‘Idul Adha Membentuk Jiwa Ksatria

Allahu akbar  Allahu akbar Allahu akbar wa lillahilhamdu…

Kholilullah, itulah julukan Ibrahim as. Sesungguhnya kepastian Allah memberi julukan itu pada Ibrohim yang saleh. Namun kekuatan malaikat melihat sang ibrohim tidaklah setajam tuhan penciptanya, malaikat melihat saleh sosial dan kesibukannya secara lahiriah. Dia intrupsi pada tuhan ” ya Allah mengapa engkau memberi julukan kholilullah pada Ibrohim?, bukanlah dia terlalu sibuk dengan urusan dunia dan kejayaan keluarganya?”. Lalu Allah menjawab” janganlah kalian memandang hambaku Ibrohim dari sisi lahiriyahnya, tapi pandanglah dari sisi hari dan amal baiknya dan sesungguhnya tiada kecintaan lain selain cintanya padaku”.
Untuk meyakinkan malaikat, allah menguji Ibrohim as dengan diperinyahkannya menyembelih/mengorbankan anak semata wayangnya dari Hajar untuk disembelih. Perintah ini bagaikan lahan subur syetan untuk semakin menggerogoti ketakwaaan ibrohim dan keluarganya, mereka syetan menggoda Ibrohim, terkhir dia menggoda Hajar namun sang ibu tetap tawakal, dan mengusir syetan dengan batu (yang hingga sekarang dikenal dengan lempar jumarah).Singkat cerita yang penuh haru dan terasa tersayat hati kita menikmati cerita itu, ada beberapa hal yang menjadi hikmah kita yang hidup dijaman edan ini, selain menjadi warisan rutinitas menyembelih hewan kurban ditanggal 10 dzulhijjah.Allah tidak lain adalah mendidik manusia agar manusia bisa bersjiwa kesatria. Yaitu jiwa cinta kepada tuhan. Bukan hanya kepada tuhan,digantikannya ismail dengan hewan kurban/kambing adalah menandakan agar manusia mempunyai jiwa cinta kepada sesama umat manusia untuk saling berbagi.

Peristiwa ribuan tahun lalu itu adalah peringatan kepada manusia, yang sepanjang jamannya akan diikuti sifat individualis, kufur, serakah dan ingkar. Seperti halnya keadaan masyarakat elit diindonesia yang tak lebih dari golongan pecundang belaka, berani bukan pada tempatnya, berani hanya untuk kepentingannya, berani karena tawar menawar, berani mencela, berani membunuh lawan politiknya, tidak adil pada diri sendiri.

Berangkat dari itu sangat kecil maknanya jika peristiwa kurban itu hanya diartikan menyembelih hewan. Maka inilah mengapa allah memerintahkan manusia untuk berkurban (asal kata korub) yang artinya dekat/mendekatakan diri kepada Allah.

Selain belajar mengorbankan jiwa raga, secara simbolis hewan mempunyai makna secara psikologis, hewan diidentikan dengan sifat serakah, kejam, dan tak berakal. Maka sembelihlah!. tegasnya dalam idul adha itu adalah upacara serentak di dunia untuk membunuh sifat manusia yang kebinatang-binatanganya.

Terutama di indonesia, adalah mayoritas umat islam. Tak terhitung lagi kaum cedikiawan, kaum intelektual, kaum ilmuan, kaum politik, kaum pelajar, kaum santri. Kekayaan perangkat itu akan lebih mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kesatria. Jika esensi utama idul kurban ini berlaku.

Seperti halnya kesatria adalah seorang yang berani dan tangguh untuk mengorbankan segala yang dimilikinya atas kepentingan agama dan manusia. Seperti halnya kesatria kita pangeran diponogoro, teuku umar dan cut nyadien dan lain lain hingga menjadikan bangsa yang berkarakter kesatria. Mereka bagaikan titisan ibrohim yang menjelma diindonesia, yang berani menaruhkan jiwa raganya, dan berani menikam musuh dengat tangnnya demi kewajibannya sebagai hamba Allah.
Korbankan semua yang kita miliki, harta ilmu dan jiwa sekalipun karena susungghnya itu adalah milik allah. Demi Allah semua akan diganti Allah SWT.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H.
Allahu akbar, allahuakbar, allahuakbar walillahi hamdu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s