Tangan Tuhan (part 2)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasul itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab ayat 21)

Dalam Tangan Tuhan bagian satu saya mengartikan bahwa itu adalah gambaran dari kebersamaan, toleransi dan persatuan visi. Kita akan menggali dari sisi lain tentang makna sebuah tangan tuhan yang selalu dinanti kehadirannya untuk menjawab segala kegelisahan.

Sebenarnya tangan tuhan itu tidak usah dicari apalagi dipertanyakan keberadaannya. Tangan itu sebuah alat untuk mengewajantahkan atas segala hasil fikiran manusia. Fikiran manusia tidak lepas dari hasil berfikir secara naluri keilahian, terlepas dari segala rasa kedengkian yang berasal dari jiwa syaitoni.

Maka akan lahir sebuah pengabdian dan perjuangan. Kedua hal itu didasari prinsip memberi. Prinsip memberi merupakan bagian dari akhlak terpuji yang dianjurkan oleh semua agama dan adat. Dan prinsip itu lahir karena manusia secara sadar akan statusnya sebagai makhluk sosial. Makhluk yang secara nyata beragam kemampuan dan ras nya, kelebihan dan kekurangannya, maka lahirlah sebuah penganbdian dengan prinsip memberi.

Dalam islam dianjurkan untuk bersedakah, apapun yang dimilikinya. Sekaligus menjawab bahwa manusia dilahirkan keduania adalah untuk meletakan tangannya diatas, atau memberi. Bukan hanya itu, islam mengajarkan bahwa lahan memberi bukanlah sekedar lahan materi, namun segala yang difitrahkan. Dengan kata lain bahwa itu merupakan titipan Allah untuk disdalurkan keseluruh makhluk ciptaannya.

Maka itulah Tangan Tuhan yang sebenarnya. Karena Allah mengutus manusia itu aalah untuk menjadi pemimpin, atau makluk yang berkewajiban untuk memberi amal pada mahluk ciptaanya dimuka bumi. Hal itu dipertegas dengan fitrah Muhammad sebagai Rosul, tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak untuk semua alam semesta.

Tingginya perkembangan jaman, melembungnya peradaban manusia ternyata sudah diwanti-wanti oleh Rosul. Namun rosul memberikan kepercayaan yang penuh terutama kepada umat islam, bahwa untuk mengatur kesinergisan dan kesinambungan bersosial untuk mewujudkan masyarakat yang makumur sepenuhnya diberikan kepada manusia. “antum a’lamu bi umuriddunyakum…”

Secara jujur mesti kita akui, bahwa segala maslah yang melanda bangsa ini adalah berwal dari keterpurukan akhlak. karena sebagian besar umat isla masih disibukan dengan konsep fikih dan teologi, karena pemerintah masih disibukan dengan gonta-ganti aturan hanya untuk mengatur, karena sebagian besar pemuda masih saja terlena dengan prinsip menerima.

Kekayaan bangsa kita dari SDM dan SDA nya adalah modal tangan tuhan akan hadir, namun justru hal itu saedikitpun tidak dilirik, karena masih terjebak prinsip menerima. Maka pantaslah jika kekayaan kita telah dirampas, baik materil maupun inmateril.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s