinergitas antara pola perkaderan yang tercantum dalam Anggaran Dasar HMI, dengan dunia pendidikan Islam di Indonesia.
  1. Kerangka Pemikiran

Penulisan sejarah, terlebih-lebih pada abad ke 20 ini telah menduduki tempat yang sangat penting, karena dari sejarahlah orang dapat mengenal dirinya, sejarah yang sama menjadi pengikat suatu bangsa atau kelompok. Letjend. (Purn) Achmad Titosudiro mengatakan ” Sejarah berdirinya HMI tidak terlepas dari gagasan untuk memerankan umat islam, hususnya mahasiswa islam dalam rangka pengabdian terhadap kesinambungan kesatuan Republik Indonesia[34].

Dengan penulisan sejarah diharapkan  eksistensi bangasa atau kelompok terutama    HMI dapat berlanjut,  sejarah bagi suatu    bangsa atau kelompok  menjadi suatu kenangan, tetapi bukan hanya sekedar   diketahui, tetapi dari itulah bangsa atau    kelompok hidup   mengikatkan diri    kepadanya,        jika tidak menginginkan dirinya sirna, tetapi menjadikan mendapat tempat dalam humanitas.

Salah satunya adalah sejarah seorang yang bernama Lafran Pane yang memiliki andil yang amat besar bagi perkembangan Indonesia, sengaja penulis jabarkan sejarah dia sebagai rincian awal bagian sistematika penulisan ini. Prof. DR. Nurkholis Majid mengatakan

…dalam diri Lafran Pane terdapat suatu kearifan atau wisdom, tersembunyi atau laten, yaitu kesadaran kebangsaan yang inkludif, yang lebih luas dari pada primodialisme keagaamaan dan konservatif. Tumbuh dari keluarga yang terpelajar membuat dia terbiasa dengan wawasan kebangsaan yang modern dengan wawasan-wawasan ssosial politik yang serba meliputi”[35].

HMI yang penulis yakini mempunyai andil dalam pemebntukan mental kepemipinan dan ke-intelektualan anggota-anggotnya sampai sekarang masih berdiri tegak, karena ada tiga kekuatan HMI, yaitu Latihan Kader, Tradisi Intelektual, dan Independrnsi. Salah satunya yang paling ampuh dalam pemebentukan mental intelektual anggota HMI adalah tradisi Inteletual. Karena itulah tradisi yang menjadi esensi mahasiswa, namun kini mulai diringgalkan mahasiswa pada umumnya.

Kedarisasi adalah  Proses yang digerakansecara sadar untuk meningkatkan kualitas anggota organisasi agar memenuhi kualifikasi tertentu yang diharapkan. Melalui proses kaderisasi anara lain anggota organisasi diharapkan mengenal, memahami dan menghayati nilai-nilai tertentu, yang kemudian mempengaruhi sikap dan prilaku sehari-harinya. Perlu dicatat disini  bahwa   nilai-nilai yang membentuk prilaku adalah nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat seperti nilai-nilai agama dan nilai-nilai sosial budaya.

Terdapat kaitan yang amat vital antara pola pengkaderan di HMI dengan pendidikan Islam. DR. Yusuf Qordhowi mendevinisikan pendidikan islam ” pendidikan agama islam adalah pendidikan manusia seutuhnya akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, ahlak dan keterampilannya. Karena poendidikan islam menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebikan dan keburukannya. ”

Objek itu sebagai konsekwensi logis HMI sebagai organisasi kemahasiswaan, yang berarti pula HMI adalah organisasi yang tidak lepas dengan nilai-nilai pendidikan. Sambunga tujuan HMIterdapat kata ”…yang bernafaskan Islam…”, dan inilah bukti nyata bahwa pendidikan HMI berdasarkan nilai-nilai ke-Islaman, dan keindonesiaan. hal itu dipertegas dengan azas Islam. Tegasnya HMI mempunyai pengaruh kepada pemebentukan intelektual dan budi pekerti anggota-anggotanya, selaras seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara : ” Pendidikan umumnya, berarti upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuasaan bathin), pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak agar selarad dengan alam dan masyarakatnya ”.

