HMI dan Pendidikan (part 4)

SNERGITAS KUALITAS LIMA INSAN CITA HMI DENGAN DUNIA PENDIDIKAN ISLAM

A. Devinisi Pendidikan Islam

Pendidikan menurut bahasa berasal dari kata didik, yang kemudian mendapat awalan me- sehingga menjadi mendidik, yang mengandung arti memelihara dan memberi latihan. Sedangkan menurut istilah pendidikan adalah suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang dalam usaha mendewasakan individu melalui pengjaran.

Berdasarkan pandangan umum diatas, masih terdapat sebagian orang mengartikan pendidikan berarti pengajaran, karena pedidikan pada umumnya selalu membutuhkan pengajaran. Jika penegrtian seperti ini dijadikan pedoman, maka setriap orang berkewajiban mendidik seperti orang tua dan guru yang terus menerus kegiatan mengajar. Padahal mengajar pada umumnya diartikan secara sempit dan formal sebagai kegiatan manyampaikan materi pelajaran kepada anak agar menguasai materi. Dengan kata lain agar siswa mempunyai kompetensi.

Lebih jelasnya pengertian pendidikan agama islam dikemukakan oleh para ahli seperti dibawah ini :

a.  Poerbakawatja Dana Harahap memberikan definisi sebagai berikut :

” Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak pada kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya, orang diwasa itu adalah orang tua si anak atau orang yang atas tugas dan kedudukannya mempunyai kewajiban untik mendidik”

Berdasarkan pengertian diatas terdapat dua hal utama yang perlu diperhatikan, yakni kedewasaan dan tanggung jawab moril. Kedewasaan sudah sangat populer dikalangan pendidik, dewasa dalam arti kondisi orang yang sudah akil balig atau berusia muda tetapi sudah mempunyai kecakapan seperti orang yang sudah memilki usia dewasa. Dewasa berarti bersikap, berprilaku dan bertindak atas dasar pertimbangan hail pemikiran yang bijakdan sehat atas dasar norma-norma yang, baik norma sosial maupun agama. Tanggung jawab moral artinya setiap perbuatan yang dilakukan seseorang itu harus dilakukan secara tanggung jawab dan mengandung konsekuensi terhadap dirinya, orang lain bahkan terhadap Allah SWT. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu :

” Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti  luhur, memilki kemampuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.[1]

Yang kemudian UU tersebut diamandemen menjadi :

” Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kretif, mandiri, bertanggung jawab”[2]

  1. Crow & Crow

Menurut Crow & crow, pendidikan dirumuskan sebagai berikut :

” Pendidikan adalah suatu hasil peradaban suatu bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu yang berfungi sebagai filsafat pendidikannya, suatu cita-cita atau tujuan yang motif cara suatu bangsa berfikir dan berkelakuan, yang langsungkan secara turun temurun kepada angkatan berikutnya ”

Dalam penegrtian diatas dapat diperoleh gambaran bahwa bentuk, jenis dan tujuan pendidikan setiap bangsa akan berbeda sesuai dengan falsafah hidup bangsa ini. Falsafah hidup itu sangat dominan memberikan corak pendidikan yang dilaksanakannya. Namun demikian aspek kegiatan pendidikan yang dilakukan pada bangsa manapun sama. Artinya komponen-komponen pendidiakn yang harus ada adalah sama.

c. Koestoer Partowisasrto

Menurut Koestoer, meyatakan pendidikan adalah suatu aktivitas dan suatu rangsangan yang diarahkan kepada memprodusir perubahan-perubahan tingkah laku seseorang yang diinginkan sesuai dengan tujuan pendidikan.

Pendangan pendidikan seperti diatas memberi gambaran bahwa kegiatan pendidikan bertujuan untuk memperoleh adanya perubahan-perubahan tungkah laku seseorang sehingga adanya, sehingga diperoleh adannya pengalaman baru sebagai aktivitas pendidikan tentunya perubahan yang diwujudkan dalam bentuk kepribadian. Oleh karena itu hasil pendidikan bukanlah pola tingkah laku sektetika, tetapi harus tertanam secara utuh menjadi sikap dan prilaku.

Perubahan hasil pendidikan tidak terbatas pada perubahan-perubahan kognitif berupa pengetahuan, yaitu perubahan yang tidak tahu menjadi tahu, bahkan lebih dari sekedar kognitif yaitu perubahan harus dalam sikap dan keterampilan yang dimilki dalam bentuk aspek afektip dan psikomotorik.

d. H. M. Arifin

Menurut H. M. Arifin pendidikan adalah usaha sadat orang dewasa untuk membimbing dan m,engembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik, baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal.

