Ontowiryo Berkunjung ke Istana Presiden?

Dalam Novel Pangeran Diponogoro yang ditulis oleh Remy Silado, tersirat cerita tentang hakikat kekuasaan. Saat itu nama Pangeran Diponogoro adalah sosok yang kharismatik saat keraton jogjakarta dipimpin adiknya sendiri Ibnu Jarot. Ibnu Jarot yang kepemimpinannya mengundang kontroversi dikarenakan usiaanya pada waktu itu masih anak-akan, 15 tahun. Ibnu Jarot dipilih Sultan bukanlah karena kepintaran atau kepiawaiannya dalam memimpin, atau pula sekadar anak kandung dari Sultan Hamnengkubuwono II karena harusnya sebelum Ibnu Jarot, Pangeran Diponogorolah yang berhak menjadi Sultan, namun Pangeran Diponogoro menolak menjadi sultan karena prinsipnya tentang keraton, yaitu penuh dengan kemewahan dan menjadikan manusia terlena dengan itu.

Keraton dijogjakarta itu adalah pusat peradaban kejawen. Tanggung jawabnya adalah mengayomi masyarakat, terlebih saat itu penjajah Belanda masih berusaha mengusai daerah jawa. Namun rupanya tuhan memberikan kelebihan pada Pangeran Diponogoro akan kemampuan berfikirnya yang jauh kedepan. Meski Pangeran diponogoro terlahir dari keluarga keraton, namun hidup pangeran diponogoro dan keraton bagikan air dan minyak.

Jangankan masuk dalam sistem kekeratonan, menginjak kaki kekeratonpun dia berat. Namun sebenarnya sikapnya yang apatis tentang perkembangan keraton itu bukanlah atas pribadinya yang sombong atau merasa cukup dengan kewibawaannya, tetapi sekali lagi bahwa Pangeran Diponogoro memandang keraton itu penuh dengan godaan kekuasaan.

Semakin kuat pernyataan itu, setelah salah satu paman pangeran diponogoro melaporkan perkembangan Sultan Hamnegkubuwono IV atau adiknya sendiri, Ibnu jarot. Ibnu jarot bukanlah sultan yang sesungguhya, karena dia berhasil dikuasai Belanda. Semua ucapan dan perintah ibnu jarot adalah titipan Belanda. Rupanya belanda berhasil menyetir sultan hamnengkubuwono IV, tentu dengan segala embel-embelnya, seperti wanita, minuman dan poya-poya lainnya.

Suasana itu membuat geram Pangeran Dipenogoro. Ditambah suatu malam pangeran dipenogoro harus melihat kenyataan pahit itu didepan matanya sendiri saat dia berkunjung ke keratin. Tengah perjalanan ke keraton, dia membayangkan akan bertemu dengan suasana kesenian dan tradisi jawa yang menyambutnya, tentu dia membayangkan memorinya masa-masa kecilnya bersama adiknya jarot yang kini menjadi sultan.

Namun lain dengan kenyataan, saat dia sampai kekaraton, dia disambut dengan tradisi Belanda, music-musik Belanda, minuman-minuman khas Belanda, dansa, dan lainnya yang berbau haram. Tersontak batinnya, seakan ingin berontak untuk meluluh lantahkan kebudayaan asing yang telah menguasai tradisi asli tanah air.

Itu kasus lama, perjalanan anak bangsa melawan pemimpin yang dijadikan boneka asing, perjalanan perlawanan untuk membumihanguskan penjajahan hingga menjadikan pangeran dipenogoro sebagai pahlawan nasional.

Lantas bagaimana dengan Indonesia saat ini?, masih terjagakah nilai-nilai kerakyatan di nurani Presiden?, masih adakah hak-hak rakyat di istana presiden?, masih adakah boneka-boneka penjajah dinegeri ini?. Ini butuh kajian dan fakta secara valid. Bukan hanya dilihat secara kasat mata, sehingga perlu waktu cukup untuk mengikuti pandangan pangeran dipenogoro. Seperti halnya pangeran dipenogoro, dia adalah seorang dari bagian kaum minoritas kaum ningrat yang berpihak pada rakyat, artinya hampir semua kaum ningrat terlena dengan kemewahan dan tawaran ovortunitas penjajah.

Seperti halnya di Indonesia, dengan segala kebijakan pemerintah yang masih menguntungkan aparat pemerintah bahkan kelompok kecil. Atau fenomena nepotisme yang menjadi-jadi, atau penjualan kekayaan negeri seperti tanah, kekayaan tambang dan lainnya kepada negara asing. Maka haruslah ada dari kaum minoritas itu yang berproses untuk mendirikan kekuatan rakyat secara terorganisir.

One response to “Ontowiryo Berkunjung ke Istana Presiden?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s