Pemimpin Biadab

Biadab, kata itu terlalu kasar jika diucapkan oleh bangsa selugu dan seindah indonesia. Kita patut bersukur hidup dalam sebuah negara yang mengajarkan kesantunan, yang dibungkus oleh hukum positif, agama, norma hingga hukum tersirat dalam sebuah perkampungan yang heterogen. Kesantunan adalah sebagian manifestasi ahlak keumatan atau sosial. Kesantunan juga yang menjadi akar kerukunan. Namun ijinkan saya menulis kata Biadab untuk dihubungkan dengan dewasa ini untuk mengevaluasi, apakah bener kata biadab ini masih menjadi kata kasar untuk dipakai oleh manusia diindonesia!

Untuk menghindari persepsi negatif dari pembaca, saya bersumpah bahwa saat menulis catatan ringan ini tidaklah dalam keadaan stres, atau prustasi, atau dizolimi, hehehe tapi memang saya sadar adanya. Tangan saya mengetik kata biadab justru setelah saya membaca buku-buku kepemimpinan islam dan kepemimpinan terdahulu awal peradaban beberapa negara, seperti kepemimpinan Nabi Muhammad berikut sahabat hingga ke tabiin, buku biografi kepemimpinan bangsa asia, dan juga kepemimpinan sukarno dalam usaha untuk menegakan cirta-cita masyarakat yang kelaparan dan buta hurup diindonesia.

Biadab, tapi memang biadab. Bangsa yang antah berantah ini terus disuguhi dengan kerakusan keuasaan dalam mengolah anggaran pajak para tukang becak dan petani. Sangat biadab, masalah demi masalah seolah menjadi bumbu hormonisasi antar partai politik. Kasus korupsi pajak, hukum yang diperjual belikan, kasus bank century, hingga kasus tempat duduk anggota banggar DPR senilai 20 M.

Para pembaca yang budiman, apakah kita masih alergi jika mendengar kata biadab?, memang para penguasa dinegeri kita beretorika lembut, namun itulah politisi. Karena justru biadab itu terus terjadi diruang kekuasaan bangsa kita. Kebiadaban para penguasa kita tak tanggung-tanggung dengan membuat kesengajaan kita terpuruk, bodoh hingga prustasi sosial.

Terlalu banyak persoalan yang tidak sama sekali berpihak pada masyarakat, seperti kasus agraria disetiap daerah jauh dari ibu kota adalah saksi didepan mata kita. Jika kebiadaban itu terus terjadi, dan jika kite terlena menjadi pendiam dan pemerhati secara intelektual saja, maka inilah yang terjadi. Karena masalah kepemimpinan diindonesia adalah kasuistik, maka sussah sekali kita terus mengandalkan proses intelktual.

Hari ini Kebiadaban Kepemimpinan terus mendapat perlawan dari golongan buruh dan petani, dengan segala jeritan dan fakta utuh mereka membawa nasib untuk dibela. Namun justru penguasa hanya bertindak kerdil dengan mengkriminalkan masyarakat. Apakah itu bukan biadab!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s