HMI dan Pendidikan (part 3)

BAB III

KONSEP DAN PENJABARAN KUALITAS LIMA INSAN CITA HMI

  1. Penjabaran Kualitas Lima Insan Cita HMI

Bila dilaji Kualitas Lima Insan Cita atau tujuan HMI mempunyai penjabaran yang amat luas. Berangkat dari falsafah kualitas lima insan cita segala proses perkaeran HMI dari tahun ketahun, segala penegembanganpun terjadi, mulai dari inovasi perkaderan dan lahirnya para pemikir HMI dengan dibuktikan melahirkan karya-karya ilmiah dan buku-buku ke-HMIan.

Kualitas lima insan cita dianggap mempunyai pola strategis bagi perkembangan anggota HMI yang dipersiapkan menjadi intelektual, selain lahirnya adalah dari segala folemik bangsa namun mencakup segala konsepsi Islam tentang ubudiyah dan muamalat.

” Terbinanya Insan Akademis pencipta pengabdi yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridoi Allah SWT ”[1].

Terdapat lima unsur konsep tersebut yang selaras dengan konsep agama, yang bila digemblangkan seperti berikut ini :

Pertama, Kulitas Insan Akademis artinya Insan terpelajar, insan yang berilmu pengetahuan, yang berpendidikan, artinya insan yang mengimplementasikan kewajiban persfektif Islam tentang menuntut Ilmu. Yaitu,  berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas,mempunyai kemampuan teoritis, berfikir rasional, objektive, dan kritis, sehingga mampu berdiri sendiri dengan segala persaingan zaman”.[2] Sebelumnya terdapat kata ”terciptanya”, jadi relevasnsinya adalah HMI organisasi yang mempertegas eksistensi pelajar/mahasiswa sebagai kaum yang dipersiapkan untuk generasi. Tegasnya eksistensi HMI adalah sebagai media kajian lanjutan dan labolatorium dan aula pendidikan Islam setelah duduk secara formal di kampus.

Mesti diakui Perguruan Tinggi pada umumnya hanya bersifat transpormatif masalah pelajaran yang formal didalam kurikulum, itupun hanya bersifat general, karena metode pembelajaran mahasiswa menitik tekankan pada kemendirian mahasiswa. Terjadi hanya sekitar 25-30% saja terjadinya tranpormasi pembelajaran antara dosen dengan mahasiswa, itupun seringkali hanya bersifat komunikasi satu arah, masih didominasi mahasiswa yang cenderung pasif.

Dalam konsep Islam pembelajaran dan pendidikan itu wajib hukumnya, sesuai dengan hadit Nabi Muhammad SAW ” Tuntutlah ilmu mulai dari lahir sampai keliang lahat” (HR. Mutafakun alaih). Maka berdasar dan sesuai dengan konsep normatif seperti itu dalam hal ini HMI sebagai organisasi pelopor dalam bidang pendidikan, dan mempertajam naluri kaum terdidik sebagai calon intelektual/pemikir.

Kedua, Kualitas Insan Pencipta adalah : Insan akademis Pencipta. Adalah kader HMI yang berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, objektif dan kritis. Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan, sanggup berdiri sendiri dengan lapangan Ilmu pilihannya, baik secara teoritis dan tehnis, dan sanggup bekerja secara ilmiah, yaitu secara bertahap dan teratur, mengarah pada tujuan sesuai pada prinsip-prinsip perkembangan ” [3]

Prinsip pencipta dalam tujuan HMI ini begitu lengkap, implementasi pencipta bagi anggota HMI setelahnya menkadi alumni HMI merupakan hak individulais, namun hampir didominasi dengan banyaknya alumni HMI yang lebih memilih memilih hidup didunia cipta keilmuan. Namun prinsip inovasi tentunya tetap hasus dikembangkan, karena seperti diatas disebutkan bahwa kader HMI hasrus mampu mengetahui rahasia yang belum disebutkan.

Ketiga, Kualitas Insan Pengabdi adalah Insan Akademis, Pencipta dan Pengabdi yang ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau sesama umat, sadar membawa tugas Insan pengabdi, bukan hanya membuat dirinya baik namun juga membuat lingkungannya lebih baik, dan bersunguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan Ilmunyauntuk kepentingan sesama ”[4]

Keempat, Kualitas Insan Yang bernafaskan Islam adalah kader HMI harus menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menjadi pedomanberkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai unversal Islam. Ajaran Islam telah membentuk unity personality dalam dirinya, nafas Islam telah membentuk pribadi dirinya yang utuh dan tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai warga muslim. Kualitas Islam ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan  umat Islam Indonesia dan sebaliknya. ” [5]

Yang kelima adalah Kualitas Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam mengerjakan persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis. Rasa tanggung jawab, bertaqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk berperan aktf dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmu. Percaya pada diri sendiri dan sadar akan keberadaanya sebagai kholifah fil ard, yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan”. [6]

Pada pokonya kualitas lima insan cita HMI merupakan ”man of future”[7] yaitu insan pelopor tentunya yang berfikiran luas dan visioner.

