Devil’s Governence vs Devil’s Advocate

Harus menjadi bulan-bulanan semua pihak, adalah yang namanya kekuasaan. Karena kekuasaan adalah prilaku iblis. Menggambarkan kekuasaan sama halnya jika kita membayangkan bagaimana rupa dan prilaku iblis itu. Wujudnya menakutkan, semua pengawakannya berbeda dengab mahluk yang namanya manusia. Matanya merah dan melotot melambangkan betapa pancaran hatinya kejam dan sadis. Tangannya panjang, jarinya berkuku tajam dan kesemuanya kotor bahkan beracun, melambangkan betapa iblis itu senang mengambil hak yang lain dan tidak segan-segan membunuh dengan musuhnya.

Pemandangan seram seperti itu sulit digambarkan secara detail, karena semua yang membaca ini adalah manusia bukanlah iblis. Sesuai dengan wujudnya yang menakutkan, prilakunyapun aneh, dia konsisten dengan keegoisannya dan rasa takut dengan kesendirian, maka dia akan terus melebarkan ajaran sesatnya untuk memperkokoh keiblisannya dijagad raya ini tak terkecuali mengajak manusia untuk bisa menemaninya dineraka. Tapi !, harus diingat, sejahat-jahat dan seseramnya iblis, dia bisa merubah wujudnya menjadi sosok yang santun dan lembut gemulai, bisa merubah otak ularnya menjadi otak ulama, merubah mulut beo nya menjadi mulut penyair, dan merubah badan bunglonnya menjadi badan feminim.

Seram bukan?, Itulah iblis. Namun jika kita tarik ke alam nyata ini, maka yang ada adalah Kekuasaan. Kekuasaan itu sifatnya serakah, dia selalu ingin membesarkan dan memmusatkan semua manusia pada diri pribadinya.  Kecenderungan kekuasaan itu memperluas dan menyelewengkan kekuasaanya, namun tidak dibarengi dengan kemampuan untuk mengawasi dirinya. Iblis kan?

Kenapa naluri penguasa cenderung meluaskan kekuasaan?, jawabannya karena dia takut. Betapa tidak dia penuh dengan kesewenang-wenangan, cara yang digunakanya tidak jauh dengan pola binatang, hingga sadar dengan sendirinya penuh dengan kesalalahan.

Jika kita sepakat bahwa kekuasaan harus dibumi hanguskan dari ibu pertiwi, maka kekuasaan harus diiringi dengan oposisi. Dalam ilmu pemerintahan oposisi bukanlah bagian dari sistem, maka pelaku oposisi adalah masyarakat sipil. Namun menjadi oposisi bukanlah hal yang mudah. Butuh kelompok dari individu-individu yang serius dan merdeka. Maksud merdeka adalah Independent, agar gerakannya tidak masuk angin. Selain itu resiko beroposisi adalah secara masif akan berhadapan dengan penguasa itu sendiri dengan berbagai kelengkapannya baik hukum karet maupun lembaga-lembga yang diisi konco-konconya.

Seperti yang dialami oleh gerakan opsisi era orde baru, penguasa secara terang terangan melakukan pembusukan dan pembunuhan terhadap kelompok-kelompok oposisi, dan menganggap devil (setan) yang harus dihanguskan. Pembusukan-pembusukan penguasa terhadap kelompok oposisi justru menggunakan masyarakat, jelas dia akan berbicara tentang kepentingan rakyat, bangsa dan negara sebagai ajang pembelaan dirinya untuk mempertahankan dirinya.

Kehadiran oposisi membuat penguasa harus selalu menerangkan dan mempertanggung jawabkan mengapa suatu kebijakan diambil, ada dasar dan tujuannya, apa urgensinya, dan dengan cara bagaimana kebijakan itu bisa diterpakan.

Gerakan oposisi haruslah berkesinambungan, terlebih bahwa kekuasaan adalah bagian dari hidup selama iblis masih bergentayangan. Secara teknis, artinya gerakan oposisi bukanlah gerakan membunuh secara personal, meski sebenarnya seorang penguasa hakikatnya memusatkan semua pada diri pribadi dan keluarganya, oh ya.. konco politiknya juga. Gerakan oposisi adalah gerakan control pada terhadap kebijakan penguasa yang salah (sin of commision) dan menunjukan apa yang harus dikerjakan (sin of ommision) atau solusi. Sehingga haram hukumnya jika gerakan oposisi itu dilakukan atas dasar personal, atau sentimen. Seperti halnya landasan beroposisi adalah meluruskan dan mengembalikan fitrah konsepsi kekuasaan pada konsepsi kepemimpinan universal.

Hal ini harus dipahami semua kalangan, sehingga akan terjadi kesinambungan dan kesadaran. Kelompok oposisi sadar dengan gerakan kritis solutifnya, sehingga memberikan pencerahan akan segala konsep dan haknya, dan seorang pemimpin akan paham dan sadar kepada masyarakat yang menyampaikan aspirasinya, sehingga tidak lagi menganggap dirinya difitnah dan hasut. Kecuali jika dialah sebenarnya penguasa dan perwujudan iblis…!

One response to “Devil’s Governence vs Devil’s Advocate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s