Semuanya Halal, Yang Haram Itu Kalah

Semuanya halal, yang haram itu kalah. Slogan aneh, secara pribadi, saya baru menemukan itu. Tidak penting dari mana asalnya, sepertinya kutipan aneh itu datang dari pihak yang tak diundang, tapi pulang minta diantar. Tebak saja sepertinya pihak itu sudah menjadi rahasia umum. Jin? Jurig Onom? entahlah, yang pasti bukan dari malaikat yang selalu berbicara kebaikan,

Kalimat pendek itu seolah menggambarkan kutipan seseorang yang ambisius, sentimen, merasa banyak musuh, namun dihantui rasa takut, dan takabur dengan perangkat otot tanpa otak. Saya yakin anda tidak pernah mengatakan kalimat sadis tersebut, namun jika esensi kalimat itu ada dalam diri anda, waspadalah, karena malaikat rahmat sulit hinggap dipundak anda. Kalau malaikat rahmat sudah enggan bersahabat dengan kita, maka munculah azas kebencian, tanpa menghiraukan persaudaraan apalagi sebatas pertemanan, karena yang ada hanyalah menang.

Jika prinsip itu dianut hanya oleh kelompok minoritas, maka akan terlindas dengan rasa malu, hina dan akhirnya tobat. Namun bagaimana jika azas itu justru dianut sebagian besar dari penghuni nusantara ini?, yang pasti sudah terjadi, bukan lagi azas pancasila yang dianut, yang menenal tuhan dan kebaikan sosial, tapi akan beralih pada azas pancasona, yang enggan untuk mati karena asyik menyembah genderowo dan mencipatakan kehancuran.

Tegasnya, Semua halal, Yang haram itu kalah adalah mereka yang berseragam merah putih, yang selalu mempropagandakan kerakyatan, atau para pemuda yang sembunyi dibalik idealisme. Namun bangsa kita bagai nasi telah menjadi bubur, atau sudah menjadi besi yang berkarat tebal, atau pohon yang kokoh dengan jamurnya, sulit untuk ditebas tanpa pandang bulu, atau sulit diukir kembali, atau sulit diluruskan. Apalagi sang malaikat sudah terbang meninggalkan kita.

Bisa saja tuhan memanggil malaikat rahmatnya untuk mengamuk, namun bersukurlah sepertinya tuhan masih mengulur adzab qiamatnya. Karena betapapun itu, kita masih mengenal tuhan beserta malaikat dan nabinya, masih melihat kesengsaraan dan kebodohan beserta generasi mudanya,

Cukuplah mereka, tapi kita adalah harus menjadi generasi emas tanpa karat, generasi muda tanda noda ambisi, generasi tahapan yang siap menunda kesenangan tanpa kesengsaraan, dan siap menjadi pemimpin yang tanpa ada kebencian. Halal itu bukanlah logo dari MUI, tapi kebaikan yang dibangun untuk orang lain, namun kalah itu bukanlah hal yang menjadi ukuran kegagalan, karena tuhan tidak pernah memerintahkan manusia untuk menang atau melarang kalah, atau untuk mencari yang halal atau yang haram, tapi tuhan mengajarkan kepada umat manusia terutama pemuda untuk menjadi manusia paripurna, menerima segala proses dan permakluman yang sesuai dengan jati dirinya.

Cukuplah kemarin, menjelang kongres ke 27, dengan rumah kita di depok sangat berdosa jika kewajiban itu adalah menang. Kewajiban kita adalah memunculkan kader terbaik HMI untuk mempin gerakan moral pemuda dan mahasiswa. Tentu dengan modal kebersamaan. Sehingga akan melahirkan kepengurusan yang elegean bukan politis, kepengurusan yang mandiri dan melawan siapa saja yang menjadi teroris sebenarnya, entah siapa saja. The real of leader.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s