Pengertian pendidikan diatas menggambarkan bahwa pendidikan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga dengan demikian pendidikan dapat dilakukan dimana saja dalam lembaga-lembaga pendidikan sekolah maupun lembaga selain sekolah seperti kursus-kursus, keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan dilingkunganmasyarakat. Pendidikan juga tidak dibatasi oleh usia, artinya bagi setiap orang selama masih hidup memiliki kewajiban menuntut ilmu. Seperti hadits Nabi SAW  yang artunya ”Tuntutlah ilmu sejakdari buaian sampai liang lahat ”.

e. M. I. Sulaeman

Kaitannya dengan masalah pedidikan, M.I Sulaeman berpendapat tentang penetian pendidikan :

”Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu perubahan atau rindakan yang dilakukan dengan maksud agar anak atau orang lain yang dihadapi akan meningkat pengetahuannya, kemampuannya, akhlaknya bahkan juga seluruh kepribadiannya”

Berdasarkan definisi diatas, diperoleh gambaran bahwa betapa beraneka ragamnya pengertian pendidikan. Hal ini menunjukan keaneka ragaman para ahli dalam melikat sudut pandang pendidikan yang berbeda, tentunya disesuaikan dengan keperluannya masing-masing. Namun jika dikaji lebih dalam ternyata diantara perbedan yang ada itu, terdapat kesamaan bahwa dalam kegiatan pendidikan itu terdapat komponen yang harus ada dalam lomponen pendidikan, yaitu dalam pendidikan adanya orang dewasa untuk dapat memberikan bimbingan, dalam pendidikan harus ada perserta didik, dan tujuan pendidikan itu sendiri.tujuan pendidikan yang dimaksud ialah bentuk harapan tingkah laku dan kepribadian yang diinginkan dari hasil keghiatanm proses berlangsungnya kegiatan pendidikan.

Dalam Undang-undang nomor 20 yahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dimana disebutkan bahwa yang dimaksud pendidikan adalah merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudlkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik ektif mengembangkan potensi, utamanya untuk mengembangkan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadiann kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan bangsan dan negara.

Berdasarkan penegrtian pendidikan diatas semakin jelas bahwa pendidikan adalah kegiatan secara sadar dalam melakukan bimbingan, pengarahan dan bantuan dalam mempersiapkan kepribadian yang memiliki kepribadian, pengetahuan, keterampilan, dan ketangguhan moral untuk menjadi generasi yang diharapkan dapat melanjutkan cita-cita bangsa dan generasi sebelumnya. Itulah sebabnya sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia diarahkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kehidupan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Ruhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhhur, sehat jasmani dan rohani, serta bertanggung jawab pada masyarakat dan bangsa.

Bentuk hasil pendidikan yang diharpkan dari kegiatan pendidikan nasional, yaitu dipoerokeh warga negara yang memilki kepribadian, beriman, memilki pengetahuan dan keterampilan yang dapat menciptakan suasana hidup mandiri terpancar dari kehidupannya, mempunyai rasa tanggung jawab atas hidup bernasyarakat yang memilki rasa cinta tanah air dan kepedulian terhadap sesamanya. Sehingga pendidikan mampu melahirkan generasi yang mampu menerima estafeta cita-dita hidup bangsa. Melahirkan genetasi yang memilki kepribadian yang tinggi, beik menurut agama maupin sosial.

Semankin tinggi tingkat peradaban suatu bangasa, semakin tinggi kebutuhan akan hasil pendidikan. Dewasa ini pendidikan menjadi barang konsumen yang dibutuhkan setiap orang dalam kehidupannya. Sehinggga dengan demikian, pendidikan sekarang ini menempati posisi sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia yang tidak bisa dihindari. Dalam abad modern sekarang ini pertanyaan itu dapat dimengerti, karena pendidikan sangat dibutuhkan. Pendidikan dengan  segala hasilnya yang telah mampu melkukan dan mewujudkan kepada setuap individu terdidik untuk memenangkan persaingan. Oleh karena itu orang yang tidak mempunyai pendidikan akan tertinggal akan kalah dalam bersaing. Penguasaan ilmu tehnologi yang semakin maju yang mesrti dikuasai peserta didik.

