212

212. Tidak ada yang aneh dalam angka itu. Kecuali bagi anda yang masih bisa meraba ingatannya diawal tahun 90-an, maka akan nampak bayangan angka 212 itu tertulis di dada dan kapak berkepala dua seorang  pendekar gila yang bernama wiro sableng. Film itu hasil dari sebuah novel karya Bastian Tito. Kisah fiktif dari seorang pendekar yang punya karakter unik jika dibanding dengan film-film kolosal lainnya yang terkesan monoton, pastinya seperti biasa, jika ada pendekar, maka akan gagah perkasa, selalu diagungkan dan tegang dalam melawan musuh-musuhnya. Atau kalau dalam film china mengingatkan kita pada aktingnya Jacki Chan. Jacki Chan yang penuh humor dalam setiap laganya, namun Bastian Tito sang penulis bisa lebih dari jacki Chan, sang wiro sableng bukan hanya humor, tapi terkesan gila.

Wiro sableng yang mempunyai jurus ampuh  PUKULAN KUNYUK MELEMPAR BUAH ini adalah murid dari seorang nenek GENDENG yang kesaktiannya tak kalah hebat dibanding dengan para pendekar dulu. Dari itulah, Wira Saksana dijadikan Wiro Sableng oleh sang gurunya Sinto Gendeng. Penuh dengan rekayasa, karena itulah cerita fiktif dan dibakukan oleh kaidah sastra, dan tidak haram hukumnya dalam kaidah agama selama cerita itu tidak membajak karya atau menyinggung makhluk lain.

Pendekar itu dilahirkan dipulau jawa kuno, dimana situasi saat itu ramai kesesatan dan kebodohan. Kekuatan menjadi sumber kehidupan, maka siapapn yang lemah maka dialah yang akan terus tertindas. Dalam rangka itulah Wiro Sableng diutus gurunya turun gunung.

Ternyata cerita itu mampu mengawinkan antara karakter gila sang pendekar dengan karakter jaman gila waktu itu. Jaman gila, jaman yang berlaku hukum rimba, bukan lagi menegakan yang benar dan membunuh yang salah, tetapi sebaliknya. Ketika para pendzolim dilindungi karena sekedar kekuatan keluarganya, atau para penyebar kekesatan malah dijadikan pemimpin karena dianggap mempunyai kekuatan kultural. Banyak orang baik dan soleh malah mati terbunuh, atau terkucil dengan sendirinya, dan lahirlah keputusasaan. Namun tidak dengan ketangguhan wiro sableng, dengan kesaktian yang balut dengan fikiran gila-nya dia mampu melumpuhkan satu demi satu pendekar-pendekar busuk waktu itu.

karena siapa sangka, dibalik penampilannya yang amburadul, rethorikanya yang berantakan dia mampu berhadapan dengan pendekar busuk sehebat manapun. Tapi ternyata itulah hukum alam, bahwa orang gila pasti lebih bisa menilai sejauh mana kegilaan orang selain dirinya, bak seorang sufi akan bisa dilihat keshufiannya oleh shifi yang lain yang lebih tinggi keshifiannya.

Semua orang yang normal termasuk anda pasti bisa menilai sikap keseharian orang gila, antara makan, tidur, lalu lalang, bicara tak jelas lawan dan arahnya, dan mengganggu ketertiban. Namun juga membingungkan, sebenarnya apa yang dia rasakan?, akan kemana hidupnya!. Lalu bagaimana dengan jaman yang jika dirasa sama dengan kriteria orang gila?, bisa ditebak, pasti angka kemiskinan terus bertahan, koruptor terus leluasa, hukum dijual belikan, pendidikan diterlantarkan, itu sebuah kepastian, tapi tindakannya tak jelas arah.

Sudah beberapa pendekar yang masuk kerelung kekuasaan, tapi nihil. Mengapa?, alasannya sederhana. Karena pendekar hingga hari ini berasal dari manusia biasa-biasa saja, maka jurusnyapun biasa-biasa juga tidak seperti wiro sableng, yang siap gila untuk menghadapi jaman gila, bahkan dia punya jurus gila untuk menagkap orang gila. Sepertinya ada calon pendekar sableng abad modern, GAYUS. Dia manusia ajaib, PNS gol-3 mampu menerobos hukum dan besi. Bak wiro sableng, dengan kegilaannya dia berani mengusut tuntas mafia kasus perpajakan hingga kelas agung hanya2 tahun saja. Namun permasalahannya, siapa yang sanggup menjadi gurunya?, yang bisa merubah GAYUS TAMBUNAN menjadi GAYUS SABLENG, karena dengan KUNYUK MELEMPAR BUAH, akan beralih ke JURUS KUNYUK MELEMPAR KORUPTOR.

Kitalah gurunya, karena kita siap gila untuk masuk ke jaman gila Namun kita pendekar gila seperti wiro sableng, gila punya visi, gila berbakti dan gila untuk berproses. salam 212

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s