Adakalanya HMI sebagai organisasi pelopor kemahasiswaan semakin diaktualkan, mengingat HMI mempunyai ruang gerak yang mesti kembali diaksentuasikan oleh semua kalangan. HMI sebagai organisasi perkaderan mempunyai gerakan secara sistemaris, yang pertama adalah dilingkup Perguruan Tinggi, yang dianamakan tingkat Komisariat, titik tekannya adalah sebagai pusat kajian dan up grad, setelah itu pengurus komisariat yang kavable didikegasikan sebagai pengurus cabang, fungsinya adalah pemotretan sosial ditingkat daerah (kabupaten) sebagai bahan kajian aksi. Dan seterusnya diwilayah Provinsi (Badan koordinasi) serta di Pusat (PB HMI).

Sampai sekarang yang menjadi basis HMI adalah perguruan Tinggi Islam, bukan hanya titisan sejarah yang waktu itu lahir di STI (Sekolah Tinggi Islam) Jogakarta, namun lebih cenderung pada aspek relevansi kajian ke-Islamannya. Seperti di Jakarta HMI lebih banyak di UIN Syarif Hidayatullah, di Bandung yang menjadi basisinya adalah UIN Bandung, dan lainnya. Artinya HMI merupakan kampus kedua, dipertegas misi HMI back to campus. Keberadaan HMI tentunya amat berpengaruh pada keberlangsunagn pendidikan kampus, karena HMI mampu memeberikan kajian yang langka di hidangkan di PT/oleh dosen mata kuliah yang lebih cenderung bersifat transfer pembelajaran.

  1. A. Metodologi Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan sejarah kritis atau berdasar sumber. Metode ini diharapkan dapat memperoleh sumber sejarah dan faktual HMI yang berdasatkan pesididkan Islam ini dapat memenuhi dyarat.

Adapun sifat pada penlisan ini adalah bersifat deskriptif, yaitu tulisan yang merangkai fakta-fakta sejarah dan fakrual menjadi suatu pemahaman yang utuh dan kronologis, dan sistematis.

Pemilihan sifat tersebut dilakukan berdasarkan faktor luasanya ruang lingkup yang akan diteliti serta adanya beberapa keterbatasan penulis dalam penyusunan  ini, diharapkan penelitian eksplotatif dan penulisannya yang bersifat deskriptif ini, penelitian dapat dikembangkan pada waktu-waktu mendatang.

Maka dari itu dengan penuh rasa sadar akan penulisan yang penulis anggap vital ini, penulis menggunakan dua buku utama yang semuanya karangan DR. Agusslaim Sitompul yang menjadi sumber primer. Pertama Berjudul: 44 indikator kemunduran HMI, sebagai kritik dan saran demi kebangkitan HMI. Kedua, berjudul : Histiografi Himpunan Mahasiswa Islam Tahun 1947-1993. Ketiga, berjudul : 50 Tahun HMI Mengabdi Republik. untuk memperkuat keilmiahan penulisan ini, penulis tumjang referensi skunder, dengan buku-buku pendidikan, siyasah, fikih, fislsafat dan lain-lain.

Demi kuatnya penulisan ini, ditetapkan langkah-langkah untuk memilih dan menetapkan subjek (bahan yang akan diteliti seperti :

Pertama, didahului mengumpulkan bahan teks tertulis baik berupa buku, karangan ilmiha, maupun dari internet.

Kedua, diadakan seleksi yang selektif dengan cara  menyingkirkan bahan-bahan yang tidak autentik maupun tidak relevan. Kedua bahan dikelompokan menjadi dua, (1) bahan primer, menjadi bahan popok studi pustaka. (2) bahan skunder yaitu buku-buku penunjang untuk memperkuat data buku primer.