Berdasarkan dari pengertian-pengertian secara umum seperti termaktub diatas, maka dapat dianalogikan pengertian pendidikan agama islam. Menurut AD marimba menjelaskan bahwa pendidikan agama islam adalah bimbingan jasmani dan rohani yang berdasarkan hukum islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukukran-ukuran iskam. Sedangkan H, Zuhairi mengemukakan  bahwa pendidikan agama islam adalah usaha-usaha secara sistematis dan poragmatis dalam membentuk anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran islam.

Menurut DR. Yusuf Al Qordlowi ysng dikutif Prof. DR. Azyumardi Azra, MA., mengemukakan bahwa pendidikan agama islam adalah pendidikan manusia seutuhnya akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, ahlak dan keterampilannya. Karena poendidikan islam menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebikan dan keburukannya.

Pengertian ini memperlihatkan perbedaan pendidikan umum dengan pendidikan islam. Perbedaan lebih jelas bila kita kembali peda salah satupengetian pendidikan umum, bahwa hal itu adalah proses pemindahan nilai-nilai budaya dari generasi ke genrasi berikutnya, sehingga tejadi kesinambungan ajaran-ajaran islam ditengah masyarakat.

Dari keterangan datas tepat sekali pendidikan islam dirumuskaskan oleh DR. Hasan Lunggulung sebagai proses penyiapan generasi muda untuk menjadi peranan, memindahkan pengetahuan, dan nilai-nilai islami yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal didunia dan memtik hasilnya diakherat.

Bisa ditegaskan bahwa pendidikan agama islam adalah segala upaya yang dilaukan setiap orang dalam memberuk kepribadian muslim. Dimensi inilah yangakan memberdakan kegiatan pendidikan umum dengan kegiatan pendidikan islam.

Pendidikan agam Islam denagn landasan Al quran dan al hadits yaitu kebribadian insan yang mencerminkan kertibadian muslim. Islam mengajarkan keseiimbangan kehidupan yang harus dikejar okeh setiap individu muslim. Sehingga dengan demikian hampir setiap saat muslim berdoa untuk mencapai dan memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat.

Menurut soekarno dan H. Supriadi beliau menjelasakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan islam adalah ”Pendidikan yang bernafaskan atau tuntunan ajaran islam dalam usaha dan membina dan membentuk pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, cinta kepada orang tua dan semasa hidupnya cinta kepada tanah airnya sebagai kaerunia yang diberikan Allah SWT.

Berdasarkan pengertian diatas, nampak semakin luas lapangan pendidikan islam, selain terciptanya kepribadian muslim, pendidikan agama islam juga berupaya membina muslimyang memikirkan atau rasa kasih sayangnya terhadap orang tua, sesama dan lingkunagnnya. Itulah sebabnya pendidikan agama islam berupayamembina kemampuan setiap pribadi muslim untuk mengadakan hubungan baik secara vertikal (hubungan manusia dengan Allah) dan secara horiizontal (hubungan sesama manusia).

B.  Kualitas Lima Insan Cita HMI dalam Kacamata Pendidikan Islam.

Dalam bahasan sebelumnya maestro HMI Prof. Agussalim Sitompul mengatakan HMI dan Perguruan Tinggi tidak bisa dipisahkan, ada sinergitas konstruktif antara keduanya, ditambah dengan fakta bahwa basis HMI sampai sekarang adalah di Perguruan Tinggi Islam.

Maka dari itu secara tidak langsung tujuan HMI mempunyai hubungan sinergis dengan dunia pendidikan islam.

” Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridloi allah AWT ”

Dalam tujuan HMI terdapat dua penegasan tentang Islam, yaitu ”..bernafaskan Islam” dan ”…yang diridloi Allah SWT”.

Tujuan HMI yang ditopang oleh kegiatan perkaderan HMI seperti ditulis sebelumnya adalah dalam rangka mencapai target yang mesti bertapak pada anggota-anggota HMI.

Pertama, Watak dan kepribadiannya. Yaitu dengan memberikan kesadaran berragama, akhlak dan watak. Itu berarti harus menjelma menjdi seorang individu berahlak luhur, memilki watak yang autentik serta memilki pengabdian dalam arti yang paling hakiki.

Dari hal itu kita korelasikan dengan devinisi pendidikan Islam menurit   DR. Yusuf Al Qordlowi ysng dikutif Prof. DR. Azyumardi Azra, MA., mengemukakan bahwa ” pendidikan agama islam adalah pendidikan manusia seutuhnya akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, ahlak dan keterampilannya. Karena poendidikan islam menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebikan dan keburukannya”.