B.  Kualitas Lima Insan Cita HMI Sebagai Dasar Perkaderan dan Pendidikan Anggota HMI

Perkaderan di HMI yang sampai sekarang terus digalakan oleh tiap generasi demi genarasinya ditingkat komisariat/PT dikenal dengan Bassic Training, ditingkat cabang/kabupaten/kota dikenal dengan Intermedite training, dan ditingkat Badko/provinsi dikenal dengan Advance training, terus metode berkembang dan bersifat inovatif sesuai dengan cultur dan realita serta hal yang bersifat faktual. Perkembangan pola perkaderan formal itu dituangkan dalam konstitusi hasil dari kongres demi kongres, serta disusun dengan sistematis dan terperinci hingga kuriikulmnya dengan signifikan.  Tidak cukup dari itu ditambah dengan istilah kearifan-kearifan ditingkat cabang dengan memformulasikan perkaderan formal yang lebih cenderung mempertegas karakter cabang sesuai dengan karakter daerahnya.

Kekuatan perkaderan lewar LK I, LK II mauon LK III inilah yang mempertegas HMI sebagai orgnisasi perkaderan. Dan pendidikanbadi anggota-anggotanya.  Dengan pendidikan seperti itu maka ada target yang mesti bertapak pada anggota-anggota HMI.

Pertama, Watak dan kepribadiannya. Yaitu dengan memberikan kesadaran berragama, akhlak dan watak. Itu berarti harus menjelma menjdi seorang individu berahlak luhur, memilki watak yang autentik serta memilki pengabdian dalam arti yang paling hakiki.

Kedua, Kemempuan Ilmiah anggota HMI. Yaitu dengan membina seseotang sampai memilki kemampuan pengetahuan (knowlage), serta kecerdasan (intelectuality) dan kebijaksanaan (wisdom)

Ketiga, kepandaian menterjemaahkan ide dan pikiran dalam praktek. Anggota HMI dididik untuk bersikap aflikatif dengan segala  wacana yang digodok di HMI.[8]

Tujuan HMI menjadi garis umum yang hendak dicapai oleh HMI menjadi garis arah dan titik sentral seluruh kegiatan dan aktivitas seluruh kegiatan dan aktivitas perkaderan HMI. Maka dariitu tujuan HMI/Faslafh kualitas lima insan cita merupakan norma dari sewgala aktivitas dan acara HMI. [9] Untuk terbinannya insan yang berkualitas lima tersebut sebagai tujuan HMI sebagai arah perkaderan HMI, maka kegiatan HMI dapat dikelompokan menajdi dua macam kegiatan, yaitu:

Pertama, kegiatan kampus perguruan tinggi. Peranan HMI untuk selalu berpartisipadi dan selalu berusaha membina dan menjadikan Perguruan Tinggi yang benar-benar menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang qualified terletak dalam aspek ini. Akrivitas Perguruan Tinggi diusahankan mampu menopang tercapainya tujuan HMI. Oleh karena itu untuk menguasai kampus dalam arti positif dan kontruktif adalah termasuk perjuangan HMI. Berarti antara HMI dan PT adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Secara ideal, adalah bagaimana usaha HMI  agar PT menjadi ”kampus HMI”, dalam arti mampu mencetak insan yang dicita-citakan HMI. Selama Perguruan Tinggi yang ideal yang dimaksudkan belum bisa tercapai, maka kegiatan trining sebagai ”sekolah HMI” adalah tugas/kegiatan yang paling pokok untuk mencapai tujuan HMI, seperti tersebut dan dirumukan dalam pasal 6 Adtentang usaha. Dalam bentuk oprasional usaha-usaha tersebut, lebih lanjut dijabarkan dalam Program Kerja Nasional (PKN)[10].

Bertolak dari landasan-landasan, arah dan tujuan perkaderan HMI, maka lahir kegiatan perkaderan HMI yang diarahkan dalam rangka membentuk profil kader yang ideal, yaitu muslim intelektual profesional. Tiga aspek yang ditekankan dalam usaha pelaksanaan kepribadian, pengembangan kualitas intelektualitas  atau kemempuan ilmiahnya, pengembangan kemampuan profesional atau keterampilannya, harus terintegrasi secara utuh.[11] Tegasnya secara spesifik wujud profil kader HMI adalah seperti tergambar dalam tujuan HMI, yaitu lima kualitas insan cita. Lima kualitas insan cita tersebut seperti diterangkan dalam tafsie tujuan HMI. Keliam kualitas insan cita tersebut, semuanya mengandung tujuh belas butir indikator sebagai wujud seorang kader, sebagaimana yang dicita-citakan[12]. Seperti dirumuskan dalam bahasan di penjabaran kualitas lima insan cita.

 


[1] Anggaran Dasar HMI BAB III pasal 4

[2] Prof DR. Agussalim Sitompul, 50 tahun HMI mengabdi republic, hal 1

[3] Prof DR. Agussalim Sitompul, 50 tahun HMI mengabdi republic, hal 1

[4] Ibid , hal 1

[5] Op.cit hal 1

[6] Op.cit  1

[7] Prof. DR. Agussalim Sitompul, 44 Indikator kemunduran HMI. Hal 17

[8] Pedoman perkaderan HMI (jakarta: Penerbit PB HMI, 1977) hal 7

[9] Agusalim sitompil. 44 Indikator kemunduran HMI sebagai kritik dan saranuntuk kebangkitan kembali HMI. Hal 12

[10] Op.cit hal 14

[11] Pedoman Perkaderan HMI (penerbit PBHMI, 1998).hal 7

[12] Hasil kongres ke 21. Tafsir Tujuan HMI . hal 104

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s