Ketiga, semua referensi disusun berdasarkan tingkat kerelevansian sesuai kebutuhan dan substansi yang akan menjadi warna di penulisan.


[1] Prof gussalim Sitompul, 44 indikator kemunduran HMI, hal 37

 

[2] Prof. DR. Agussalim Sitompul, Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam, Misaka Galiza. Hal 1

[3] Menurut kamus besar bahasa Indonesia karangan Anton M Mulyono, Misi adalah tugas yang dirasakan orang sebagai suatu kewajiban untuk melakukannya demi agama, ideology, patriotsme, dan sebagainya.

[4] Hasan Sa’fan, Usus Al Ijtima’. Hal 128

[5] A. dahlan Ranuwiharjo. Menuju Insan Pejuang paripurna dari Islam Menuju terbinanya Insan Pejuang Paripurna Leadership Strategi dan Taktik dalam perjuangan politik (Penerbit KAMI maluku, 2000), hal 9

[6] Ibid hal 20

[7] Syeikh Muhammad Hussein Fadhullah, Islam dan kekuatan Logika. Hal 72

[8] Prof DR. Agussalim Sitompul, 50 tahun HMI mengabdi republic, hal 1

[9] Anggaran Dasar HMI BAB III pasal 4. Hasil-hasil kongres HMI ke XXVI Palembang.

[10] Agussalim Sitompul, Pemikiran Himpunan Mhasiswa Islam. Tentang Keislaman, Keindonesiaan (Disertasi pada program pasca sarjana IAIN Sunan Kalijaga) 1947-1997. hal 49

[11] Drs. Shalahuddin Hamid. Hak-hak Asasi Manusia Dalam Presfektif Islam. 40

[12] Prof DR. Agussalim Sitompul, 50 tahun HMI mengabdi republic, hal 1

[13] Ibid hal 1

[14] pedoman perkaderan HMI. (PB HMI) Hal 32

[15] Prof DR. Agussalim Sitompul, 50 tahun HMI mengabdi republic, hal 1

[16] Ibid hal 1

[17] Ibid , hal 2

[18] Prof. DR. Agussalim Sitompul, 44 Indikator kemunduran HMI. Hal 17

[19] Jenderal Sudirman pada Kumpulan naskah sambutan pada Dies natalis HMI. 50 tahun

[20] Ahmad Nasir iregar, HMI Valeus. Hal 12

[21] Agussalim Sitompul, Menyatu dengan Ummat, Menyat dengan Bangsa ; Pemikiran Keislaman,   Keindonesiaan HMI 1947-1997 (Jakarta. Penerbit Logos) hal 492

[22] Prof. DR Agussalim Sito,pul. Histiografi HMI 1947-1993. Rakasta Samasta Jakarta Hal 175

[23] Prof. DR. Agussalim sitompul. Sejarah Perjuangan HMI 1947-1957, hal 111

[24] Ibid hal 119

[25] Ibid hal 125

[26] Ibid hal 131

[27] Haisil-hasil kongres IX 3-10 mei 1969, Malang. (Jakarta) hal 45

[28] Hasil-hasil kongres X Palembang 3-10 Oktober 1971 (PB HMI) 23

[29] Ibid

[30] Hsil-hasil ketetapan kongres X Padang 24-31 Maret 1986 hal 72

[31] Ibid hal 124

[32] Herbert Marcuse, Manusia Satu Dimensi. Hal 76

[33] Dr. Faisl Ismail. Islam; Idealitas Ilahiah dan Realitas Insaniah. Hal 74

[34] Ceramah Letjend, Achmad Tirtosudiro pada acara Dies Natalis HMI ke 50. sebagai editor : Ramli HM Yusuf, SH. Jakarta hal 24

[35] Op.cit. DR. Nurholis Majid. Hal 114

One response to “HMI dan Pendidikan Islam (part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s