Mendadak Menjadi Intelektual

Mari kita renungkan kata “mendadak”. Kebetulan saya penggemar setia infotaiment, pernah waktu salah satu nama infotainment menyuguhkan tentang para aktor dan aktris “mendadak” menjadi penyanyi. Seperti Olga Syahputera, yang sudah fenomenal dengan akting lawaknya. Ditelusuri ternyata era sekarang para penyanyi sedang diuntungkan dengan penjualan lagu nada dering atau NSP oleh berbagai perusahaan seluluer. Lalu bagaimana fenomena “mendadak” dikalangan masyarakat umum?, walah itu terlalu banyak, terutama rutinan dan ritual. Contohnya dibulan Ramadhan, para pedagang baju mendadak kaya dari hasil penjualan pakain jelang lebaran, atau “mendadak” gema tadarus quran, “mendadak” rama di masjid.

Kalau boleh mengkaitkan “mendadak” itu seperti syindrom. Karena fenomena mendadak itu ada sebabnya, seprti peluang, tegasnya “mendadak” itu bagaimana usaha seseorang untuk mendatangkan keutungan dari situasi sesaat. Padahl itu sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, karena susuatu yang didatangkan dengan cara “mendadak” itu hanya berfikir hari itu bagaimana bisa untung, bisa besar, dan akan meninmbulkan kemonotonan bertindak, sulit sekali berinovasi dan akibat yang paling parah akan terjadi ketertinggalan zaman.

“Ngeri” jika para pemimpin kita  sudah terkena dengan virus “mendadak” . Namun apa boleh buat, justru mereka tak jauh beda dengan kebanyakan kaum “mendadak”. Bagaimana para politisi, begitu banyak “mendadak” bagi-bagi sembako, amplop dan ceramah, meski itu baik, namun momentum politis itu sangatlah kental, yang akhirnya bukan lagi sodakoh, tapi kampanye membohongi kaum kecil.Dan alhasil, setelah mereka berhasi dengan modal itu, kini mereka yang menerima ajakan para “mendadak” itu hanya gigit jari, melihat para pemimpinnya tidak bertanggung jawab.

Kini saya menemukan momentum yang takut dihinggapi kaum “mendadak”. Adalah KONGRES HMI KE 27 di Depok nanti (5-10 November 2010). Momentum perkaderan tertinggi yang akan menggantikan kepengurusan dibawah nahkoda Arip Musthopa (ketua umum) dan Ahmad Nasir Siregar (sekjend). Tegasnya mereka kaum “mendadak” iini adalah kandidat-kandidat ketua umum. Ramai-ramai membuat buku kebangsaan, spirit organisasi, visi dan misi organisasi dan lainnya, padahal reka jejaknya hanya bermain proyek ke tiap intansi pemerintahan, atau ramai-ramai konvoi keliling daerah layaknya anggota parlemen berkunjung ke Daplinya, padahal dulu ditinggalkannya, bahkan tidak sedikit memberi amplop demi suara dan rekomendasi. Namun yang paling memprihatinkan justru anggota HMI banyak yang tertipu dengan nuansa monoton itu.

Apakah kita sudi disetarakan dengan mereka yang hanya berfikir bagaimana bisa makan?, atau dengan buruh bahkan dengan tukang beca sekalpun?, namun jika itu terjadi di kongres HMI ke 27 nanti maka terimalah….

SUKSESKAN…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s