Bangsa Penjajah

Menghela nafas, tak kuasa mencucurkan air mata dan kegolakan bathin dengan berjuta nafas diiringi syukur kehadirat tuhan YME dengan penuh emosional yang memuncak. Kira-kira begitulah jika kita gambarkan dengan kasat mata saat detik-detik kemerdekaan tanggal 17 agustus 1945.

Selamat tinggal wahai para penjajah…yang selama 350 tahun bangsa Indonesia dijajah habis-habisan, dari mulai kekayaan alam hingga kekayaan mental dan karakter ke-Indonesiaan. Tidak ada lagi bayang-bayang kompeni atau jepang yang mengambil alih tanah, atau yang menyuruh paksa untuk menjadi buruh, atau meminta upeti dengan siksaan fisik, bagi kaum bapa. Berbeda kaum pemuda, kabar ini membawa keleluasaan mereka untuk berkreasi tanpa ada bayang-bayang pelecehan seksual bagi gadis atau kungkungan perlawanan bagi pemuda.

Fase demi fase dilalui, sebagai luapan keleluasaan dan kegembiraan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang ‘beringas ‘ meniadakan penjajahan, dan mempertaruhkan hidup demi menjaga kemerdekaan dengan semangat persatuan dan kesatuan, tak terkecuali tua muda, petani dan kaum cindi semakin merekatkan ukhuwah.

Terlalu naif jika terus bernostalgia, apalagi ditengah bangsa kita yang mengalami multi krisis hingga bertubi-tubi. Mari kita jujur dengan diri sendiri, sebenarnya apa bedanya bangsa indonesia era  penjajahan dengan era sekarang?

Potret kemiskinan, kelaparan, kebodohan, tingginya angka kematian bayi dan ibu melahirkan, penyiksaan itu hingga kini terjadi bahkan menjadi-jadi. Amata sangat wajar, karena dulu adalah Belanda, inggris dan jepang mengambil alih kekayaan kita, lalu apa alasan yang tepat untuk sekarang, karena konon katanya kita sudah merdeka !.

Mari jujur pada diri sendiri, bahwa kita masih dijajah. Namun bukan lagi oleh orang-orang yang bermabut pirang atau bermata sipit lagi, tapi kita dijajah oleh kita sendiri. Bahkan saling menjajah.

Pemerintah menjajah masyarakat dengan selalu mengeluarkan undang-undang yang berpihak pada aparat, kemudahan hanyalah milik mereka. Namun mahalnya pendidikan, biaya kesehatan, biaya usaha masih milik masyarakat sipil. Pemerintah hanya melihat keadaan secara makro, dengan data-data yang entah benar atau hanya sekedar pelengkap administrasi formalitas tugas.

Namun kita mesti bersikap objektif dan realistis, bukan hanya pemerintah yang menjajah masyarakat kecil, tapi yang paling parah, masyarakat mskin justru menjajah dirinya sendiri dengan rasa malas, enggan bersaing, penuh ketakutan, enggan keluar dari kungkungan ketertinggalan.

Hingga para pemuda yang selalu dinantikan ibu pertiwi, harus dengan jujur dan sadar, apakah sudah mempersiapkan diri untuk jaman yang selalu menuntut?, harus dengan penuh kejujuran, bahwa guru kita waktu dulu adalah pemuda yang berani dan tangguh, namun mandiri. Mengeluarkan ide dan tindakan nyata bukan wacana. Karena peradaban berubah tiap detikya, karena ketertinggalan terus menjarak tiap masanya seiring berputarnya waktu.

Maka mari keluar dari jajahan kita sendiri. Jajahan malas, bodoh, menipu, ketakutam dan wacana. Karena inilah penjajah yang sangat kejam namun halus hingga sangat sulit untuk kita keluar. Teringat Muhammad SAW pasca perang badar, dengan lihainya taktik dan kesungguhan emosional mengalahkan kaum quraisyi, namun Muhammad mengakui, bahwa ada musuh paling besar slain musuh nyata, yaitu penjajah nafsu (Malas, wacana, takut dan kebohongan pada diri sendiri).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s