“MENYETUBUHI” KARAKTER POLITIK PARTAI DEMOKRAT

Biru mengkilap, dengan lambang bintang tiga sudut nya dan gambar garuda bersayap tinta emas cukup memberikan nuansa keeleganan Partai Demokrat jika dibanding dengan partai lain yang banyak menggunakan unsur lambang yang sama, seperti padi, kapas, atau frame seperti lingkaran, segi empat atau segi lima.

Dari segi nama, partai ini hanya memakai satu kata saja Demokrat. Terdengar begitu tegas, lugas dan tidak banyak basa-basi. Sehingga mudah diingat, dibanding dengan nama partai lain yang hingga bingung mengingatnya sekalipun sudah disingkat. Jelas itu merupakan cermin dari karakter politik PD, dari warna terlihat tegas dan luas, dari lambang begitu tajam, dan dari nama begitu lugas.

Melihat keindahan dan keeleganan lambang PD ternyata tidak lepas dari figuritas seorang DR. Letjend. (Purn) Susilo Bambang Yudhono, sebagai pendiri. Karakter PD bukan hanya dipengaruhi oleh seorang pendiri yang juga menjadi ketua dewan Pembina, SBY. Namun dari sisi sejarah, berdirinya PD tidak lepas dari menguatnya ketegangan seorang pribadi SBY yang waktu itu menjadi Menteri Pertahanan dengan Megawati yang kala itu sebagai big bosnya SBY, hingga berakhir SBY melepaskan jabatannya sebagai menpolhukam.

Dari sisi psikologi, emosional itu sangatlah berpengaruh. Memberi energy positif akan sebuah perjuangan yang harus dicapai, dengan segala kesungguhan dan segala kekuatan SBY dan koleganya di PD hingga mampu memnggaet seorang Jusuf Kalla untuk menjadi calon wapresnya. Bisa dibayangkan, JK dengan Golkarnya berkoalisi dengan PD, partai kecil dan baru. Pernikahan kedua tokoh itupun berakhir manis hingga menggeser politisi senior, seperti Mega-Hasyim, Wiranto-Salahudin Wahid, Hamzah Haz-Siswono Yudo Husodo.

Dilihat dari prestasi politik, tidaklah terlalu aneh. Karena SBY diback up PG yang masih mempunyai masa besar. Namun kemenangan itu sekaligus menguji karakter politik PD dan SBY, akankah masih menggunakan politik empati, tepo seliro, ketegasan, kejujuran, keberanian, keterbukaan, kebijaksanaan, kerakyatan dan kemandirian. Karena itulah yang disampaikan PD pada pemilu 2004. Dalam perjalanannya PD dan SBY sedikit lebih maju dalam pemberantasan korupsi dengan membentuk Lembaga Pemberantasan Korupsi (KPK), yang diketuai Antasari Azhar.

Memang, dalam perjalanannya KPK mampu membuktikan kinerjanya yang konsisten memberantas tindakan korupsi diaparat, sulit dihitung dari mulai Kepala Daerah tingkat I,II hingga pejabat pemerintah Pusat disegala intansipun menjadi korban kejujuran KPK. Namun sayang, PD mulai keluar dari karakter aslinya, kehebatan KPK itu justru menjadi senjata ampuh dalam kampanye SBY pada pemilu legislative dan presiden 2009.

Bukan hanya itu, PD mulai tidak konsisten dengan karakter aslinya, jika dibanding dengan karakter politiknya pada tahun 2004. Pertama, keengganan SBY menggaet politisi dari kalangan partai politik. Menunjukan SBY sangat over convident dengan kemenangannya dalam pileg. Padahal tindakan seperti itu sangat berbahaya bagi system multi partai, meski akhirnya menang dengan satu putaran saja.

Lagi-lagi, kita melihat karakter PD dalam kancah politik, yang meskipun 46% anggota F-PD, sebagian besar di cabinet, namun hingga sekarang bahkan saat PD akan melangsungkan kongres di Bandung pada Bulan Mei ini, masih saja didominasi oleh kefiguran SBY. Terutama beberapa kandidat seperti Andi Alfian Malarangeng dan Anas Urbaningrum yang selalu menyebut nama SBY sebagai figure PD. Menunjukan bahwa PD adalah partai oligarki, dan kemanjaan politik yang akan mengikuti baik buruknya bahkan naik turunnya SBY.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s