MENGGUGAT KURIKULUM PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

Harus cermat mengatasi masalah, tentu menuntaskan dengan metode yang arif. Sepertinya diindonesia krisis metode pemecahan masalah. Pemecahan masalah pada konteks kenegaraan adalah wajib hukumnya demi kesejahteraan bersama. Karena berbagai masalah yang timbul bukan hanya berimplikasi  pada kerugian material, melainkan juga mental masyarakat. Perlu diingat bahwa mental masyarakat adalah kekayaan utama dalam membangun negara yang lebih maju.

Pada konteks ini saya menekankan pada masalah korupsi dinegeri ini. Menurut saya korupsi yang semakin subur adalah puncak dari segala metode yang kurang tepat dalam masa pendidikan. Pelaku korupsi (suap, mengambil kekayaan negara, atau lainnya yang merugikan negara) adalah mereka yang tengah diusia 40 tahun keatas. Tidak tanggung-tanggung jika dirata-ratakan bukan jumlah yang kecil menurut kekayaan negara,  miliaran hingga triliunan. Jelas ini sangat mengambil hak bahkan nyawa masyarakat. Sepertinya tidak berlebihan saya mengatakan nyawa. Karena banyak kaum ibu yang meninggal saat melahirkan, atau meninggal karena penyakit kronis karena alasan minimnya biaya. Jika ditanyakan pada pemerintah jawabannya akan sederhana, tidak mungkin untuk menanggung sebesar itu. Mengapa pemerintah tidak berdaya, tegasnya karena kekayaan negara tersangkut di saku pelaku korupsi.

Karena justru pelaku korupsi ini adalah orang-orang yang pernah secara langsung meminta dukungan dari mereka yang terancam nyawanya, mulai dari kepala daerah tingkat 1 (Bupati), Kepala daerah tingkat 2 ( Gubernur ), bahkan pejabat pemerintahan pusat diberbagai intansi tak terkecuali dideparteman pendidikan dan departemen agama.

Ada niatan positif dari departemen pendidikan, yaitu menerapkan pendidikan anti korupsi dalam kurikulum 2011 ini. Tidak salah, namun kurang tepat. Karena justru itu hanya akan menambah beban siswa dalam memahami makna korupsi. Apalagi kaum pelajar belumlah cukup merasakan dampak dari korupsi. Harusnya departemen pendidikan nasional kembali mengevaluasi birokrasi pendidikan dinusantara ini, dengan tidak menegasikan otonomi sekolah yang sudah berlaku. Mulai dari evaluasi sistem pendidikan, SDM guru dan kepala sekolah dll.

Perlu dipahami, bahwa pendidikan tidak selamanya harus diformalkan, karena pendidikan sebenarnya adalah naluri yang sudah lekat dalam diri manusia. Justru jika pendidikan anti korupsi ini diformalkan, maka akan berlaku prinsip gugur kewajiban mengikuti pelajaran!. Bukan hanya itu, jika berbicara korupsi maka berbicara kebusukan (sesuai arti dari kamus besar bahasa indonesia, dari kata busuk), atau membahas baik dan tidak baik, haram atau halal, maslahat atau madarat, dan itu ada di pelajaran pendidikan agama. Maka, dengan adanya pendidikn anti korupsi ini berarti pemerintah sudah menegasikan pendidikan agama dalam kurikulum.

Masalah merebaknya putra bangsa melakukan tindakan korupsi bukanlah masalah kurikulum, apapun kurikulumnya itu sudah tepat, tetapi masalah korupsi adalah masalah moral dan nilai. Moral atau nilai sulit diformalkan, karena itu manifestasi dari segala yang terjadi dilingkungan sosialnya. Mulai dari moral lingkungan sekolah/perguruan tinggi, birokrasi pendidikan hingga pemerintahan secara umum yang kontras bisa terlihat.

Bisa saja kaum pendidik meramu pelajaran anti korupsi, dan siswa akan tekun mendalaminya. Namun bagaimana jika lingkungan sosial masih berpihak pada pelaku korupsi?, ini sungguh akan sia-sia.

Solusi cermat yang saya tawarkan adalah reformasi birokrasi departemen dengan mewujudkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan dan nilai yang berlaku pada kultur masyarakat. Sederhana, berapa persen sekolah yang jujur saat menggelar UAN?, atau berapa persen mahasiswa yang jujur menyusun skripsi, tesis dan desertasi hasil karyanya?. Jika nilai-nilai arif mampu diterapkan dengan baik, maka siswa akan langsung merasakan implikasi positif sekaligus menjawab atas larangan melakukan kebusukan dan korupsi. semoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s