Renungan si anak dulu

“ Demi matahari dan sinarnya dipagi hari, Demi bulan apabila ia mengiringi, Demi siang hari apabila ia menampakan dirinya, Demi malam apabila ia menutupi, Demi langit berserta seluruh binaannya, Demi bumi serta yang ada dihamparannya, demi jiwa dan seluruh peyempurnaannya. Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketaqwaan Beruntung bagi yang mensucikannya, Merugi bagi yang mengotorinya”

Entah kalimat seperti apa yang  cocok menggambarkan kondisi bangsa kita, entah seberapa panjang paragraf untuk menjelaskan secara detail kondisi memprihatinkan masyarakat kita. Masyarakat Indonesia yang menganut pancasila yang penuh dengan toleransi dan plural, justru hingga 2010 ini masih terjadi kesenjangan.

Masing -masing pemeluk agama masih disibukan dengan kampanye “tuhan-tuhan” mereka, bagai kampanye politik, pemeluk agama masih saja membenarkan dan menyalahkan  alias fanatik yang berlebih, hingga berani menyalahkan pemeluk agama lain, bahkan sering kali tergaggu hanya dengan aliran yang didirikan sekelompok kecil.  Implikasinya pada MUI yang sering mengeluarkan fatwa yang judtru membuat resah masyarakat.

Juga dalam politik yang masih saja erat dengan primodialisme suku dan kelompok politik (partai), adapun menyatu hanyalah kepentingan mereka dengan deal politiknya.  Bukan hanya itu, Indonesia saat ini masih terjadi kesenjangan fitrah peran hidup. Pemerintah bulan lagi pengayom apalagi pelayan asyarakat, namun justru jadi “big bos”, bahkan tertular sifat firaun,

Keadilan sudah ditenggelamkan, bukan lagi milik putra bangsa yang ideal dan menjunjung tinggi kebenaran, kebenaran bukan lagi menjadi titik tolak membuat UU, UU bukan lagi menjadi peraturan untuk kedamaian, kedamaian bukan lagi menjadi cirri khas islam Indonesia, islam hanyalah menjadi slogan politik dan iklan. Slogan bukan lagi untuk kemakmuran rakyat, rakyat bukan lagi objek kesejahteraan, kesejahteraan hanyalah milik “bapa-bapa”.

Mari sejenak tertunduk tanamkan ayat alam, dan jeritkan naluri keilahian, siapa kita, untuk apa kita, dari mana asal kita, untuk siapa kita?
Masih ingatkah Tanggal 1 januari 2010. Disaat kondisi politik galau, disaat kondisi masyarakat yang masih mencari rute kehidupan, disaat bendera merah putih ditertawakan oleh thogut-thogut yang berhasil menghasut, disaat ulama masih tidur dalam selimut ketakutan, disaat intelektual membenarkan kidah yang salah, disaat pemuda lemah tak berdaya, justru kita yang mengenal internet, yang mengenal ruang kuliah, yang bersalaman dengan kaum berdasi harus ikut teriak girang gembira.

Akankah tuhan terus mengirim hambanya yang kuat dan soleh, untuk
melek dan bangkit dari tidurnya, untuk mensingsingkan lengan bajunya, untuk melupakan jasad kotornya, untuk menyambut terangnya matahari dengan perjuangan ilahiyah, bahkan terbangun saat malam menyelimuti bumi Indonesia.

Tidak lain adalah pemuda, yang selalu bermata sayup karena terlelah, yang berbadan kurus karena makan tak teratur, yang bersuara serak karena selalu berteriak didepan benteng ketidak adilan, yang berdompet kosong meski sekedar makan. Namun percayalah tuhan adalah maha segalanya.

Namun ingatlah, bahwa iblis tidaklah diam, dia terus membisiki kaum itu dengan segondol emas dan rupiah, dengan ancaman balai dan kematian, dengan kungkungan jeraji besi. Demi bumi dan segala isinya, hanya untuk kita yang gelisah. Amin ya allah……

One response to “Renungan si anak dulu

  1. semoga Tangan Tuhan menjabah keinginan dan cita-cita luhur para pejuang yang berperan ikut serta dalam malhirkan proklamasi 17 Agustus 1945 dan memberi kekuatan kepada putra-putra dan para srikandi yang masih tertanam nialai-nilai idialisme kebangsaan untuk meneruskan kepemimpinan yang berkarakter Indonesialisme. Amin ya Alloh Ya,…Rabbi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s