Syair untuk esok

Hingga matahari terlelap, memberi keteduhan untuk manusia melepas dahaga dengan mewakilkannnya pada sang bulan, bahkan membagi satu persatu cahaya kesejukannya oleh jutaan bintang, bahkan melebihi jumllah manusia tertidur. Begitulah manusia, mahluk nyata berwujud, dengan anggota tubuh nyaris berotot, terbentuk karena hebatnya beraktivitas, namun seolah manja…. karena pasti tertidur.

Entah datang entah tidak, pertanyaan dibenaku tentang esok. Karena bisa saja aku terakhir kali melihat dan mendengar, mungkin besok tuhan akan meruntuhkan jagad raya ini dengan kiamatnya, atau mungkin tuhan mengehntikan detak jantungku, karena itu aku enggan untuk tertidur. Meski sakit, bahkan meski maut menjemput, namun aku ingin menjadi orang yang beruntung karena bisa menyaksikan keindahan hari ini dengan khatam, tidak separuh.

Tiap detiknya, jarum jam dindingku seolah memberi isyarat. Begitu berharganya hingga dia tak pernah berhenti berputar mengelilingi angka 1 hingga angka 12. Tak bosannya, karena dia sadar, jika berhenti maka tunduklah jagad raya ini. Begitupun aku, jika tertidur apalagi merasa bosan, maka cukuplah hidupku sampai disini.

Sesaat mataku lesu, tangan gemetar menahan kerinduan akan maut sementara, mereka meminta haknya untuk terlena dalam mimpi, namun aku rayu mereka “mimpi adalah mimpi…”. Aku ajak mereka untuk menyaksikan kenyataan dari tuhan yang tiada akhir, yang tiada ujung kenikmatannya. Meski mataku membiru, badanku tak setegap manusia tertidur, namun bagiku esoklah yang akan menjadi saksi.

Apakah karena egoku?, namun bagiku inilah cara dalam hidupku, cara dalam menjemput maut yang aku idamkan, saat aku dikelilingi alam untuk menjadi saksi akan keteladananku bertasbih tanpa henti, saat aku selalu bertanya tiap malamnya, siapa aku?, untuk apa aku?, bagaimana aku?, dimana aku? pertanyaan itulah yang hingga kini belum aku dapatkan, sehingga sulit aku beralasan untuk terlelap mimpi.

Aku baru sadar, hanya lampu dan alat tulis ini yang setia menemaniku, padahal tadi ada cicak yang memataiku, ada kodok yang bernyanyi, ada nyamuk yang genit menciumku, bahkan ada semut yang takut terinjak kakiku, namun kini tak satupun kulihat. Namun aku cukup berterima kasih pada mereka, meski tak khatam menemaniku, karena mereka hanyalah mahluk kecil. Kini aku ditemani sang penyabar yang beberapa detik lagi akan memberikan esoknya padaku.

Tiba-tiba badanku gemetar, bukan karena dinginnya apalagi karena tidak berjumpa mimpi, namun karena tuhan memberikan aku waktu lagi untuk berganti hari. Sekaligus aku tidak akan pernah melewatkan hari ini sedikitpun, karena malam hingga pagi tadi kuhabiskan untuk mengintip hari sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s