Masturbasi Politik Buku Pak Beye

Kali ini kita bisa melihat betapa sebenarnya Pak Beye (sebutan akrab Presiden SBY dikalangan guru honorer) adalah sosok pujangga dan berjiwa sastrawan. Selain pak beye pandai mengarang lagu, belum lama ini departemen pendidikan nasional menyelipkan buku-buku pak beye saat mendistibusikan buku ke seluruh sekolah tingkat pertama (SLTP).
Tidak salah, karena sepertinya pak beye terbawa nalurinya sebagai bapak bangsa. Sekeder curhat, atau membuat pesan ringan, atau hikmah menurut pak beye. Hingga dirasa tidak ada yang janggal menurut pak beye dan konconya.

Ini adalah fenomena yang baru dalam pendidikan, ko masih bisa-bisanya depdknas menyelipkan buku itu?, karena bukanlah judul buku yang dipermasalahkan, tetapi pengarangnya adalah setingkat pak beye. Sepertinya dianggap wajar, tetapi malah jadi kurang ajar. Karena harapan masyarakat dan guru yang menginginkan peningkatan sarana dan nasib guru-guru honorer ternyata tidak ada. Apalagi disinyalir ada penyalahgunaan anggaran untuk pencetakan buku syair itu!.

Lebih dari itu jika kita melihat judul dan isi buku itu cenderung pada personal pak beye, bukan berbicara kolektif dunia pendidikan. Karena masih banyak cara untuk menyampaikan pesan pak beye, misalnya lewat Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) atau lewat intansi pendidikan tiap daerah. Karena itulah sistem pemerintahan yang berlaku. Tak heran malah buku-buku itu mengundang reaksi berbagai kalangan dengan memberikan berbagai kehawatiran yang terjadi, seperti penyalahgunaan DAK dan Kampanye politik.

Saya kira reaksi itu tidak terlalu berlebihan, karena justru buku-buku itu diselipkan dalam pendistribusian buku dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Atau anggapan politis, itupun wajar. Karena buku-buku itu mengedepankan sosok pak beye dan ibunda ani.

Akibatnya bisa dirasakan sekarang, siswa bukan lagi tertarik pada buku-buku pelajaran yang baru didistribusikan, namun lebih memilih melihat buku pak beye yang terus disiarkan oleh berbgai media cetak dan elektronik. Jika buku-buku itu berhasil menanamkan rasa simpati siswa ke sosok pak beye, maka itulah yang namanya kampanye politik masturbasi. Mengapa kampanye?, karena terjadi kajian yang lebih subjektif dikalangan siswa. Dan mengapa masturbasi politik?, karena terjadi tindakan politis pada usia remaja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s