Dilihat dari devinisi tersebut, yaitu ”…menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan keburukannya ”. Dan di tujuan HMI terdapat kata ”… bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur ”.

Bila dikaji dua kalimat yang terdapat dari devinisi dan tujuan HMI itu ada hubungan erat, kalimat ”…menyiapkan untuk menghadapi masyarakat…” lebih cenderung pada persiapan mahasiswa islam untuk mengisi ruang-ruang pencerahan masyarakat, dan kelimat pada tujuan HMI ”…bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur” adalah implementasi anggota HMI/mahasiswa yang sudah dididik untuk menerapkan segala kemampuannya di masyarakat.

Sedangkan H, Zuhairi mengemukakan  bahwa ” pendidikan agama islam adalah usaha-usaha secara sistematis dan poragmatis dalam membentuk anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran islam”. Dalam tujuan HMI tertulis ”…yang bernafaskan islam”.

Menurut H. M. Arifin ” pendidikan adalah usaha sadar orang dewasa untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik, baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal”. Dalam target sasaran perkderan HMI terhadap anggota-anggota HMI menurut Agussalim Sitompul dalam pedoman perkaderan HMI, adalah ” tiga aspek yang ditekankan dalam usaha pelaksanaan kepribadian, pengembangan kualitas intelektualitas  atau kemempuan ilmiahnya, pengembangan kemampuan profesional atau keterampilannya, harus terintegrasi secara utuh.[3]

Maka dapat dipertegas sinergitas antara falsafah kualllitas lima insan cita/tujuan HMI dengan kaca mata pendidikan yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan seperti diatas adalah :

  • Usaha secara sadar Lembaga/himpunan dalam usaha membimbing dan mendidik peserta didik (dalam HMI disebut dengan proses pengkaderan)
  • Perkaderan HMI dalam membina anggota-anggota HMI berdasarkan azas islam[4] dan selaras dengan pola pemikiran pakar penddikan Islam dengan menitik beratkan pada nuansa pendidikan formal maupun non formal.
  • HMI adalah organisasi yang mempunyai target pada pemebentukan intektual mahasiswa

 

Kesimpula:

 

Berdasatkan uraian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat HMI didirikan di Yogyakarta tanggal 5 Februari 1947, yang diprakarsai pemuda Lafran Pane (1922-1991), mahasiswa tingkat satu sekolah Tinggi Islam (STI). Hingga saat ini HMI merupakan organisasi tertua dan terbesar di Indonesia, organisasi ini ikut berjuang ditengah-tengah bangsa sejak kelahirannya sampai sekarag. Hal ini tidak lepas perannya sebagai organisasi perjuangan, yang ingin melakukan perubahan dan pembaruan disegala bidang kehidupan. HMI dikenal secara luas dikalnagn masyarakat, pemerintah, pemuda, pelajar dan kaum cendikiawan. Hususnya dikalngan Perguruan Tinggi kemahasiswaan, dan kaum cendikiawan, nama HMI tidak asing lagi. Selain basis HMI di Perguruan Tinggi, kegiatan dan aktivitas HMI di kampus membawa citra organisasi ini semakin popiler.

HMI berzaskan Islam. Ini adalah konsekuensi dari gerakan terdahulu masa pejajahan, bahwa maksud Lafran Pane adalah merekrut mahsiswa beragaa Islam guna mempunyai wadah perjuangan. Dalam perkembangannya azas islam ini diatur dalam Anggaran Dasar HMI bab 2 pasal 3. ” HMI berazaskan Islam”[5]. Fungsi HMI adalah sebagai organisasi kader[6]. Karena itu sebagai organisasi yang konsisten dengan perkaderan HMI mempunyai jenjang perkaderan Latihan Kader I,II dan III. Bahkan inilah yang memperkuat eksitensi HMI sampai skarang. [7] karena kader sesuai dengan devinisinya sebagai benteng dari mara bahaya[8] mempuyai tugas yang sangat berat yaitu sebagai calon intelektual dan pejuang. Dalam Anggaran Dasar  HMI bahwa tujuan HMI adalah ” Terbinanya Insan Akademis Pencipta Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur”. [9] . Tujuan atau yang dikenal denagn kualitas lima insan cita HMI. Tujuan ini merupakan pengembangan dari tujuan awal pada tahun 1947 yang ” (1). Mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat Indonesia. (2). Menegakan dan mengembangkan ajaran islam[10].

