MAKSAKEUN

Maksaken, berasalal dari kata bahasa sunda. Dari kata dasar “paksa”. Artinya  sama dengan dalam kajian bahasa Indonesia yaitu memaksa. Memaksa diri sendiri  dalam memenuhi kebutuhan yang diinginkannya, atau kebutuhan yang menurut mereka wajib ada dalam hidupnya. Saya tertarik dengan tradisi maksaken yang terjadi dimasyarakat Indonesia. Karena tradisi itu pernah menjadi sesuatu yang justru menjadi modal berharga bahkan bisa dikatakan modal utama saat para pendiri bangsa kita melepaskan diri dari  belenggu penjajah. Karena dengan segala keterbatasan dan kungkungan kemerdekaan hidup, hanya satu jalan untuk meraih kemerdekaan, yaitu dengan maksakeun, meski jiwa raga dan sedikit harta bendanya.

Maksakeun saat itu adalah keharusan. Karena tanpa itu hanyalah berpasrah atau tertidur dalam selimut kebodohan dan penistaan kaum kolonial. Karena belum ada sistem pemerintahan, undang-undang atau yang lainnya yang menjadi pelindung hukum. Keinginannya sederhana, sekali lagi yaitu kemerdekaan.

Kesimpulannya sederhana setelah kemerdekaan maka kesejahteraan yang akan terwujud bagi kaum yang selalu maksakeun. Tiada lain adalah hari ini masa kesejahteraan itu seharusnya ada. Karena hari ini bangsa kita sudah mengklaim dirinya sebagai bangsa yang mandiri, pemerintahan, sumber daya alam dan manusia sendiri dan undang-undang untuk masyarakat yang dibuat untuk kesejahteraan masyarakat. Ditambah dengan kelegowoan masyarakat kita taat wajib pajak dan jakat dalam Islam.

Namun rupanya usaha maksakeun masa lampau itu belumlah terbayar. Perwujudan cita-cita kesejeahteraan yang dijanjikan oleh pemerintah bahkan dicatat dalam UUD 1945 masih menjadi tanda tanya. Padahal UUD 1945 sudah cukup menjamin menjadikan para pemimpin bangsa kita menjadi cerdas dan adil.

Dari fenomena inilah saya melihat ada paradigma maksakeun yang kurang sehat dimasyarakat. Bukan lagi maksakeun atas dasar nasionalisme kebangsaan tapi maksakeun atas dasar keprustasian sosial. Memang berbeda tipis, dan tidak akan merusak tatanan hidup berbangsa. Tradisi maksakeun seperti itu sama merupakan spirit. Spirit untuk hidup lebih layak, lebih terhormat, lebih terjamin, dan lebih lebihnya lagi. Perbedaannya jika tradisi makssakeun atas dasar prustasi atas kebiadaban penjajah, sekarang prustasi atas dasar ketidak adilan para negarawan.

Tapi siapa yang akan terima jika pemerintah disamakan dengan penjajah. Tapi, memang sama dengan. Jika dulu yang dirusak adalah fisik dan setelah itu menghilangkan nyawa, sekarang lebih kejam dan sadis. Dengan mengambil hak kemerdekaan, dan kesejahteraan. Menyiksa tapi tidak membunuh. Karena itulah yang terjadi.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s