Singa “Lebay”

Pernahakah kita bayangkan dengan fantasi kita, jika seeokor singa buas dihutan, tiba-tiba tersenyum malu sambil menutupi taring dimulut serakahnya dengan kesepuluh jarinya?, lalu dia tersenyum imut ” hihihihi”, hingga matanya yang sinis sekarang terlihat sayup penuh malu, pokonya percis seperti yang namanya manusia pecundang dengan beribu dosanya namun tak tau malu. Kira-kira seperti itulah kalau digambarkan..

Bagi singa itu mustahil terjadi, karena singa adalah ditakdirkan menjadi raja hutan setelah “tarzan”, maka sekali raja adalah raja, dia akan menerkam siapa saja yang menjadi mangsanya, sekali mangsa adalah mangsa yang harus dikejar sampai dapat selama perutnya lapar, tak terkecuali bahkan jika mangsanya gajah sekalipun. Serakah.

Namun lain dengan yang diceritakan dongeng jawa berhuruf jawa kuno, diceritakan disebuah hutan ada tikus bermain didepan singa yang sedang tertidur, namun nyanyian tikus yang tidak berirama itu membuat sang singa terbangun dari mimpi basahnya, dengan geram dia menerkam tikus, nyanyianpun terhenti dengan suara ketakutan dan minta ampun. Bagi singa itulah mangsa yang paling mudah didapat, karena tak perlu cape-cape mengejar, bahkan tinggal mengunyah saja.

Namun dia mengurungkan niatnya untuk mengunyah tikus, singa berbesar hati ini hanya mahkluk kecil tak sebanding dengan tenaga dan gelar yang disandangnya RAJA hutan, susah payah mendapat gelar RAJA setelah menumbangkan GAJAH, HARIMAU, BERUANG, dan musuh lainya. Atau dia tak mau mendapat gelar pecundang. Akhirnya singa dengan mata bijaknya, dengan senyum ke-Raja-rajaannya, dengan mahkota kepala ketundukannya dia melepas tikus.

Artinya yang menjadikan gelar raja hutan pada singa adalah jiwanya yang kesatria, yaitu raja yang mati-matian menjaga hutan yang ternacam kelestariannya, Raja yang menjaga keluarga dan saudaranya dari kepunahaan, jiwa Raja yang bertarung dengan memperebutkan kekuasaan dengan kekuatan yang dia miliki sepenuhnya tanpa bantuan mahluk lain, dan raja yang tidak pernah menunjukan ekspresi muka Lebay, yaitu mengemis perhatian, mengemis simpati. Atau raja yang bersikap seolah-olah, yaitu seolah-olah dihianati, seolah-olah dizalimi. Karena singa atau raja hutan yang sebenarnya adalah dia yang percaya dengan kekuatan diri dan lawannya, bukan yang mencari kekuatan tambahan.

Lalu bagaimana dengan singa-singa sekarang?, masih adakah taring dan kukunya?, jawabnya ADA. Namun taring dan kuku itu sekarang layu, otot yang dulu kekar sekarang lunak, suara yang dulu menggaung sekarang serak. Karena berbeda dengan singa dulu yang makannya kaya gizi dan protein, halal da baik, sekarang kekuatan itu hilang karena singa-singa sekarang makan dari barang haram hasil korupsi.

Terjawablah sudah, mengapa negeri ini dipimpin oleh raja-raja pecundang yang hanya berani memangsa rakyat kecil, raja yang harusnya melindungi rakyat dari serangan musuh, malah sengaja membunuh dengan tangannya, raja yang harusnya mengusir penjajah, sekarang penajajah diundang sang raja. Raja yang seharusnya berpandangan jauh kedepan, sekarang terbatas hanya memandang lima tahun saja. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s