Krisis dan Lysis

Harus kembali diintropeksi oleh semua kalangan yang mengaku dirinya sebagai pelaku gerakan reformasi mei 1998. Berawal ingin membebaskan belenggu dari rezim orde baru, dan membumi hanguskan benteng korupsi kolusi dan nepotisme yang sudah terlalu menjelimet dipemerintahan pimpinan Suharto. Harus diakui keberaniannya, gerakan mahasiswa era itu tidak tanggung-tanggung langsung berhadapan dengan militer, namun apa daya gerakan moral itu berbuntut multikrisis yang akhirnya menumbangkan suharto dari jabatan pressiden yang telah diembannya selama 32 tahun.

Kita mafhum, produk yang sangat dirasakan adalah demokrasi. Demokrasi adalah cita-cita bangsa indonesia. Membebaskan dari segala belenggu dari penjajah atau pihak yang menghalangi hak dan keleluasaan masyarakat dalam berkarya dan mengapresiasikan diri.

Tradisi membelenggu

Namun jika kita telusuri dengan seksama, ternyata bangsa indonesia dari generasi kegenerasi tidak lepas dari kungkungan dan belenggu dalam mengembangkan karakter berbangsa Indonesia. Pertama belenggu penjajah Belanda, Inggris dan Jepang selama 350 tahun yang berakhir ditahun 1945. Dan kedua, belenggu internal, yaitu belenggu dari otoriteieme dan budaya rezim kekuasaan dari masa kemasa. Seolah belenggu dan kungkungan ini menjadi tradisi.

Tradisi membelenggu haruslah dijauhkan dengan segera. Karena tradisi itu secara perlahan akan menjadikan bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dengan ledakan beradius samapai kenusantara. Bahkan bukan hanya menhancurkan pondasi politik tetapi akan berimplikasi timbulnya multikrisis.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa tradisi belenggu dinegara kita masih berlangsung hingga saat ini. Ada dua pola pembelengguan yang terjadi diindonesia hingga saat ini. Pertama membelenggu secara fisik, yaitu membunuh secara nyata masyrakakat yang seringkali bereaksi atau berkarya yang tidak seirama dengan kebijakan sang penguasa. Hali itu dilakukan oleh penjajah diindonesia yang berlangsung selama 32 tahun, bahkan dilakukan oleh peguasa orde baru dengan menculik aktivis-aktivis.

Kedua, belenggu dengan membunuh secara psikologi atau membunuh karakter. Jika kita bandingkan dengan membunuh secara fisik jelas pembunuhan karakter lebih berbahaya, karena itu berbarti melakukan proses pembodohan. Salah satu conotoh pembunuhan karakter adalah kebohingan publik secara sistematis diaparat pemerintahannya secara terstruktral. Langkah pembodohan dan pembelengguan karakter ini menjadi trend diindonesia. Bukan hanya itu, pola pembelengguan dan pembunuhan karakter diindonesia ini dilakukan dengan sengaja oleh pemnguasa, dengan selalu melakukan tradisi hutang keberbagai lembaga-lembaga keuangan duniaa, dan mengahadirkan investor-investor asing yang merebut hak warga.

Bom waktu, gerakan sipil society

Jika belenggu dan pembunuhan karakter ini terus berlanjut dibangsa ini, terutama masa pemerintahan SBY dan rezimnya yang sudah terindikasi membelenggu masyarakat indonesia maka tinggal menanti waktu kapan bom waktu dari masyarakat sipil ini meledak, alias reformasi jilid II.

Belajar dari peristiwa 1998, gerakan bom waktu itu mengakibatkan multi krisis dan lysis yang mengancam bangsa eksistensi masyarakat indonesia. Krisis adalah berlangsung singkat, seperti ekonomi dan politik. Masih ingat dibenak kita, krisis moneter mulai tahun 1997 mengakibatkan bangrutnya perekonomian makro indonesia, ribuan pengusaha indonesia gulung tikar, bertambahnya pengangguran dan kemiskinan bahkan kelaparan.

Lysis berarti situasi mengempisnya dengan lambat laun suatu tenaga yang sudah lama berjaya lalau runtuh dengan tragis. Seperti kekauatan militasni dan patriotisme masyarakat, tradisi bangsa dan karakter kejuangan intelektual keiindonesiaan, sehingga mengancam legitimasi indonesia sebagai pusat pandangan dan idiologi berwarga negara.

Lysis yang diwariskan gerakan reformasi itu masih kita rasakan, indonesia seakan kehilangan idiolologi dan arah yang jelas. Masyarakat kehilangan haknya dalam mengelola kekayaan nusantara, karena dikuasai warga asing, masyarakat kehilangan hak menikmati hasil pajak karena habis dibayar hutang negara, masyarakat kehilangan haknya dalam keadilan karena legitimasi hukum diindonesia belum begitu berpihak pada pedagang kaki lima, tukang bajai, dan para pemulung.

Strategi alternatif baru

Kita sayangklan, krisis dan lysis yang terjadi justru menjadi arena kampanye paotai politik yang sebenarnya mandul, padahal krisis ini berlangsung dari masa kemasa, dan kampanyepun seolah tanpa lelah dari masa kemasa selalu mengumandangkan hal itu. mereka pelaku poltik diindonesia menjanjikan strategi kekuasaan baru, dengan dalih kerakyatan, atau keseimbangan. Namun sebenarnya itu tidaklah tepat, karena kekuasaan pada hakikatnya adalah kesewenang-wenangan.

Yang harus ada adalah strategi alternatif baru. Yaitu bagaimana kemudian masyarakat bisa menjadi kaum yang utuh, kaum yang menjelma menjadi hakim dengan integritas bangsa yang mantap. Artinya masyarakat harus menjadi peyangga bangsa dengan segala karakternya.

One response to “Krisis dan Lysis

  1. Belengu itu sudah makin banyak, bukan hanya utang. Lihat saja jalan-jalan, lihat saja pengangguran, lihat saja sekolah, lihat saja supir angkot, lihat saja pengemudi motor, lihat saja pembangunan. dll dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s