DARI DIPONEGORO KE TANJUNG PRIOK KE REVOLUSI

Siapa yang menyangka salah satu kecamatan dengan nama sederhana Tanjung Priok di Jakarta Utara ini ternyata menyimpan segudang sejarah emas kebangkitan masyarakat, khususnya muslim. Mundur kebelakang 26 tahun silam, tepatnya tanggal 10 september 1984 oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an, hingga empat orang jemaah memaksa melawan dengan membakar kendaraan bermotor milik oknumtersebut, hingga kodim pun mengamankan ke empat jamaah tersebut.

Tak ada yang menyangka seorangpun, aksi dmonsterasi jamaah untuk membebaskan saudara mereka yang ditahan TNI didepan kodim malah dibalas dengan dentuman senapan hanya beberapa meter saja. Sulit untuk kita bayangkan bagaimana kecamuknya kedzoliman penguasa itu terjadi, yang jelas tanggal 12 september 1984 tanjung priok adalah saksi atas hilangnya 400 lebih nyawa umat islam.

Kasus pembantaian terhebat itu baru ditindak lanjuti 19 tahun kemudian setelah Megawati menjadi Presiden dengan dibawa ke pengadilan HAM ad hoc di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dengan menuntut sederet nama tersangka, namun pada akhirnya usaha itu sia-sia dan tidak ada yang dipersalahkan.

Itu sebuah bukti atas kelegowoan masyarakat Indonesia dengan menutupi rasa emosi atas penganiayaan secara nyata, walau sulit untuk dipendam, namun itu membuat pemerintah khususnya Pemda DKI kerdil, menganggap itu sejarah belaka. Yang harus dipahami dari meletusnya pembantaian 1984 itu bukanlah sekedar 400 nyawa jemaah, namun aslanya dari penistaan agama dan budaya setempat.

Tanggal 14 april 2010, Tuhan seolah mengirimkan malaikatnya untuk membuka mata hati para penguasa-penguasa kerdil, yang bertindak kapitalis dan matrealistis. Dengan menggusur tanah leluhur, yang mereka tetap jaga sebagai simbolis harga diri. Hanya dengan berbekal berkas hasil perundingan hukum dzolim mereka mengenyahkan harga diri masyarakatnya sendiri.

Karena penggusuran di tanjung priok itu berbeda dengan penggusuran PKL liar, atau penggusuran tanah keluarga sekalipun yang bersifat instant dan procedural, karena penggusuran tanah apa lagi makam leluhur adalah penggusuran harga diri.

Terpaksa kita harus kilas balik dua abad kebelakang kisah peperangan ditanah jawa pada tahun 1825-1830 yang dikenal dengan perang jawa/diponogoro. Perang terbesar sepanjang sejarah pra kemerdekaan yang menghilangkan nyawa 15.000 penjajah hindia belanda dan 200.000 nyawa pribumi tersebut adalah berawal dari berawal dari dirampasnya tanah pribumi yang terdapat makam leluhurnya.

Peristiwa tanjung priok dan perang jawa sekaligus menjawab betapa masyarakat Indonesia masih menjunjung nilai sejarah dan harga diri, namun itu tidak tertular pada aparat pemerintah. Bahkan lebih dari itu semakin nyata, aparat pemerintah masih saja mengedepankan kebijakan-kebijakan kapitalisnya, hanya dengan dalih kesejahteraan meski bersifat maya.

One response to “DARI DIPONEGORO KE TANJUNG PRIOK KE REVOLUSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s