Caudillos Ala Jawa

Beruntunglah orang jawa, diindonesia orang jawa memiliki memiliki karakter yang halus, santun dan agak nyambung jika dikaitkan dengan konteks ketiumuran. Meski dalih demokrasi, kebebasan, sampai liberalisasi memuncak diindonesia, kaum jawa mampu mempertahankan estafet kepemimpinan dinusantara. Dari enam deretan orang nomor satu diindonesia, tercatat hanyalah BJ. Habibi dan Megawati yang notabene bukan anak jawa. Selain itu Sukarno, Suharto, Abdurahman Wahid dan Susilo Bambang Yudotono adalah anak jawa.

 

Namun tidak bisa dipungkiri, sederetan nama anak jawa itu adalah orang-orang yang mempunyai prestasi, seperti sukarno adalah sosok yang diakui para pemuda 45 untuk memproklamirkan bangsa indonesia, atau suharto yang dianggap mampu menghalau pemnghianat komunis diindonesia, abdurahaman wahid yang biasa disebut gusdur adalah cendikiawan yang mumpuni secara intelektual, dan terakhir susilo bambang yudoyono adalah seorang jenderal yang mempunyai prestasi sedari pendidikan militernya.

Mereka dengan segala prestasinya tak lepas dengan aspek pendidikan dan tradisi jawa. Artinya patutlah berterimakasih atas segudang anak-anak jawa dalam estafet kepemimpinannya. Namun ada hal yang cacat dibalik dominasi anak jawa dipentas politik dan regenarsi kepemimpinan dari anak jawa tersebut, yaitu budaya menanamkan kekuasaan untuk eksistensinya.

Soekarno

 

Sukarno yang lahir diblitar pada tanggal 6 juni 1901 ini adalah presiden pertama RI dari tahun 1945-1966 yang artinya 21 tahun dia memimpin bangsa indonesia. Namun sayang berakhir dengan tragis akibat kediktatorannya sehingga berakhir dengan krisis ekonomi dan stabilisasi politik, yang memakssa dia menyerahkan tampuk kepemipinan pada suharto, yang dikenla dengan surat supersemar.

Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya – berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat – menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.

Soeharto

 

Jend. Besar TNI Purn. Haji Moehammad Soeharto, (ER, EYD: Suharto) (lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 – meninggal di Jakarta, 27 Januari 2008 pada umur 86 tahun[1]) adalah Presiden Indonesia yang kedua, menggantikan Soekarno, dari 1967 sampai 1998.

Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Setelah Gerakan 30 September, Soeharto menyatakan bahwa PKI adalah pihak yang bertanggung jawab dan memimpin operasi untuk menumpasnya. Operasi ini menewaskan lebih dari 500.000 jiwa.

Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun tersebut, menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang Indonesia terlama dalam jabatannya sebagai presiden. Soeharto digantikan oleh B.J. Habibie.

Peninggalan Soeharto masih diperdebatkan sampai saat ini. Dalam masa kekuasaannya, yang disebut Orde Baru, Soeharto membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi dan infrastruktur. Suharto juga membatasi kebebasan warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, menduduki Timor Timur, dan dianggap sebagai rezim paling korupsi sepanjang masa dengan jumlah US$15 milyar sampai US$35 milyar.Usaha untuk mengadili Soeharto gagal karena kesehatannya yang memburuk. Setelah menderita sakit berkepanjangan, ia meninggal karena kegagalan organ multifungsi di Jakarta pada tanggal 27 Januari 2008.

Abdurrahman Wahid (Gusdur)

 

K.H. Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940; umur 69 tahun; terlahir dengan nama Abdurrahman Addakhil) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dengan dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid yang dimulai pada 20 Oktober 1999, dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR.

Meski dia hanya tiga tahun saja berkuasa, namun naluri dominasinya masih mewarnai di Partai yang dibentuknya, PKB. Perjalanya tak lepas dengan kediktatorannya diinternal partai, hingga banyak kader partai yang merasa tidak nyaman dan berpindah keluar partai. Puncak berakhirnya di PKB setelah muktamarnya dikalahkan dengan muktamar versi muhaimin iskandar, di MK.

Susilo Bambang Yudoyono

Jend. TNI (Purn.) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (lahir di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, Indonesia, 9 September 1949; umur 60 tahun) adalah Presiden Indonesia ke-6 yang menjabat sejak 20 Oktober 2004. Ia, bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, terpilih dalam Pemilu Presiden 2004. Ia berhasil melanjutkan pemerintahannya untuk periode kedua dengan kembali memenangkan Pemilu Presiden 2009, kali ini bersama Wakil Presiden Boediono. Sehingga, sejak era reformasi dimulai, Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Presiden Indonesia pertama yang menyelesaikan masa kepresidenan selama 5 tahun dan berhasil terpilih kembali untuk periode kedua.

Prestasi SBY patut diakui, terutama dengan membentuk KPK yang dalam perjalannaya mampu mendonkrak para penegak hukum untuk memberantas korupsi.

Dengan mencalonkan diri dan terpilih kembali sebagai presiden RI untuk periode 2009-2014 SBY menunjukan naluri kekuasaanya layaknya presiden terdahulu.

Dari keempat presiden asal jawa itu terdapat naluri kekuasaan yang tinggi. bcara kekuasaan didalamnya ada kediktatoran, kesewenang-wenangan, centralisasi dan nepotisme. Sepertinya itu adalah tradisi yang dibentuk oleh karakter pemimpin ngera kita, namun ada yang harus menjadi catatan bagi kita, yaitu tradisi su’sul khotimah. Sukarno berakhir dengan terbelitnya kondisi bangsa yang tak terkondisikan, soeharto terbelit dengan KKN, Gusdur terbelit dengan kesewanang-wenangan, dan sekarang masa kepemiminan SBY?.

Tradisi memperkuat kekuasaan bukan hanya terjadi diindonesia, kita mengenal presiden Venezuela Hugo Chavez, dia setelah berkuasa sepuluh tahun, lalu dia mengahpu UU tentang pembatasan masa jabatan presidan. Dalam sejarah kekuasaan orang-orang akhirnya tergusur dengan tragis dari kekuasaan oleh gerakan sipil.

Lalu bagaimana dengan SBY sekarang?

Dia terlihat emas sekarang, dengan memenagkan pilpres dalam satu putaran, mengalahkan rivalnya Jusuf kalla dan Megawati. Ditambah dengan kemenangannya dilegislatif, membuatnya dia kokoh berada diatas kekuasaan, dia terwarisi tradisi caudillos, kuat dan diktator.

Terlihat dalam perjlanannya dia terlihat mendominasi. Masih ingatkah kita saat terjadi audisi artis kabinet jilid II dicikeas?. Semoga!

One response to “Caudillos Ala Jawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s