dagelan

Bersukur aku berada ditengah negara yang kompleks cuaca, dari kota sabang hingga ke maraoke beragam iklim yang dirasa, ada daerah yang dingin, hingga beruap, ada pula yang panas hingga menyengat.

Menjadi hal yang biasa, masyarakat sudah menyetubuhi cuaca itu mulai hidupnya, hngga tak perlu diperdebatkan lagi. Namun ternyata dua cuaca itu telah menjadi simbol, bahkan karakter masyarakat. Dingin dipagi hari, atau panas disiang hari hanyalah dagelan belaka. Karena dinginnya sedikitpun tak dihiraukan, tak ayal jika kota itu disebut kota tidur. Atau panasnya disiang hari bagai sebuah teater, atau sekedar pasangan sandiwara, si dingin adalah lakon utama yang di setting menjadi dewa peyelamat, dan sipanas adalah antagonisnya, meski berperang tapi ujungngnya mereka bagi hasil, karena itulah dagelan.

Jangan sungkan untuk menonton bahkan masuk sebagai aktornya, tidak ada yang dirugikan, yang penting ada kemauan, dan ada pra syarat yaang harus dimilki. Dan jangan juga panik dengan prsayarat itu, karena dagelan adalah dagelan, hanya perlu jurus “seolah-olah”: mengabdi, berbuat, atau bahkan membunuh. Jika bisa melakukan ” jurus seolah-olah” seperti itu maka segera datangi elite dagelan itu, baik di perusahaan milik rakyat, atau partai politik atau bahkan big house berbentuk kue serabi yang disebut Dewan Penipu Rakyat (DPR).

Ingatkah tahun 2010 ini, berbagai pertunjukan “seolah-olah” yang dilakukan oleh beragam aktor, mulai dari aktor bisnis, politik hingga duet pendagel sohor bersertifikat. Mulai dari arena BIBIT hukum adil yang dibunuh, diteruskan dengan dagelan hebat para banker di sandiwara Century. Beruntunglah aktor-aktor itu, karena dengan pertunjukan maha dasyat itu.

Tegasnya negara ini adalah negara dagelan, selalu didramatisir, selalu dilebih-lebihkan, anak SMA bilang “lebay”, hukum yang harusnya pasti selalu didramatisir sedemikian rupa, disambung dan diputus episode demi episode, UU yang harusnya menjadi sebuah rumus pemisah yang salah dan yang benar namun justru digunakan untuk membenarkan dan menyalhkan.

Jika seperti ini, tak ada alasan untuk kita bersusah payah, silakan megkritik hingga berdarah-darah, namun jangan lupa tertawa, karena dengan tertawa sama halnya memberikan penghargaan akan aktor-aktor dagelan kita diarena itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s