Quo Vadis ‘ keelokan ‘ Demokrasi Kita

Perlu kita syukuri, hidup ditengah negeri yang kaya akan pesta politik. Bisa dibayangkan dari 33 provinsi diindonesia, mulai dari kepala daerah tingkat I dan II, pemilihan kepala desa dan pemilihan DPRD I,II dan Pusat.

Pesta politik yang hampir tiap tahun digelar diberbagai provinsi dan kepulauan ini, jelas menjadi ujian eloknya demokrasi kita, bisa juga dikatakan menjadi ladang silaturahmi berjamaah masyarakat tanpa mengenal status social. Karena diarena itu mulai dari masyarakat kecil seperti tukang beca, buruh, pencari barang bekas, hingga kaum jompo dengan rela berinteraksi menyaksikan kampanye dan pidato-pidato politik hingga harus mengantri untuk memilih pilihan politiknya di TPS. Inilah eloknya demokrasi kita.

Pesta pemilu tersebut sekaligus menjadikan pemandangan langka dinegeri kita, yaitu pemandangan interaksi antara masyarakat miskin dengan elite politik/aparat pemerintahan. Meski itu momentum politik, namun inilah kenyataan betapa eloknya demokrasi kita.

Namun sepertinya bagi kaum peduli bangsa suasana kebatinan politik itu hanyalah mimpi atau slogan belaka. Atau impian dari indahnya demokrasi Amerika Serikat saat pemilihan Presiden Barack Obama. Betapa tertib, bersih dan terang benderangnya kejujuran semua pihak. Kejujuran bertarung akan pemenangan politik, kejujuran memilih dengan penuh objektivitas, bahkan kejujuran akan kekalahan dan mengucapkan selamat pada rivalnya yang menjadi pemenang.

Betapa hebatnya Mac Cain saat dirinya kalah dengan mengucapkan selamat kepada Barack Obama, bukan hanya itu dia melakukan pidato politiknya dengan menenagkan pendukungnya “”Saya tahu bahwa kemenangannya merupakan kebanggaan bagi kaum Afrika-Amerika. Tapi kemenangannya juga merupakan pilihan rakyat AS. Di negara kita, kesempatan itu terbuka bagi semua orang, tak terkecuali senator Obama yang memiliki ide dan kemampuan. Kita semua orang Amerika. Buat saya, itu ikatan paling penting,” ujar McCain berusaha menenangkan pendukungnya. “Biarkan dia memimpin kita. Seluruh warga Amerika harus saling bahu-membahu membantu untuk membawa Amerika kepada kesejahteraan, melindungi segenap bangsa,” seru McCain disambut tepuk tangan meriah oleh para pendukungnya.

McCain bahkan mengatakan, nenek Obama Madelyn Dunham, yang meninggal dua hari sebelum pemilihan, pasti bangga dengan keberhasilan cucunya “Sayang dia tidak melihat. Dia pasti bangga dengan kemenangan ini,” ujar McCain.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?, jangankan memberikan ucapan selamat, malah mencari celah kesalahan yang bisa menghambat sang pemenang. Kita sering menyaksikan betapa seringnya kisruh pilkada karena ijazah palsu, dll. Sekaligus peristiwa seperti itu adalah untuk menguji sejauh mana kedewasaan politik bagi elite politik.

Ataukah sebenarnya inilah letak ‘keelokan’ demokrasi kita, yang penuh amarah, dendam, dan pembunuhan karakter?, kalau bukan itu jawabannya maka seperti apakah?, jika elit politik belum teruji kedewasaan politiknya maka siapakah yang bisa member jawaban atas keelokan demokrasi kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s