  1. Konsep kualitas lima insan cita HMI juga tujuan HMI, yang berbunyi             Terbinanya Insan Akademis pencipta pengabdiyang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridoi Allah SWT ”[11].

Bila diuraikan terdapat 5 aspek :

  • Pertama, Kualitas insan akademis, artinya insan terpelajar, insan yang berpendidikan dan berilmu penegetahuan, aertinya insan yang mengimplementasikan kewajiban presfetiiv islam tentang menuntut ilmu, mampu berdiri sendiri sesuai dengan perkembangan zaman[12].
  • Kedua, Kualitas Insan Pencipta adalah : Insan akademis Pencipta. Adalah kader HMI yang berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, objektif dan kritis. Memiliki kmampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan, sanggup berdiri sendiri dengan lapangan Ilmu pilihannya, baik secara teoritis dan tehnis, dan sanggup bekerja secara ilmiah, yaitu secara bertahap dan teratur, mengarah pada tujuan sesuai pada prinsip-prinsip perkembangan ” [13]
  • ” Ketiga, Kualitas Insan Pengabdi adalah Insan Akademis, Pencipta dan Pengabdi yang ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau sesama umat, sadar membawa tugas Insan pengabdi, bukan hanya membuat dirinya baik namun juga membuat lingkungannya lebih baik, dan bersunguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan Ilmunyauntuk kepentingan sesama ”[14]
  • Keempat, Kualitas Insan Yang bernafaskan Islam adalah kader HMI harus menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menjadi pedomanberkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai unversal Islam. Ajaran Islam telah membentuk unity personality dalam dirinya, nafas Islam telah membentuk pribadi dirinya yang utuh dan tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai warga muslim. Kualitas Islam ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan  umat Islam Indonesia dan sebaliknya. ” [15]
  • Kelima, kualitas insan yang bertanggung jawab, atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWR. Artinya Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam mengerjakan persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis. Rasa tanggung jawab, bertaqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk berperan aktf dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmu. Percaya pada diri sendiri dan sadar akan keberadaanya sebagai kholifah fil ard, yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan”. [16]

Pada pokonya kualitas lima insan cita HMI merupakan ”man of future”[17] yaitu insan pelopor tentunya yang berfikiran luas dan visioner.

  1. Dalam hal ini pendidikan banyak yang mengartikan, tentunya dengan sudit pandang berbeda, namun mempunyai substansi yang sama. Seperti para ilmuan dibawah yang mengartikan : Menurut DR. Yusuf Al Qordlowi ysng dikutif Prof. DR. Azyumardi Azra, MA., mengemukakan bahwa pendidikan agama islam adalah pendidikan manusia seutuhnya akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, ahlak dan keterampilannya. Karena poendidikan islam menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebikan dan keburukannya.

Dari keterangan datas tepat sekali pendidikan islam dirumuskaskan oleh DR. Hasan Lunggulung sebagai proses penyiapan generasi muda untuk menjadi peranan, memindahkan pengetahuan, dan nilai-nilai islami yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal didunia dan memtik hasilnya diakherat.

Bisa ditegaskan bahwa pendidikan agama islam adalah segala upaya yang dilaukan setiap orang dalam memberuk kepribadian muslim. Dimensi inilah yangakan memberdakan kegiatan pendidikan umum dengan kegiatan pendidikan islam.

Menurut soekarno dan H. Supriadi beliau menjelasakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan islam adalah ”Pendidikan yang bernafaskan atau tuntunan ajaran islam dalam usaha dan membina dan membentuk pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, cinta kepada orang tua dan semasa hidupnya cinta kepada tanah airnya sebagai kaerunia yang diberikan Allah SWT. erdasarkan pengertian diatas, nampak semakin luas lapangan pendidikan islam, selain terciptanya kepribadian muslim, pendidikan agama islam juga berupaya membina muslimyang memikirkan atau rasa kasih sayangnya terhadap orang tua, sesama dan lingkunagnnya. Itulah sebabnya pendidikan agama islam berupayamembina kemampuan setiap pribadi muslim untuk mengadakan hubungan baik secara vertikal (hubungan manusia dengan Allah) dan secara horiizontal (hubungan sesama manusia). Dengan devinisi pendidikan Islam menurit   DR. Yusuf Al Qordlowi ysng dikutif Prof. DR. Azyumardi Azra, MA., mengemukakan bahwa ” pendidikan agama islam adalah pendidikan manusia seutuhnya akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, ahlak dan keterampilannya. Karena poendidikan islam menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebikan dan keburukannya”.

Dilihat dari devinisi tersebut, yaitu ”…menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan keburukannya ”. Dan di tujuan HMI terdapat kata ”… bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur ”.

Sedangkan H, Zuhairi mengemukakan  bahwa ” pendidikan agama islam adalah usaha-usaha secara sistematis dan poragmatis dalam membentuk anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran islam”. Dalam tujuan HMI tertulis ”…yang bernafaskan islam”.

Menurut H. M. Arifin ” pendidikan adalah usaha sadar orang dewasa untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik, baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal”. Dalam target sasaran perkderan HMI terhadap anggota-anggota HMI menurut Agussalim Sitompul dalam pedoman perkaderan HMI, adalah ” tiga aspek yang ditekankan dalam usaha pelaksanaan kepribadian, pengembangan kualitas intelektualitas  atau kemempuan ilmiahnya, pengembangan kemampuan profesional atau keterampilannya, harus terintegrasi secara utuh.[18]

Maka dapat dipertegas sinergitas antara falsafah kualllitas lima insan cita/tujuan HMI dengan kaca mata pendidikan yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan seperti diatas adalah :

  • Usaha secara sadar Lembaga/himpunan dalam usaha membimbing dan mendidik peserta didik (dalam HMI disebut dengan proses pengkaderan)
  • Perkaderan HMI dalam membina anggota-anggota HMI berdasarkan azas islam[19] dan selaras dengan pola pemikiran pakar penddikan Islam dengan menitik beratkan pada nuansa pendidikan formal maupun non formal.
  • HMI adalah organisasi yang mempunyai target pada pemebentukan intektual mahasiswa .
  1. B. SARAN

Pengetahuan, pemahaman dan penghayatan terhadap HMI hanya dapat dicapai apa bila anggota-anggota HMI mempelajari secara benar dan utuh. Maka dari itu disarankan kepada semua anggota HMI, aktivis, alumnus HMI dan siapa saja pada umumnya yag bermiat mempelajari pendidikan-pendidikan islam yang terdapat di HMI maka ambilah dari sumbernya.

Nilai-nilai pendidikan yang ada dalam kualitas lima insan cita HMI yang setelah diketahui banyak keselarasan dengan tujuan pendidikan nasional dan metode pendidikan para ahli, tentunya merupakan hal yang mesti ditngkatkan serta dipahamni bahwa keberadaan kita di HMI adalah sebagai insan yang di kader mejadi calon intelektual.

Berdasarkan empirik dan normatif kesinergisan perkaderan HMI dengan pola dan tujuan ternyata amatlah konstrruktif, maka dari itu kepada semua pihak yang tahu akan keberadaan HMI hendaklah semakin meningkatkan kebersamaan menjaga eksistensi HMI baik di tatanan cabang, maupun seterusnya sampai ketatanan PB


[1] Dikutip dari nomor 2 tahun 1989 tentang sisdiknas.

[2] Dikutip dari UU nomor 20 tahun 2003 tentang sisdiknas Bab III pasal 3

[3] Pedoman Perkaderan HMI (penerbit PBHMI, 1998).hal 7

[4] AD/ART HMI. Hasil-hasil kongres HMI ke-XXVI palembang. (PB HMI. 2008) hal 20

[5] Hasil-hasil kongres HMI ke XXVI Palembang. (PB HMI 2008) hal 3

[6] Ibid. bab 4 pasal 9

[7] Nanang Tahqiq. Bye-bye HMI. Hal 446

[8] DR. Agussalim Sitompul. 44 indikator kemunduran HMI, suatu kritik dan saran demi kebangkitan HMI. Hal 9

[9] Hasil-hasil kongres HMI ke XXVI Palembang. Hal 5

[10] Dr. Agussalim Sitompul. Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam. 1947-1993 hal 20

[11] Anggaran Dasar HMI BAB III pasal 4. Hasil-hasil kongres HMI ke XXVI Palembang.

[12] Op.cit. hal 14

[13]Op.cit. hal 15

[14] Ibid. hal 15

[15] Op.cit. hal 15

[16] Ibid , hal 15

[17]Op.cit hal 17

[18] Pedoman Perkaderan HMI (penerbit PBHMI, 1998).hal 7

[19] AD/ART HMI. Hasil-hasil kongres HMI ke-XXVI palembang. (PB HMI. 2008) hal 20

One response to “HMI dan Pendidikan (part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s